Rabu, 09 Mei 2012

RESENSI : SOEKARNO DAN NASAKOM




Judul Buku: “BUNG KARNO dan NASAKOM”
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Garasi Book, Yogyakarta
Cetakan: I, November 2008
Tebal: xii+287 halaman

Pengantar:
Sebelum menjelaskan pandangan penulis (Nurani Soyomukti), bahwa hasil resensi ini bukanlah karya utuh, sebagaimana layaknya tulisan yang baik. Hal ini mencoba untuk mengetrapkan ilmu bahkan saya pribadi mengakui hanya  ingin menjadi bagian  dari komunitas penulis yang sedang belajar. Usaha dan upaya ini didukung  saat kuliah historiografi yang banyak memberikan sumbangsi pemikiran bahkan motivasi bagaimana memandang sebuah karya tulis dan menginterpretasikan secara kritis dan analisis. 
Tulisan Nurani Soyomukti tentang “Soekarno dan Nasakom” perlu di ungkap maksud dan tujuannya apa bahkan nilai-nilai yang tersembunyi didalamnya. Diperlukan teori untuk membuat eksplanasi sejarah yaitu Teori Dekonstruksi (Al-Fayadl, Muhammad,  2005). Penggagasnya yaitu Derida, tujuan dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpangan di balik teks-teks. Sistematika penerapan dekonstruksi dalam berhadapan dengan teks, adalah: Pertama, mengidentifikasi hirarki oposisional dalam teks, di mana biasanya terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematis dan mana yang tidak. 
Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara yang saling bertentangan atau privilesenya dibalik. Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori oposisional lama. Dengan langkah-langkah semacam ini, pembacaan dekonstruktif berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan biasa selalu mencari makna sebenarnya dari teks, atau bahkan terkadang berusaha menemukan makna yang lebih benar, yang teks itu sendiri barangkali tidak pernah memuatnya. Sedangkan pembacaan dekonstruktif ingin mencari ketidakutuhan atau kegagalan setiap upaya teks menutup diri dengan makna atau kebenaran tunggal.
Dalam teori derida ini adalah memproklamirkan  kebebasan (pulralitas dan kemajemukan) untuk mengeksplorasi realitas atau teks yang akan membawa pada keragaman makna atau polisemi.

Interpretasi dan persepsi:
Sasaran dalam buku yang berjudul Bung Karno dan Nasakom menekankan pada kajian : “Mendekonstruksi ideologi Soekarno” yang dijabarkan :
1.      Mengungkap kontadiksi sejarah  perkembangan masyarakat indonesia sebelum Bung Karno Muncul dan saat  bung karno hidup terkait masalah penindasan dan penjajahan
2.      Mengungkap riwayat hidup Bung Karno
3.      Mengunkap Nasakom menurut Bung Karno
Berdasarkan hasil interpretasi dan persepsi digambarkan sebagai berikut:
Ketika mengungkapkan tiga poin yang menjadi pokok bahasan dalam bukunya, tampaknya penulis merasa terbebani oleh ketakutan kalau-kalau  tidak mampu menggambarkan sejarah secara objektif. Karena itulah, tampaknya memfokuskan pada pemikiran politik diambil semata-mata untuk menghindari penafsiran tentang sejarah riwayat hidup yang terlalu individualis. Dengan menghindari sejarah yang individualis penulis berharap dapat menghadirkan sosok Bung Karno dari kebesaran dan kekayaan pandangan ideologisnya yang radikal.
Karena itulah penulis berusaha untuk memilih ’enjel’ berupa sejarah perlawanan Bung Karno dan sejarah perlawanan rakyat, terutama sisi radikalnya. Penulis tampaknya tidak mau masuk ke wilayah-wilayah individual yang kadang memberikan citra negatif bagi tokoh itu. Dari buku-buku tentang Soekarno biasanya kita mendengar berbagai macam tuduhan dan cerita tentang sisi negatif Bung Karno, misalnya Bung Karno itu ”ngacengan” dan tak tahan jika melihat perempuan, Bung Karno pengecut dan antek penjajah Jepang, Bung Karno narsis, Bung Karno itu Jawa kuno yang suka mistik dan seperti raja-raja yang suka mengagung-agungkan diri, dan lain-lain, dan seterusnya.
Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, Soekarno adalah figur terpenting. Dia adalah peletak dasar kemerdekaan dan pencetus Pancasila, sang proklamator kemerdekaan, serta seorang ideolog yang mumpuni. Pidato-pidatonya mampu menggugah dan menggerakkan massa untuk mengikuti apa kebijakan yang harus ditempuh sang Presiden. Karena sejak muda Soekarno sudah berkenalan dengan banyak budaya dan ideologi, tentu saja perjalanan hidupnya juga sangat mempengaruhi pemikiran ideologisnya.
Menekankan pada pemikiran ideologi Bung Karno tampaknya merupakan pilihan yang tepat. Dan itulah yang menyebabkan buku ini fokus dengan tema yang diangkat, dengan kemampuan eksplorasi yang menunjukkan kematangan penulis sebagai seorang intelektual muda yang konsisten dengan tema-tema ideologi politik dan gerakan sosial-politik. Penekanan pada pemikiran dan tindakan radikal anti-penjajahan asing itulah yang saat ini memang dibutuhkan; Ada baiknya kita menonjolkan berbagai kisah yang membuat mereka percaya diri dan menirunya. Fakta bahwa Bung Karno adalah tokoh radikal, Kiri, idealis dan romantis dalam dirinya yang terus berjuang diangkat secara nyata dalam buku ini.
Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) adalah tiga aliran yang disatukan oleh Bung Karno dan dianggap sebagai pemersatu—dan ideologi itu pulalah yang menjelaskan kenapa Bung Karno menjadi radikal sejak muda hingga tuanya. Di masa muda ia berkali-kali masuk penjara karena keberaniannya melawan penjajah. Di masa tuanya, terutama sejak akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an, ia justru menjadi lebih radikal lagi. Yang berusaha ditelusuri oleh penulis adalah kenapa Bung Karno bisa menjadikan tiga ideologi yang berbeda menjadi satu kesatuan, pada hal di kalangan tokoh-tokoh lainnya tidak mungkin ketiga ideologi itu disatukan. Tentu hal itu tak lepas dari kepentingan Bung Karno serta latarbelakang hidupnya. Menelusuri berbagai macam literatur, maka diketahui bahwa Nasakom adalah ideologi yang melekat karena Soekarno memang bukan orang lain. Bung Karno adalah tokoh yang “sanggup mensintesis pendidikan secara modern dengan kebudayaan animistik purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnya menjadi pesan-pesan pengharapan yang hidup dan dapat dihirup sesuai dengan pengertian dari rakyat kampung. Hasil dari semua ini dinamakan orang—dalam istilah biasa—Sukarnoisme”
Membaca dari awal hingga akhir buku ini, akan kita dapatkan fakta yang tak terbantahkan bahwa Bung Karno tetaplah seorang yang radikal hingga menjelang akhir hayatnya. Ia tetap melihat ancaman imperialisme terhadap Indonesia—dan kemampuan itu tak dimiliki oleh para pimpinan negeri ini sekarang. Bung Karno adalah orang yang demokratis karena tidak hitam-putih dalam melihat persoalan. Cita-cita NASAKOM (Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme) adalah warisannya, wasiatnya, yang harus kita terima sebagai senjata pemersatu dan alat membangun negeri. Ketiga ide(ologi) itu adalah produk sejarah (perlawanan) bangsa ini sepanjang bangsa ini lahir dan terus saja berhadapan dengan penjajahan. Selama penjajahan ada, maka NASAKOM akan tetap menjangkiti kita—entah sadar atau tidak!
Memahami ajaran nasionalisme  bung karno bukan sekedar mewarisi semangat cinta tanah air dan semnagat untuk menjaga persatuan dan kesataun. Mewarisi semangat soekrno adalah  semangat anti penjajah dan keadilan ekonomi.
Nasionalismenya bung karno bukanlah nasionalismenya orang barat. Baginya nasionalisme indonesia menurut bung karno berbeda dengan nasionlisme barat . nasionalisme barat adalah nasionalisme borjuis yang lahir bersamaan dengan semangat kebebasan kaum pemilik modal. Baginya nasionalisme borjois adalah nasionalisme basa-basi atau nasionalime palsu. Nasionalisme borjuis adalah nasionalisme  untuk memperalat rakyat demi proyek demi kepentingan sendiri. Jadi Nasionalisme barat melahirkan kapitalisme dan imperialisme yang telah terbukti menghisap, merampas dan menjajah.
Nasionalisme yang diharapkan oleh soekarno adalah nasionalisme sejati yang lahir semangat untuk menuntut keadilan dan melawan penindasan. Nasionalisme ala bung Karno adalah nasionalisme yang diikuti dengan demokrasi secara ekonomi dan politik.
Memahami dan mempraktekkan nasionalisme secara benar, Islam secara benar, dan komunisme secara benar, serta tidak mempertentangkan antara ketiganya, akan menghasilkan energi atau kekuatan anti-penjajahan yang luar biasa. Tetapi, mempraktekkan ketiganya secara tidak benar, atau hanya memanipulasi ketiganya untuk kepentingan politik sempit, justru akan mempercepat bangsa ini menuju lubang pembantaiannya.
Saat ini kita menghadapi nasionalisme palsu dan sempit, nasionalisme untuk membohongi rakyat! Saat ini kita menghadapi Islam palsu dan sempit, yang hanya kelihatan wajah teroristiknya, formalitas kosongnya, hingga Islam politik yang berwajah memalukan! Saat ini kita berhadapan dengan orang-orang yang sok komunis dan menggunakan komunisme untuk menakut-nakuti di satu sisi, atau anak-anak muda yang sok komunis!
Maka, dengan memahami pikiran Bung Karno kita akan mengetahui siapakah nasionalis sejati, Islamis sejati, dan komunis sejati—yaitu mereka yang memiliki semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari tangan imperialis, yang menghormati perbedaan kepercayaan dan suku, yang tidak memaksakan cara-cara kekerasan yang tidak efektif, yang terlalu jauh meninggalkan kesadaran massa!

Sumber  :
Miskawi. 2012. Resensi: Soekarno dan Nasakom dalam http://www.fkip.untag banyuwangi.ac.id/Loker/resensi-soekarno-dan-nasakom.html di unduh kamis 05 April 2012.

Sumber pendukung:
1.      Adian, Donny Gahral. 2005. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra,
2.      Al-Fayadl, Muhammad. 2005. Derrida. Yogyakarta: LKiS,
3.      Badri Yatim. Soekarno, islam dan Nasionalisme.inti sarana aksara. Jakarta.1985
4.      Cindy Adams . bung karno penyambung lidah rakyat. Gunung agung. Jakarta. 1984
5.      Yudi Latief. Menyemai karakter bangsa. Kompas. 2009
6.      Yulianto Sigit Wibowo. Marhenisme Ideologi perjuangan Soekarno. Buana Pustaka. 2005
7.      Mulyamin karim. Merajut Nusantara rindu pancasila. Kompas 2010
8.      Soekarno (indonesia menggugat, 1961; dibawah bendera revolusi, 1964; amanah proklamasi, 1982).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar