Rabu, 27 Juni 2012

Bung Karno: Surabaya Dapur Nasionalisme

Surabaya Dapur Nasionalisme


BAB IV: Surabaya Dapur Nasionalisme

DARI jenis binatang pra sejarah yang digali di kepulauan kami, ahli‐ahli purbakala membuktikan bahwa
setengah juta tahun yang lalu pulau Jawa sudah didiami orang. Kebudayaan kami adalah kebudayaan
purba. Bukalah buku Ramayana. Di dalamnya orang akan membaca keterangan mengenai “Negeri Suarna
Dwipa yang mempunyai tujuh buah kerajaan besar”. Suarna Dwipa, yang berarti pulau‐pulau emas,
adalah nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam cerita‐cerita klasik Hindu duaribu limaratus
tahun yang lalu. Dari abad kesembilan ketika negeri kami bernama Keradjaan Sriwijaya sampai abad
keempatbelas waktu negeri kami bernama Majapahit, kami punya “negeri yang terkenal makmur telah
mencapai tingkatan ilmu yang demikian tinggi sehingga menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh
dunia beradab”. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam surat‐surat, gulung perkamen yang
berharga dari negeri Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudayaan seluruh Asia. Negeri
kami masih tersohor dalam lingkungan internasional ketika Christopher Columbus mencari kepulauan.
Rempah‐rempah gugusan pulau‐pulau yang sekarang kita namakan Kepulauan Maluku. Seumpama
Columbus tidak berlayar mencari jahe, buah pala, lada dan cengkeh kami dan tidak sesat pula di jalan,
tentu dia tidak akan menemukan benua Amerika. Ketika jalan laut menudju Hindia akhirnya ditemukan
orang, modal asing mengerumuni pantai kami, seperti semut mengerumuni tempat gula. Dari Lisboa
datanglah Vasco’da Gama. Dari negeri Belanda Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik tanda
dimulainya “Revolusi Perdagangan” di Eropa.
Kapitalisme ini tumbah hingga ia mengenyangkan lapangan eksploitasi dalam masyarakat mereka
sendiri. Barang‐barang yang sebelumnya diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; jadi
Timur menjadi pasar‐pasar tambahan untuk barang‐barang berlebih. Daerah Timur menjadi suatu pasar
untuk modal berlebih yang tidak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu
membawa Liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu
negara itu harus ditaklukkan. Pedagang‐pedagang menjadi penakluk; bangsa‐bangsa Asia‐Afrika dijajah
dan kelobaan ini membuka pintu kepada jaman Imperialisme. Jawa diduduki diabad ke 16; Maluku diabad
ke 17 dan lambat laun Negeri Belanda menguasai kepulauan kami secara berturut‐turut hingga ke Bali
yang baru dikuasai di tahun 1906. Dengan cepat kekuasaan asing menanamkan akar‐akarnya. Mereka
mengambil kekayaan kami, mengikis kepribadian kami dan musnalah Putera‐puteri harapan bangsa dari
suatu Bangsa yang Besar yang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, menciptakan tari. Kami tidak
lagi dikenal oleh dunia luar, kecuali oleh penghisap‐penghisap dari Barat yang mencari kemewahan di
Hindia. Akibat daripada Imperialisme sungguh jahat sekali. Orang laki‐laki diambil dari rumahnya dan
dipaksa menjadi budak di pulau‐pulau yang jauh, dimana terdapat kekurangan tenaga manusia.
Perempuan‐perempuan dipaksa bekerja di kebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan
pekerjaannya, sekalipun melahirkan
pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah yang lunak dan murah terbuat dari kacang kedele yang
diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Itulah kami jadinya. Kami terus‐menerus dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai otak seperti kapas. Kami menjadi pengecut; takut duduk, takut berdiri,
karena apapun yang kami lakukan selalu salah. Kaml menjadi rakyat seperti dodol dengan hati yang kecil.
Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami menjadi suatu bangsa yang hanya dapat
membisikkan, “Ya tuan”, Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa‐bawa oleh sifat rendah diri,
yang masih saja mereka pegang teguh secara tidak sadar. Hal itu menyebabkan kemarahanku baru‐baru
ini. Wanita‐wanita dari kabinetku selalu menyediakan jualan makanan Eropa. “Kita mempunyai panganan
enak kepunyaan kita sendiri,” kataku dengan marah.
“Mengapa tidak itu saja dihidangkan?”. “Ma’af, Pak,” kata mereka dengan penyesalan, “Tentu bikin malu
kita saja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita yang melarat.” Ini adalah suatu
pemantulan kembali dan pada jaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah diri kami
yang telah berabad‐abad umurnya kembali memperlihatkan diri. Ejekan yang terus‐menerus dipompakan
oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menyebabkan kami yakin akan hal
tersebut. Dan keyakinan bahwa engkau bangsa yang hina, lagi bodoh adalah suatu senjata yang ada
dalam tangan penjajah. lmperialisme adaIah kumpulan kekuatan jahat yang nampak dan yang tidak
nampak. Penindasan yang sudah demikian lama dirasakan menyebabkan bangkitnya suatu masa para
pelopor. Sun Yat Sen mendirikan Gerakan Nasional Tiongkok di tahun 1885. Kongres Nasional India: di
tahun 1887. Aguinaldo dan Rizal membangkitkan Filipina. Di tahun‐tahun permulaan abad ke‐20.
Seluruh Asia bangkit dan di abad keduapulah yang megah ini, dalam mana isolasi tidak akan terjadi lagi,
maka bangsa Indonesia yang lemah dan pemalu itupun dapat merasakan gelora daripada kebangkitan ini.
Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Jawa menyusun partai nasional yang pertama dengan nama
“Budi Utomo”, yang artinya “Usaha yang Suci”. Di tahun 1912 organisasi ini memberi jalan kepada Sarekat
Islam yang mempunyai anggota sebanyak dua setengah juta orang dibawah pimpinan H.O.S. Tjokro
Aminoto. Bangsa Indonesia yang menderita secara perseorangan sekarang mulai menyatukan diri dan
persatuan nasional mulai tersebar. Ia lahir di Jakarta, akan tetapi sang bayi baru pertamakali
melangkahkan kakinya di Surabaya. Di tahun 1916 maka Surabaya merupakan kota pelabuhan yang
sangat sibuk dan ribut, lebih menyerupai kota New York. Pelabuhannya baik dan menjadi pusat
perdagangan yang aktif. Ia menjadi suatu kota industri yang penting dengan pertukaran yang cepat dalam
perdagangan gula, teh, tembakau, kopi. Ia menjadi kota tempat perlombaan dagang yang kuat dan
orang‐orang Tionghoa yang cerdas ditambah dengan arus yang besar dan para pelaut dan pedagang yang
membawa berita‐berita dari segala penjuru dunia. Penduduknya semakin bertambah, terdiri dari pekerja
pelabuhan dan pekerja bengkel yang masih muda‐muda dan yang bersemangat menyala‐nyala. la
menjadi kota dimana bergolak persaingan, pemboikotan, perkelahian di jalan‐jalan. Kota itu bergolak
dengan ketidakpuasan dari orang‐orang revolusioner. Ke tengah‐tengah kancah yang mendidih demikian
itulah seorang anak ibu berumur 15 tahun masuk dengan menjinjing sebuah tas kecil.
Keluarga Tjokroaminoto terdiri dari enam orang. Yaitu Pak dan Bu Tjokro, anak‐anaknya Harsono yang 12
tahun lebih muda daripadaku, Anwar 10 tahun lebih muda, puteri mereka Utari lima tahun lebih muda dan
seorang bayi, Pak Tjokro semata‐mata bekerja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannya tidak
banyak. Dia tinggal di kampung yang penuh sesak tidak jauh dari sebuah kali. Menyimpang dari jalanan
yang sejajar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri‐kanannya dan ia terlalu sempit
untuk jalan mobil. Gang kami namanya Gang 7 Peneleh. Pada seperempat jalan jauhnya masuk ke gang
itu berdirilah sebuah rumah buruk dengan paviliun setengah melekat. Rumah itu dibagi menjadi sepuluh
kamar‐kamar kecil, termasuk ruang loteng.
Keluarga Pak Tjokro tinggal di depan; kami yang bayar makan di belakang. Sungguhpun semua kamar
sama melaratnya, akan tetapi anak‐anak yang sudah bertahun‐tahun bayar makan mendapat kamar yang
namanya saja lebih baik. Kamarku tidak pakai jendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus‐menerus sekalipun di siang hari. Duniaku yang
gelap ini mempunyai sebuah meja goyah tempatku menyimpan buku, sebuah kursi kayu, sangkutan baju
dan sehelai tikar rumput. Tidak ada kasur. Dan tidak ada bantal. Surabaya di waktu itu sudah menikmati
kemegahan lampu listrik. Setiap kamar mempunyai fitting dan setiap pembajar‐makan membajar ekstra
untuk lampu. Hanya kamarku yang tidak punya. Aku tidak punya uang untuk membeli bolanya. Aku
belajar sampai jauh malam dengan memakai pelita. Bahkan akupun tidak mampu membeli kelambu
untuk menutupi balai‐balai dan supaya terhindar dari nyamuk. Kamar itu kecil seperti kandang ayam.
Tidak ada udara segar dan menjadi sarang serangga. Akan tetapi karena tak ada orang lain yang mau
tinggal denganku di kamar yang gelap itu, maka setidak‐tidaknya aku dapat memilikinya untuk diriku
sendiri.
Sewanya 11 rupiah, termasuk makan. Atau secara perhitungan kasarnya empat dolar sebulan. Bapak
mengirimiku uang duabelas rupiah setengah, dengan sisanya limapuluh sen untuk uang saku. Di tahun
1917 bapak dipindahkan ke Blitar. Karena pemindahan ini merupakan kenaikan jabatan, nasib bapak
berubah sedikit. Oleh sebab itu ia dapat mengirimiku $ 1,50 untuk uang saku setiap bulannya. Memang
sukar bagi seorang inlander untuk memasuki H.B.S. Disamping $ 15,00 sebulan untuk uang sekolah dan
pet seragam bertuliskan H.B.S., kami harus membayar lagi $ 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku
ingat betul jumlah ini, karena aku menghitung setiap rupiahnya. Kujaga agar jangan ada yang terpakai
secara tidak disengaja. Walaupun aku anak yang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang
hanya kalau dalam kesempitan saja. Kukira ini sama saja dengan setiap anak muda, bukan? Dengan tidak
usah membuka surat‐suratku terlebih dulu bapakpun sudah tahu isinya, bahwa si Karno minta uang.
Suratku kepada orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis yang itu‐itu juga dan tidak pernah
berubah‐ubah: “Bapak dan lbu yang tercinta saya berada dalam keadaan sehat‐sehat saja dan harapan
saja tentu agar Bapak dan Ibu keduanya demikian pula hendaknya.”
Kemudian setelah salam itu, dibaris yang ketiga aku langsung menyampaikan maksud yang terpenting.
Aku menulis, “Sekarang saya sedang kekurangan uang. Apakah Bapak dan lbu dapat mengirimi barang
sedikit?” Disamping ibuku yang penyayang itu selalu mengirimiku secara diam‐diam satu atau dua rupiah
bila ia punya uang, akupun mengusahakan sumber lain. Pak Poegoeh, suami kakakku. Mereka tinggal
sekira 50 kilometer dari Surabaya dan Pak Poegoeh selalu memberiku uang lima rupiah untuk ongkos
pulang. Karena uang itu tidak habis semua untuk ongkos perjalanan, maka aku sering menemui mereka.
Pak Poegoeh enam tahun lebih tua daripadaku dan bekerja di kantor irigasi dari Departemen Pekerjaan
Umum. Sekalipun kami seperti kakak beradik, aku tak pernah minta bantuan uang kepadanya secara
terang‐terangan. Cara orang Jawa kebanyakan tidak langsung. Kuminta kepada kakakku yang
menyampaikannya pula kepadanya. Dan permintaan ini kupikirkan lebih dulu semasak‐masaknya. Aku
tak pernah meminta di luar batas yang kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah.
Sebagai hasil dari kebijaksanaan semacam ini aku kadang‐kadang mendapat lebih dari pada yang
kuminta. Terasa hari libur sangat menyenangkan apabila hadiah itu datang karena aku lalu bisa menjamu
kawan‐kawanku dengan kopi atau jajan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh. Setiap anak
mempunyai sepeda. Aku sendiri yang tidak. Biasanya aku membonceng dengan salah seorang kawan
atau berjalan kaki. Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan
rupiah, kubeli Fongers yang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnya bagai
seorang ibu. Ia kugosok‐gosok. Kupegang‐pegang. Kubelai‐belai. Pada suatu kali Harsono yang berumur
tujuh tahun secara diam‐diam memakai sepedaku itu dan menabrakkannya ke pohon kayu. Seluruh
bagian mukanya patah. Harsono ketakutan. Ia tidak berani mengatakan padaku, dan ketika aku
mendengar berita itu, kusepak pantatnya dengan keras. Kasihan Harsono. Ia menangis. Ia berteriak.
Berminggu‐minggu lamanya aku tergoncang oleh Fongersku yang hitam mengkilat itu yang sekarang
sudah bengkok‐bengkok. Akhirnya aku dapat mengumpulkan delapan rupiah lagi dan membeli lagi sepeda yang lain tapi untuk Harsono. Sekali dalam seminggu aku menikmati satu‐satunya kesenanganku
Film, Aku sangat menyukaina. Betapapun, caraku menonton sangat berbeda dengan anak‐anak Belanda.
Aku duduk ditempat yang paling murah. Coba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanya dapat
menyewa tempat di belakang layar. Kaudengar?, Di belakang layar!! Di waktu itu belum ada film bicara,
jadi aku harus membaca teksnya dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda! lama‐kelamaan aku
menjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan cepat membaca teks itu dari kanan ke kiri.
Aku tidak peduli, karena tak ada cara lain lagi. Bahkan aku bersyukur karena masih bisa menyaksikannya.
Saat satu‐satunya yang menyebabkan aku kecewa ialah, bila dipertunjukkan film adu tinju. Aku sama
sekali tak dapat menaksir, tangan siapa yang melakukan pukulan.
Dimasa itu “Yankee Doodle” yang menjadi lagu kegemaranku. Mereka memutarnya pada tiap istirahat
dan sambil duduk seorang diri dalam gelap di belakang layar aku menyanjikannya dengan lunak untuk
diriku sendiri. Sampai sekarang aku masih menyanyikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang ke
kota kami. Dalam pertunjukan itu mereka melepaskan merpati‐merpati dan kalau ada yang hinggap di
bahu seseorang, itulah yang memenangkan hadiah. Kami segera mengetahui bahwa, ketika burung itu
hinggap pada teman kami, yang sama‐sama bayar makan, hadiahnya seekor kuda. Jadi berkupullah kami,
Suarli pemenang yang beruntung itu, kami pemuda lainnya sebanyak setengah lusin dan seekor kuda tua
yang sudah letih. Kami tidak dapat akal akan diapakan kuda itu. Tapi kami harus membawanya keluar,
karena itu kami bawa ia pulang. Di bagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada jalan
untuk bisa sampai ke tempat itu kecuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi
muka dan rumah Pemimpin Besar Rakyat Jawa dan mempawaikan kuda kami melalui kamar duduk, terus
ke halaman belakang dimana ia ditambatkan ke batang sawo.
Tak seorangpun di antara kami yang punya uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut
itu kepunyaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli menjualnya. Kecuali satu sirkus dan film,
masa itu bukanlah masa yang menggembirakan bagiku. Aku tidak mempunyai kesenangan semasa
mudaku. Aku terlalu serius. Aku tidak mengikuti kesenangan seperti yang dialami oleh anak‐anak sekolah
yang lain. Mungkin apa yang dinamakan tindakan kegila‐gilaan sebagaimana yang dituduhkan kepadaku
sekarang, adalah semacam imbangan untuk mengejar kerugian di masa muda. Tidak ada kesenangankesenangan
yang menyegarkan dalam kehidupanku hingga aku berumur 50 tahun. Kegembiraan yang
kucari sekarang mungkin sebagai usahaku untuk menutupi segala sesuatu yang tidak pernah kunikmati di
masa muda, sebelum waktunya terlambat. Aku tidak tahu dengan pasti. Aku tak pernah memikirkannya
hingga datang waktunya bagiku untuk menjalankan pembedahan diri dengan jalan otobiografi ini.
Bagaimanapun juga, ini adalah percakapan antara kita antara engkau, pembaca, denganku. Dan karena
aku berbicara dan gelora hati yang meluap‐luap, kemudian merenungkan semua ini sebagai kesedihanku
di masa yang silam, aku merasa mungkin juga benar bahwa aku sedang berusaha mengimbangi
kekurangan diriku sendiri sekarang. Pendeknya, aku tidak mengalami masa senang di Surabaya. Pada
waktu aku mula datang, aku menangis setiap hari. Ah, aku sangat kehilangan ibu tak dapat kuceritakan
kepadamu betapa Wanita senantiasa memberikan pengaruh yang besar dalam hidupku. Sekarang, aku
tidak punya ibu, tidak ada nenek untuk membujukku yang selamanya mengagumiku, tidak ada Sarinah
yang dengan tekun menjagaku. Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro adalah seorang wanita yang manis
dengan perawakan kecil bagus. Dia sendirilah yang mengumpulkan uang makan kami saban minggu.
Dialah yang membuat peraturan seperti: (l) Makan malam jam sembilan dan barangsiapa yang datang
terlambat tidak dapat makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada di kamarnya jam 10 malam. (3) Anak
sekolah harus bangun jam empat pagi untuk belajar. (4) Main‐main dengan anak gadis dilarang. Aku
memelihara hubungan rapat dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat
memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena memerlukan hati seorang perempuan, aku menoleh pada
Mbok Tambeng, perempuan pembantu rumah tangga, untuk menghiburku. Dia menjadi pengganti ibuku. Dia menambal celanaku. Dia tahu bahwa gado‐gado adalah kegemaranku, karena itu dia suka
menyusupkan ekstra untukku. Mbok sayang kepadaku, tapi ah! aku sangat merindukan kasih sayang itu.
Masih saja si Mbok tidak bisa menjadi penghibur yang cukup bagi seorang anak yang halus perasaannya.
Jiwaku menjerit‐jerit mencari kepercayaan hati, bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh.
Pak Tjokro bukanlah orangnya.
Seorang pemimpin hanya tertarik pada soal‐soal politik. Bahunya bukanlah tempat bersandar untuk
menangis. Atau tangannya bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak. Sekalipun demikian Pak
Tjokro sangat senang kepadaku. Kasih sajangnya ini dinyatakannya terutama di musim kemarau tahun
1918. Biasanya aku pulang mengunjungi orang tuaku dalam waktu libur. Dalam dua bulan libur tinggal di
Blitar aku merencanakan pergi ke tempat kawan‐kawan untuk sehari di Wlingi, yang jaraknya 20
kilometer dari Blitar. Semua rencana telah disiapkan dan dengan keinginan yang besar menghadapi
tujuan aku melambai kepada bapak, mencium ibu dan memulai perjalananku. Aku baru saja sampai di
rumah kawan‐kawanku ketika bahana menggemuruh yang menakutkan memenuhi angkasa dan tanah
bergoncang‐goncang di bawah kakiku. Perempuan‐perempuan tua yang ketakutan, anak‐anak yang
menjerit dan para pekerja yang letih oleh membanting tulang terpencar keluar dari pondok‐pondok
mereka menuju kampung yang penuh sesak. Ketakutan, kebingungan dan kekacauan menghinggapi
rakyat kampung.
Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mencari saat itu untuk menunjukkan kemurkaan dari
Dewa‐dewa. Langit menjadi hitam oleh arang dan abu bermil‐mil jauhnya. Di mana‐mana ledakan lahar.
Daerah itu diselubungi oleh asap, api dan racun. Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih‐didih
mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana antara Blitar
dan Wlingi. Banyak orang yang mati. Aku sangat kuatir karena kutahu orang tuaku tentu sangat susah
memikirkan diriku …. Hidupkah dia …. Matikah dia. Mereka sadar, bahwa anaknya berada tepat di jalan
dimana gunung itu memuntahkan isinya dan mereka tidak dapat memperoleh berita. Sementara itu aku
mendengar, bahwa separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran
tentang apakah yang mungkin terjadi terhadap orang tuaku. Aku harus kembali secepat mungkin, akan
tetapi tidak ada kendaraan yang bagaimanapun bentuknya yang dapat menyeberangi lautan lahar yang
menggelora itu. Akhirnja, satu‐satunya jalan yang harus ditempuh ialah dengan mengarunginya berjalan
kaki. Selagi lahar masih agak panas, aku mulai melangkahkan kaki menuju jalan pulang. Aku masih jauh
ketika mereka menampakku, lalu datang berlari‐lari menyongsongku di tengah jalan. Mereka
memelukku. Mereka menciumku.
Mereka mengelus pipiku. “0, engkau masih hidup,” teriak bapak. “Engkau masih hidup engkau masih
hidup.” Ibu menangis. Aku merangkul orang tuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira,
gembira sekali bertemu satu sama lain. Di Surabaya, Pak Tjokro pun rupanya merasa cemas memikirkan
keadaanku. Ia menaiki mobilnya dan melakukan perjalanan sehari penuh hanya karena hendak
mengetahui bagaimana keadaanku. Mula‐mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami
selamat, akan tetapi rumah itu sudah menjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Jalan Sultan Agung
53 ia hanya mendapati rumah kosong sama sekali. Kecuali beberapa ekor burung‐burung kecil. Ia jadi
sangat bingung sebelum bertemu dengan kami. Jadi aku menyadari bahwa Pak Tjokro mencintaiku
dengan caranya sendiri. Hanya caranya itu tidak cukup bagi seorang anak yang kesepian. Ia jarang
berbicara denganku. Bahkan aku jarang melihatnya. Ia tidak mempunyai waktu yang senggang. Kalau ia
di rumah tentu ada tamu atau ia bersamadi dalam kesunyian.
Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaya. Pak Tjokro mengajarku
tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang
tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita‐cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah
darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku.
Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku‐bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinya kepada pribadiku
yang sangat kuharapkan. Karena tak seorangpun yang mencintaiku seperti yang kuidamkan, aku mulai
mundur. Kenyataan‐kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan
kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris “Dunia
Pemikiran”. Buku‐buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh
kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus‐asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia
kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat
hidup dan sedikit bergembira. Selurah waktu kupergunakan untuk membaca. Sementara yang lain
bermain‐main, aku belajar. Aku mengejar ilmu pengetahuan di samping pelajaran sekolah. Kami
mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di kota ini yang diselenggarakan oleh Perkumpulan
Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada
batasnya buat seorang anak yang miskin.
Aku menyelam sama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang‐orang
besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita‐cita mereka adalah pendirian dasarku. Secara
mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena dia
berceritera kepadaku tentang Declaration of Independence yang ditulisnya ditahun 1776. Aku
memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perjalanan Paul
Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan‐kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga
aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia. Pada waktu sekarang, apabila ada orang menegur, “Hai
Sukarno, mengapa engkau tidak suka kepada Amerika?” maka aku akan menjawab: “Apabila engkau
mengenal Sukarno, engkau tidak akan mengajukan pertanyaan itu? Masa mudaku kupergunakan untuk
memuja bapak‐bapak perintis dari Amerika. Aku ingin berlomba dengan pahlawan‐pahlawannya. Aku
mencintai rakyatnya. Dan aku masih mencintainya. Bahkan sekarangpun aku masih membaca majalah
Amerika dari “Vogue” sampai ke “Nugget”. Aku akan selalu merasa berkawan dengan Amerika. Ya,
berkawan. Aku mengatakannya secara terbuka. Aku menuliskan tentang diriku sendiri. Kunyatakan ini
dengan tercetak. Suatu pendirian dasar seperti yang kumiliki takkan dapat membiarkanku tidak berkawan
dengan Amerika. Di dalam dunia pemikiranku akupun berbicara dengan Gladstone dari Britannia
ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris aku berhadapan
muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari
Austria.
Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean
Jacques Rousseau’ Aristide Briand’ dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Aku
meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah
Danton pejuang besar dari Revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam
kamarku yang gelap. Aku menjadi tersangkut secara emosional dengan negarawan‐negarawan ini. Di
sekolah kami mendengarkan pelajaran tentang pengadilan rakyat dari bangsa Yunani kuno. Ia melekat
dalam pikiranku. Aku membayangkan pemikir‐pemikir yang sedang marah selagi berpidato dan
meneriakkan semboyan‐semboyan seperti “Persetan dengan Penindasan” dan “Hidup Kemerdekaan”.
Hatiku terbakar menyala‐nyala. Macam itu, ketika semua orang sudah mengunci pintu, kamar kandang
ayamku menjadi ruang pengadilan aku sebagai seorang pemuda Yunani yang terbakar oleh antusiasme.
Sambil berdiri di atas mejaku yang goyah aku ikut terbawa oleh perasaan. Aku mulai berteriak Selagi aku
berpidato dengan sangat keras kepada tak seorangpun, kepala‐kepala berjuluran keluar pintu, mata
bertonjolan dari kepala dan terdengar suara anak‐anak muda berteriak dalam gelap’ “Hei, No, kau gila?.
Ada apa….Hei, apa kau sakit?” dan kemudian tukang‐tukang sorak itu kembali pada jawabannya sendiri,
“Ah, tidak ada apa‐apa. Cuma si No mau menyelamatkan dunia lagi”, dan satu demi satu pintu‐pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan. Pada waktu aku semakin mendekati
kedewasaan, duniaku di dalam semakin lebar dan mencakup pula kawan‐kawan dari Tjokroaminoto.
Setiap hari para pemimpin dari partai lain atau pemimpin cabang Sarekat Islam datang bertamu. Dan
setiap kali mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan‐kawanku serumah keluar
menyaksikan pertandingan bola, aku duduk dekat kaki orang‐orang ini dan mendengarkan.
Kadang‐kadang kubagi tempat tidurku dengan salah seorang pemimpin itu dan minum dari mata air
keahlian
mereka hingga waktu fajar. Aku menyukai waktu makan, Kami makan secara satu keluarga, jadi aku
dapat mengikuti dan meresapkan percakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah di sekeliling
meda, aku bahkan kadang‐kadang berani mengajukan pertanyaan. Mahaputera‐mahaputera ini puteraputera
yang besar dari rakyat Indonesia, tidak mengacuhkanku karena aku masih anak‐anak. Sekali pada
waktu makan malam mereka mempersoalkan tentang kapitalisme dan tentang barang‐barang yang
diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaya Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanya pelahan,
“Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?”, “Anak ini sangat ingin tahu,” senyum Pak Tjok,
kemudian menambahkan, “De Vereenigde Oost Indische Compagnie menyedot — atau mencuri— kirakira
1800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag. “Apa yang tinggal di
negeri kita?” kali ini aku bertanya lebih keras sedikit. “Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati
kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, yaitu orang yang memperkenalkanku kepada
Marxisme. “Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa‐bangsa,” sela kawannya yang
bernama Muso. “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi‐mosi
kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan kelihatan senang karena mempunyai murid yang
begitu bersemangat. “Pengurangan pajak dan serikat‐serikat sekerja hanya dapat digerakkan dengan
kooperasi dengan Belanda —sekalipun kita membenci kerjasama ini.” Tapi apakah baik untuk membenci
seseorang sekalipun ia orang Belanda?”. “Kita tidak membenci rakyatnya,” dia memperbaiki, “Kita
membenci sistem pemerintahan Kolonial.” Mengapa nasib kita tidak berubah jika rakyat kita telah
berjuang melawan sistem ini sejak berabad‐abad?”. “Karena pahlawan‐pahlawan kita selalu berjuang
sendiri‐sendiri. Masing‐masing berperang dengan pengikut yang kecil di daerah yang terbatas,” Alimin
menjawab. ” 0, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli pikir India, Swami Vivekananda, menulis,
“Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Aku mulai
menerapkan apa‐apa yang telah kubaca kepada apa yang telah kudengar. Aku memperbandingkan
antara peradaban yang megah dari pikiranku dengan tanah airku sendiri yang sudah bobrok. Setapak
demi setapak aku menjadi seorang pencinta tanah air yang menyala‐nyala dan menyadari bahwa tidak
ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri ke dalam dunia
khayal. Aku menghadapi kenyataan bahwa negeriku miskin, malang dan dihinakan. Aku
berjalan‐jalan seorang diri dan merenungkan tentang apa yang sedang berputar dalam otakku. Satu jam
lamanya aku berdiri tak bergerak di atas jembatan kecil yang melintasi sungai kecil dan memandangi
iring‐iringan manusia yang tak henti‐hentinya. Aku melihat rakyat tani dengan kaki ayam berjalan lesu
menuju pondoknya yang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mencekam di atas kereta terbuka
yang ditarik oleh dua ekor kuda yang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulit putih kelihatan bersihbersih,
sedang saudara‐saudaranya yang berkulit sawo matang begitu kotor, badannya berbau, bajunya
compang‐camping, anak‐anak mereka jorok‐jorok. Aku bertanya dalam hati, apakah orang bisa tetap
bersih apabila mereka tidak punya pakaian lain untuk penggantinya.
Kuhisap masuk tubuhku bau daripada sisa makanan yang sudah busuk dan bau selokan‐selokan yang
melemaskan, dan kulekatkan dengan kuat di dalam lobang hidungku bau busuk daripada kemelaratan
rakyatku, sehingga sekalipun aku pergi 10.000 mil dari sungai aku masih tetap menciumnya. Aku
memandang ke dalam keputusasaan dari setiap laki‐laki dan perempuan yang kulihat. Aku terhanyut bersama rakyatku. Rakyatku yang miskin lagi papa. Dari jembatan aku menoleh ke arah massa yang
seperti semut banyaknya dan aku mengerti sejelas‐jelasnya, bahwa inilah kekuatan kami. Dan aku
menyadari sesadar‐sadarnya akan penderitaan mereka. Sekalipun anak kecil tak akan dapat menahan
rawan hatinya pada waktu pertama kali melihat kata‐kata peringatan di kolam‐renang yang berbunyi,
“Terlarang bagi anjing dan bumiputera.” Anjing didahulukan. Dapatkah seorang manusia tidak
tersinggung perasaannya, apabila seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada
setiap Belanda yang menaiki tremnya? Aku seorang anak berumur 14 tahun ketika mukaku ditampar oleh
seorang anak berhidung panjang, tak lain hanya disebabkan karena aku seorang inlander. Apakah
menurut pendapatmu tindakan‐tindakan yang demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati?
Ya, aku mempunyai kesadaran sebagai seorang anak. Aku memulai persembahan hidupku ini pada umur
16 tahun. Perkumpulan politik yang pertama kudirikan adalah Tri Koro Darmo yang berarti “Tiga Tujuan
Suci” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial yang kami cari. Ini pada dasarnya
adalah suatu organisasi sosial dari para pelajar seumurku. Jong Java, sebagai langkah kedua, mempunyai
dasar yang lebih luas. Begitupun pergaulan sosial kami berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri
untuk memperkembangkan kebudayaan asli seperti mengajarkan tari Jawa atau mengajar main gamelan.
Jong Java pun banyak melakukan pekerjaan‐pekerjaan sosial. Kami pergi ke kampung‐kampung yang
berdekatan untuk mengumpulkan dana bagi sekolah atau untuk membantu korban bencana letusan
gunung. Kami mengadakan pertunjukan di tempat tempat yang memerlukan pertolongan dan
mengeluarkan biaya‐biaya itu dari hasil uang masuk. “Harus kuakui sekarang, bahwa tampangku di masa
muda sangat tampan sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanya sedikit wanita terpelajar pada
waktu itu, tidak banyak anak gadis yang menjadi anggota kami. Dan potonganku lebih banyak
menyerupai seorang perawan cantik sehingga kalau Jong Java mengadakan pertunjukan. Mana kalau
diserahi memainkan peran wanita yang naif itu. Aku betul‐betul membedaki pipi dan memerahkan
bibirku. Akan kuceritakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu, bagaimana pendapat orang asing tentang
seorang Presiden yang mau menceritakan hal yang demikian itu. Tetapi sungguhpun demikian aku akan
menceritakannya juga. Aku membeli dua potong roti manis. Roti bulat. Seperti roti gulung. Dan kuisikan
ke dalam bajuku. Ditambah dengan bentuk badanku yang langsing setiap orang menyatakan, bahwa aku
kelihatan sangat cantik. Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mencium laki‐laki. Selesai
pertunjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu saja. Karena itu kukeluarkan roti
itu dari dalam baju dan kumakan.
Sambil memandangku diatas panggung para penontonpun memberikan komentarnya, bahwa aku
memperlihatkan bakat yang besar untuk tampil di muka umum. Akupun sangat setuju dengan pendapat
mereka, tidak lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari
Studieclub, yaitu suatu kelompok sebagai pengajaran tambahan dan bertujuan untuk membahas buahbuah
pikiran dan cita‐cita. Disinilah aku mengadakan pidato yang pertama. Aku berumur 16 tahun. Ketua
Studieclub mendapat giliran untuk berbicara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan yang kuat
untuk berbicara. Aku tidak dapat mengendalikan diriku selanjutnya. Selagi duduk dalam pertemuan itu
aku melompat dan berdiri diatas meja. Suatu gerak perbuatan khas seperti kanak‐kanak. Kukira ini
disebabkan karena aku bersifat emosional. Sekarangpun aku masih demikian. Ketua menyatakan,
“Adalah menjadi suatu keharusan bagi generasi kita untuk menguasai betul bahasa Belanda.” Setiap
orang setuju. Setiap orang, kecuali aku sendiri. Aku gugup tentunya, akan tetapi ketika aku memperoleh
perhatian mereka, aku berbicara dengan suara tang tenang sekali, “Tidak. Saya tidak setuju, “Tanah
kebanggaan kita ini dulu pernah bernama Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara.
Nusantara berarti ribuan pulau‐pulau ini, dan banyak di antara pulau‐pulau ini lebih besar daripada seluruh
negeri Belanda. Jumlah penduduk Negeri Belanda hanya segelintir jika dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunankan oleh enam juta orang. “Mengapa suatu negeri kecil yang
terletak di sebelah sana dari dunia ini menguasai suatu bangsa yang dulu pernah begitu perkasa, sehingga
dapat mengalahkan Kublai Khan yang kuat itu?” Dengan suara tenang dan tidak terburu‐buru atau tegang
aku selanjutnya mengemukakan alasan‐alasan ditambah dengan kenyataan‐kenyataan. Aku mengakhiri
pidato itu dengan kata‐kata, “Saya berpendapat, bahwa yang harus kita kuasai pertama‐tama lebih dulu
adalah bahasa kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melayu.
Kemudian baru menguasai bahasa asing. Dan sebaiknya kita mengambil bahasa Inggris, oleh karena
bahasa itu sekarang menjadi bahasa diplomatik. “Belanda berkulit putih. Kita sawomatang. Rambut
mereka pirang dan keriting. Kita punya lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilometer dari sini.
Mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?!” Maka terjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka
tak pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya. Kuingat Direktur H.B.S., Tuan Bot, berdiri disana.
Dia tidak berbuat apa‐apa melainkan memandang kepadaku dengan muka tidak senang sama sekali,
seakan dia berkata, “Oooh, Oooh, Sukarno mau bikin susah!” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku
sudah cukup dibikin susah. Aku adalah anak baru di sekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak
Bumiputera.
H.B.S. mempunyai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranya orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala
jurusan oleh anak laki‐laki dan anak‐anak gadis Belanda. Sudah tentu mereka tidak senang padaku.
Terkecuali barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai jam tujuh pagi sampai
jam satu siang, enam hari dalam seminggu. Diantara jam‐jam pelajaran ada waktu istirahat, pada waktu
mana setiap anak bermain atau jajan. Akan tetapi anak‐anak Belanda tentu memisah dari kami. Mereka
berusaha supaya kami tidak ada kawan. Merekapun berusaha supaya hidung kami selalu berlumuran
darah. Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak yang rapi pakai celana baru dan kaku
berwarna putih yang menjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi jalanku
dan mengejek, “Menyingkir dari jalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri disana dia melepaskan
tangannya PANGGGG !’ Tepat di hidungku! Jadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak belur.
Aku tak pernah menjadi tukang berkelahi, tapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan aku tak dapat
menghindari perkelahian tangan. Kadang‐kadang kukalahkan mereka, akan tetapi terkadangpun mereka
mengalahkanku. Kamipun mengalami diskriminasi di dalam sekolah. Sekolah begitu keterlaluan terhadap
kami, sehingga kalau seorang anak Bumiputera membuat suatu kesalahan maka Direktur
menghukumnya dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mencurahkan tenaga dengan
sungguh‐sungguh kepada pelajaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai yang
didapat oleh anak‐anak Belanda pasti lebih tinggi daripada yang diterima oleh anak Indonesia. Nilai
kecakapan diukur dengan angka. Angka 10 yang tertinggi dan angka enam adalah batas nilai cukup dan
inilah kebanyakan yang diterima oleh inlander. Kami mempunyai suatu pameo mengenai angka‐angka
ini: angka sepuluh adalah untuk Tuhan, sembilan untuk professor, angka delapan untuk anak yang luar
biasa, tujuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak
Bumiputera. Aku adalah penggambar cat air yang luar biasa.
Di tahun kedua kami disuruh menggambar kandang anjing. Sementara yang lain masih mengukur‐ukur
dan menaksir‐naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang yang lengkap, di dalamnya
seekor anjing yang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku
kepada seluruh kelas. Ia mengatakan, “Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut
mendapat nilai yang setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka yang paling tinggi itu? Tidak.
Selalu orang kulit putih lebih pandai. Lebih cerdas. Orang kulit putih lebih banyak tahu. Alat kolonial tidak
akan berhasil, kecuali jika ia memupuk keunggulan kulit putih terhadap sawo matang. Guru‐guru sangat
sayang kepadaku. Aku anak yang patuh, sungguh‐sungguh dan hormat. Hanya sesekali aku bertindak di luar garis. Aku tidak pernah betul‐betul kurang ajar, akan tetapi pada suatu kali setelah pidatoku yang
pertama aku berjalan melalui ruangan ketika professor Egberts melihatku dan meneriakkan, “Hai,
Sukarno, bagaimana dengan kau punya ‘Jong Java’?” dan aku mengejek, Ya, Professor, bagaimana pula
dengan tuan punya ‘Oud Holland?” Aku menjadi favorit dari guru bahasa Jerman yang juga memimpin
Kelompok Perdebatan kami. Dalam memperdebatkan persoalan kehilir‐kemudik dan mengajukan
pendapat‐pendapat yang berlawanan, aku memperbaiki kecakapan berbicara. Professor Hartagh melihat,
bahwa aku dapat memimpin kawan‐kawanku.
Pada suatu pertemuan Hartagh menyampaikan kepada ke 20 orang murid secara bersama‐sama dan
kepadaku secara pribadi, bahwa aku akan menjadi pemimpin yang besar kelak. Professor mungkin punya
bola kristal untuk meramal. Iapun pernah menceritakan kepada orang lain, bahwa dia akan menjadi guru
dan memang itu dia jadinya. Seorang guru perempuan betul‐betul sangat sayang kepadaku, sehingga ia
memberiku nama Belanda. Aku, calon pemimpin dari suatu revolusi di masa yang akan datang, dengan
nama Belanda? Dia menamaiku Kerel. Dia bahkan memanggilku “Schat”, perkataan Belanda untuk
kesayangan. Kalau dia kelupaan kunci atau sesuatu barang, dia lalu menunjukku dan berkata dengan
manis, “Schat, maukah engkau pergi ke kamarku dan mengambil kunc?” Ach, ini adalah hak istimewa
yang sangat besar. Pada suatu hari dia mengajakku ke rumahnya untuk menerima pelajaran tambahan
bahasa Perancis. Aku gemetar karena anugerah yang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin
mendekati kedewasaan aku masih gemetar dengan anugerah istimewa semacam ini. Akan tetapi karena
alasan lain. Aku sangat tertarik kepada anak‐anak gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan
percintaan dengan mereka. Hanya inilah satu‐satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh
keunggulan terhadap bangsa kulit putih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini
selalu menjadi idaman? Apakah seorang jantan berkulit sawo matang dapat menaklukkan seorang lakilaki
kulit putih? Ini adalah suatu tujuan yang hendak diperjuangkan. Menguasai seorang gadis kulit putih
dan membikinnya supaya menginginiku adalah suatu kebanggaan.
Seorang pemuda tampan senantiasa mempunyai kawan gadis‐gadis yang tetap. Aku punya banyak.
Mereka
bahkan memuja gigiku yang tidak rata. Dan aku mengakui bahwa aku sengaja mengejar gadis‐gadis kulit
putih. Cintaku yang pertama adalah PauIine Gobee, anak salah seorang guruku. Dia memang cantik dan
aku tergila‐gila kepadanya. Kemudian menyusul Laura. Oo, betapa aku memujanya. Dan ada lagi keluarga
Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunyai beberapa orang puteri ayu. H.B.S. letaknya di arah yang
berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan‐bulan aku
mengambil jalan keliling, hanya untuk lewat di muka rumahnya dan untuk menangkap selintas
pandangannya. Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang‐kadang diajak oleh
salah seorang kawan kesana dan disanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadisgadis
Belanda lalu. Kemudian bagai suatu cahaja yang bersinar dalam gelap, muncullah Mien Hessels
dalam kehidupanku. Hilanglah Laura, lenyaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenyap pulalah
kegembiraan Depot Tiga. Sekarang aku punya Mien Hessels. Dia sama sekali milikku dan aku sangat
tergila‐gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinya jang merah mawar itu. Aku rela mati
untuknya kalau dia menghendakinya. Umurku baru 18 tahun dan tidak ada yang lebih kuinginkan dari
kehidupanku ini selain daripada memiliki jiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapnya dengan
perasasn berahi dan sampailah aku pada suatu kesungguhan hati, aku harus mengawininya. Tak satupun
yang dapat memadamkan api yang sedang menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang gula di atas
kue yang takkan dapat kubeli. Kulitnya lembut bagai kapas, rambutnya ikal dan pribadinya memenuhi
segala‐galanya yang kuidamkan. Untuk dapat merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainja
lebih dari segala harta bagiku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara kepada bapaknya. Aku
mengenakan pakaian yang terbaik, dan memakai sepatu.
Sambil duduk di kamarku yang gelap aku melatih kata‐kata yang akan kuucapkan dihadapannya. Akan
tetapi pada waktu aku mendekati rumah yang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut. Aku tak pernah sebelumnya bertamu kerumah seperti ini. Pekarangannya menghijau seperti beludru. Kembangkembang
berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai prajurit. Aku tidak punya topi untuk
dipegang, karena itu sebagai gantinya aku memegang hatiku.Dan disanaIah aku berdiri, gemetar,
dihadapan bapak dari puteri gadingku, seorang yang tinggi seperti menara yang memandang ke bawah
langsung kepadaku seperti aku ini dipandang sebagai kutu di atas tanah. “Tuan,” kataku. “Kalau tuan tidak
berkeberatan, saya ingin minta anak tuan.” , “Kamu? Inlander kotor, seperti kamu? sembur tuan Hessels,
“Kenapa kamu berani‐beranian mendekati anakku? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar!” Dapatkah
orang membayangkan betapa aku merasa seperti didera dengan cambuk? Dapatkah kiranya orang
percaya, bahwa noda yang dicorengkan di mukaku ini pada satu saat akan pupus sama sekali? Sakitnya
adalah sedemikian, sehingga di saat itu aku berpikir, “Ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Dan
jauh dalam lubuk hatiku aku merasa pasti, bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku yang berparas
bidadari itu, Mien Hessels. 23 tahun kemudian, yaitu tahun 1942. Jaman perang. Aku sedang melihat lihat
etalase pada salah satu toko pakaian laki‐laki di suatu jalanan Jakarta, ketika aku mendengar suara di
belakangku, “Sukarno?” Aku berpaling memandangi seorang wanita asing, “Ya, saya Sukarno. “Dia
tertawa terkikik‐kikik, “Dapat kau menerka siapa saya ini?” Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia
seorang nyonya tua dan gemuk. Jelek, badannya tidak terpelihara. Dan aku menjawab, “Tidak, nyonya.
Saya tidak dapat menerka. Siapakah Nyonya?”, “Mien Hessels,” dia terkikik lagi. Huhhhh! Mien Hessels!
Puteriku yang cantik seperti bidadari sudah berubah menjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah
aku melihat perempuan yang buruk dan kotor seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinya sampai
begitu. Dengan cepat aku memberi salam kepadanya, lalu meneruskan perjalananku. Aku bersyukur dan
memuji kepada Tuhan Yang Maha Penyayang karena telah melindungiku. Caci maki yang telah
dilontarkan bapaknya kepadaku sesungguhnya adalah suatu rahmat yang tersembunyi. Kalau dipikirpikir,
tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan
yang telah diberikan‐Nya. Huhhh, orang apa itu! Jalan hidupku sebagai seorang pencinta di masa belia
berakhir ketika Bu Tjokroaminoto meninggal. Keluarga Pak Tjokro dengan anak‐anak yang bayar makan
pindah ke rumah lain. Dan pemimpin yang kumuliakan itu keadaannya begitu tertekan, sehingga aku
merasa kasihan melihatnya. Anaknya masih kecil‐kecil, dia seorang diri dan rumah itu asing suasananya.
Seluruh keluarga nampaknya tidak berbahagia sama sekali. Aku tidak dapat memandangi keadaan yang
demikian itu. Kami belum lama menempati rumah yang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang
menemuiku dan berkata, “Sukarno, kaulihat bagaimana sedihnya hati Tjokroaminoto. Apakah tidak dapat
kau berbuat sesuatu supaya hatinya gembira sedikit?” Hatiku sangat berat dan menjawab, “Saya dengan
segala senang hati mau mengerjakan sesuatu, supaja dia dapat tersenyum lagi. Tapi apa yang dapat saya
lakukan? Saya tidak bisa menjadi isteri Pak Tjokro.” Bukan begitu, tapi engkau dapat menggembirakan
hatinya dengan cara lain.”
“Cara lain?
“Ya ?
“Bagaimana ?”
“Jadi menantunya. Puterinya Utari sekarang tidak punya ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap hari depan
anaknya itu dan siapa yang akan menjaganya dan mengasihinya. Inilah yang memberatkan pikirannya.
Saya kira, kalau engkau minta kawin dengan anak saudaraku itu, mungkin ini akan mengurangi sedikit
tekanan perasaan dari Pak Tjokro.”
“Tapi umurnya baru 16,” kataku memprotes.
“Ya memang, khan engkau belum 21. Perbedaan umur tidak begitu jauh. Katakanlah pada saya, Sukarno,
apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?”.
“Yah,” aku menerangkan pelahan‐lahan. “Saya sangat berterima kasih kepada Pak Tjokro … Saya
mencintai Utari. Tapi tidak terlalu sangat. Sungguhpun begitu, sekiranya saja perlu memintanya untuk
meringankan beban dari junjunganku, yah, saya bersedia. “Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengajukan lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan mendjadi menantu aku segera dipindahkan ke
kamar yang lebih besar dengan perabot yang lebih banyak. Sampai di hari ia menutup mata, ia tak pernah
mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanya karena aku sangat menghormatinya dan
menaruh kasihan kepadanya. Kami kawin dengan cara yang kita namakan “kawin gantung”. Ini adalah
perkawinan biasa yang dibenarkan dalam hukum dan agama.
Orang Indonesia menjalankan cara ini karena beberapa alasan. Kadang‐kadang dilangsungkan kawin
gantung terlebih dulu, karena kedua‐duanya belum mencapai umur untuk dapat menunaikan kewajiban
mereka secara jasmaniah. Atau adakalanya si anak dara tinggal di rumah orangtuanya sampai pengantin
laki‐laki sanggup membelanjai rumah tangga sendiri. Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku
kalau aku menghendakinya. Akan tetapi aku tidak melakukannya karena dia masih kanak‐kanak. Boleh
jadi aku seorang yang pencinta, akan tetapi aku bukanlah seorang pembunuh anak gadis remaja Itulah
sebabnya, mengapa kami melakukan kawin gantung. Pesta kawinnya pun digantung. Di saat‐saat aku
mengawini Utari terjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian yang kolot. Penghulu secara
serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, “Anak muda, dasi
adalah pakaian orang‐yang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama
Islam.”
“Tuan Kadi” aku membalas, “Saya menyadari, bahwa dulunya mempelai hanya memakai pakaian
Bumiputera, yaitu sarung. Tapi ini adalah cara lama. Aturannya sekarang sudah diperbarui.” Ya,” katanya
membentak, “Akan tetapi pembaruan itu hanya untuk memakai pantalon dan jas buka.” Adalah
kegemaran saya untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tajam. Dalam hal
ini, kalau masih terus berkeras kepala untuk berpakaian rapi itu, saya menolak untuk melakukan
pernikahan.” Apabila aku ditegur dengan keras di muka umum, atau disuruh harus begini‐begitu atau lainlain,
aku menjadi keras. Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menyuruhku untuk
menanggalkan dasi. Aku menyentak bangkit dari kursiku dan menjawab dengan tandas, Barangkali lebih
baik tidak kita lanjutkan hal ini sekarang.” Timbul protes keras dari imam mesjid, akan tetapi aku
menggeledek, “Persetan, tuan‐tuan semua. Saya pemberontak dan saya akan selalu memberontak, saya
tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya.” Kalau sekiranya tidak di hadapan salah seorang tamu
kami yang juga seorang alim dan sanggup menikahkan kami, mungkinlah Sukarno tidak akan bersatu
dengan Utari Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.
Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa jejakaku, terjadilah peristiwa aneh yang kedua. Tepat
sebelum aku menginjak ambang pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan yang terayhir.
Aku mengeluarkan korek api dari kantong, menggoreskan sebuah di sisi kotaknya untuk menyalakannya
dan. Sisst …… seluruh kotak itu menyala oleh jilatan api. Anak korek api yang ada dalam kotak itu
menyala semua sampai yang terakhir. Karena jilatan api ini jariku terbakar. Kuanggap kejadian ini sebagai
pertanda buruk dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan yang gelap. Aku tidak menceritakan
hal ini kepada
siapapun, akan tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan yang menakutkan … Ehhh …. Apa
maksudnya ini?”.
Sekalipun kedudukanku sebagai orang yang baru kawin, waktuku di malam hari kupergunakan untuk
mempelajari Pak Tjokro. Aku menjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah
yang selalu menemaninya ke pertemuan‐pertemuan untuk berpidato, tak pernah anaknya. Dan aku hanya
duduk dan memperhatikannya. Dia mempunyai pengaruh yang besar terhadap rakyat. Sekalipun
demikian, setelah berkali‐kali aku mengikutinya aku menyadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau
merendahkan suaranya dalam berpidato. Tak pernah membuat lelucon. Pidato‐pidatonya tidak
bergaram. Aku tidak pernah
membaca salah satu buku yang murah tentang bagaimana cara menjadi pembicara di muka umum. Pun
tidak pernah berlatih di muka kaca. Bukanlah karena aku sudah cukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak mempunyai apa‐apa.
Cerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannya menjatuhkan suaranya. Aku melihat gerak
tangannya dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula‐mula sekali aku belajar
menarik perhatian pendengarku. Aku tidak hanya menarik, bahkan kupegang perhatian mereka Mereka
terpaksa mendengarkan. Suatu getaran mengalir ke sekujur tubuhku ketika mengetahui, bahwa aku
memiliki suatu kekuatan yang dapat menggerakkan massa. Aku menguraikan pokok pembicaraanku
dengan sederhana. Pendengarku menganggap cara ini mudah untuk dimengerti, karena aku lebih banjyk
mendasarkan pembicaraanku kepada cara bercerita, jadi tidak semata‐mata memberikan fakta dan
angka. Aku berbuat menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi
undangan ke suatu rapat dan kepadaku dimintanya untuk menggantikannya. Kali ini adalah suatu
pertemuan kecil, akan tetapi aku menggunakan ke sempatan ini dengan sebaik‐baiknya. Aku mulai
dengan suara lunak. “Negeri kita, saudara, adalah tanah yang subur, sehingga kalau orang menanamkan
sebuah tongkat ke dalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan menjadi sebatang pohon. Sekalipun
demikian rakyat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban yang harus dipikul sehari‐hari.
Puncak gunung menghisap awan di langit, turun ke bumi dan negeri kita diberi rahmat dengan hujan yang
melimpah‐limpah. Akan tetapi kita kekurangan makan dan perut kita menjerit‐jerit kelaparan.” Ya, betul,”
mereka berteriak dari tempat duduknya. Suaraku mulai naik. “Saudara tahu apa sebabnya, saudarasaudara?
Sebabnya ialah, oleh karena orang yang menjajah kita tidak mau menanamkan uang kembali
untuk memperkaya bumi yang mereka peras. Pendajah hanya mau memetik hasilnya. Ya, mereka
menyuburkan bumi kita ini. Betul! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menyuburkan bumi
kita ini? Tahukah saudara apa yang dikembalikan ke bumi kita ini setelah 350 tahun menjajah? Saya akan
ceritakan kepada saudara‐saudara. Bumi kita ini mereka suburkan dengan mayat‐mayat yang
bergelimpangan dari rakyat kita yang mati karena kelaparan, kerja keras dan hanya tinggal tulang
belulang!, Maka dari itu saya bertanya, apakah saudara tidak setuju dengan saja? Seperti saya sendiri,
apakah hati saudara tidak digoncang‐goncang oleh keinginan untuk merdeka? Saya pergi tidur dengan
pikiran untuk merdeka. Saya bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saya akan mati dengan cita‐cita
untuk merdeka d idalam dadaku.
Apakah saudara tidak setuju dengan saya?” ,”Setujuuuuuu!” mereka berteriak, “Ya…. kami setuju!”
Mereka melihat kepadaku kalau aku berbicara. Mereka memandang kepadaku seperti memuja, matamata
terbuka lebar, muka‐muka terangkat ke atas, meneguk semua kata‐kataku dengan penuh
kepercayan dan harapan. Nampak jelas, bahwa aku menjadi pembicara yang ulung. Ia berada dalam urat
nadiku.
Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik di rumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme. Dan
setelah mengikuti setiap pidatoku maka kawan‐kawan seperjuangan mulai mengerti lebih banyak tentang
pendirianku. Kemudian mulai setuju. Lalu mengikuti pendirianku. Dan mencintaiku. Mereka memilihku
sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua.
Akupun menulis untuk majalah Pak Tjok, “Oetoesan Hindia”, akan tetapi dengan nama samaran, karena
memang susah untuk memasuki sekolah Belanda sambil menulis dalam majalah yang membela tindakan
untuk merobohkan Pemerintah Belanda. Aku kembali kepada Mahabharata untuk memperoleh nama
samaranku. Aku memilih nama “Bima” yang berarti “Prajurit Besar” dan juga berarti keberanian dan
kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membicarakannya. Ibu, yang
tidak tahu tulis baca, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka yang menulisnya.
Memang benar, bahwa keinginan mereka yang paling besar adalah, agar aku menjadi pemimpin dari
rakyat, akan tetapi tidak dalam usia semuda itu. Tidak dalam usia yang begitu muda, yang akan
membahayakan pendidikanku di masa yang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan
berusaha dengan berbagai jalan untak mencegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri
menyampaikan kepada mereka, bahwa Karno kecil dan Bima yang gagah berani adalah satu. Ramalan emas yang pertama kali diucapkan oleh ibu di waktu aku lahir —yang didengungkan kembali oleh nenekku
pada waktu aku masih bocah kecil dan yang didengungkan lagi di masa mudaku oleh Professor Hartagh—
kemudian diucapkan pula ketika aku berada d iambang pintu usiaku yang keduapuluh. Dan oleh dua
orang jang berlainan.
Dr. Douwes Dekker Setiabudi adalah seorang patriot yang telah menderita selama bertahun‐tahun dalam
pembuangan. Ketika umurnya sudah lebih dari 50 tahun ia menyampaikan kepada partainya, yaitu
National Indische Partij, “Tuan‐tuan, saya tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai
saya masuk keliang kubur saya ingin menjadi pejuang untuk Republik Indonesia. Saua telah berjumpa
dengan pemuda Sukarno. Umur saua semakin lanjut dan bilamana datang saatnua saya akan mati, saya
sampaikan kepada tuan‐tuan, bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti
saya. “Anak muda ini,” ia menambahkan, “..akan menjadi ‘Juru selamat’ dari rakyat Indonesia di masa
yang akan datang. “Ramalan yang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam yang saleh. Dia
banyak mempergunakan waktunya untuk sembahyang dan mendo’a. Setelah beberapa lama melakukan
samadi, ia kembali kepada seluruh keluarganya pada suatu malam yang berhujan dan ia berbicara dengan
kesungguhan hati?, “Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin Besar kita. Aku
bangga karena telah memberinya tempat berteduh di rumahku.” Sepuluh Juni 1921 aku lulus. Sebelas Juni
rencana yang telah kuperbuat untuk diriku sendiri ditolak mentah‐mentah. Kawan‐kawanku dan aku
bermaksud akan meneruskan pelajaran ke sekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu sama
sekali dengan itu.
Aku bersoal dengan dia. “Ibu, semua anak‐anak yang lulus dari H.B.S. dengan sendirinya pergi ke Negeri
Belanda. Itulah jalan yang biasa. Kalau orang mau memasuki sekolah tinggi dia pergi ke Negeri Belanda.
“Tidak. Tidak bisa. Anakku tidak akan pergi ke Negeri Belanda,” ia memprotes. “Apa salahnya keluar
negeri?”,,”Tidak ada salahnya,” katanya. “Tapi banyak jeleknya untuk pergi ke negeri Belanda. Apakah yang menyebabkan kau tertarik?: Pikiran untuk mencapai gelar universitas ataukah pengharapan akan
mendapat seorang perempuan kulit putih?”,”Saya ingin masuk universitas, Bu.” Kalau itu yang kauingini,
kau memasuki yang disini. Pertama kita harus mengingat kenyataan pokok yang mengendalikan sesuatu
dalam hidup kita, Uang. Pergi keluar negeri memerlukan biaya yang sangat besar. Disamping itu, engkau
adalah anak yang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaya engkau tinggal di sini diantara bangsa
kita sendiri. Jangan lupa sekali‐kali, nak!, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulanan ini.”
Dan begitulah aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu yang kudengar. Akan
tetapi sesungguhnya tangan Tuhanlah yang telah menggerakkan hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar