Minggu, 03 Juni 2012

KONSEP MANUSIA IDEAL MENURUT CONFUCIUS


•  PENGANTAR
Cina merupakan suatu negara besar di dunia, terkenal dengan kebudayaan dan filsafatnya. Ajaran filsafatnya hingga sekarang masih hangat diperbincangkan dan diperdebatkan, dalam filsafat cina banyak sekali aliran-aliran yang membicarakan masalah mengenai hubungan antara manusia dengan alam. Pada dasarnya manusia berada dalam harmoni dengan alam dan seluruh tata dunia yang ada untuk mencapai suatu hubungan yang harmoni maka setiap manusia harus mampu mengusai dan mengkontrol dirinya seperti yang diajarkan oleh aliran-aliran yang ada dari Cina seperti Confucianisme. Aliran ini mengajarkan beberapa konsep ideal dan kodrat manusia itu sepeti apa dan bagaimana, sehingga terbentuk masyarakat yang baik dan teratur. Tokoh-tokoh filsuf dalam Confucianisme diantaranya Confucius, Mencius dan Hsun Tzu. Ketiga filsuf ini mempunyai persepsi yang berbeda dalam konsep manusia ideal dan kodrat manusia, akan tetapi tujuan dari ketiga filsuf ini sama yaitu membentuk masyarakat yang baik, tertib, dan teratur. Tujuan ini tidak lepas dari asal mula lahirnya aliran Confucianisme pada saat kekacauan yang terjadi pada Dinasti Chou, peranan Confucianisme disini berupaya untuk memulihkan ketertiban dalam masyarakat dan menitikberatkan pada pembentukan manusia ideal. Aliran ini diawali oleh Confucius, dia adalah filsuf pertama atau pelopor dari aliran Confucianisme.
Bertitik tolak dari penjelasan dan buku-buku mengenai Confucianisme dan tokoh-tokohnya khususnya Confucius, mengenai konsep ideal. Penulis ingin sekali menganalisis dan mengkritisi masalah tersebut. Ini merupakan masalah yang cukup kompleks dan menarik jika direfleksikan lebih mendalam. Penulis menyadari tidak tertutup kemungkinan adanya tulisan terdahulu yang serupa tentang tema dan topik yang akan dibahas ini, akan tetapi penulis berupaya untuk tidak hanya mendeskripsikan ulang melainkan mencoba mengkritisi dan merefleksikan konsep itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup mendasar tentang manusia ideal yang ditawarkan oleh Confucius diantaranya :
•  Apakah dari konsep-konsep manusia ideal yang ditawarkan sudah cukup relevan dan mencakup aspek dari konsep manusia itu sendiri atau bertentangan dari itu semua?
•  Atas dasar apakah bisa dikatakan manusia itu sudah ideal, apakah ada kriteria khusus atau tahapan-tahapan untuk mencapainya?
•  Relevansi konsep manusia ideal dengan kondisi Kekinian
Di samping pertanyaan-pertanyaan diatas penulis sedikit menjelaskan mengenai riwayat hidup Confucius dan konsep manusia ideal itu sendiri.
•  PEMBAHASAN
•  Riwayat Hidup Confucius
Confucius adalah nama seorang yang berkebangsaan Cina, berasal dari nama latin yaitu K'ung Futse. Ia dilahirkan di negara Lu pada tahun 551 SM. Confucius mempunyai jalur keturunan dari bangsawan kuno dan hidup dalam keadaan menderita. Ia menempuh hidup berkeluarga pada waktu masih muda, kemudian ia bekerja sebagai pegawai. Cofucius dapat dikatakan sebagai seseorang yang berhasil dalam menangani bidang pendidikan maka ia mendapat sebutan sebagai guru. Seluruh hidup dan kehidupan Confucius hanya dipergunakan untuk membangun kembali situasi dan kondisi masyarakat dan bangsa Cina yang ada pada saat itu sedang dilanda krisis moral yang sedemikian parah. Confucius mendapat anugerah seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Pada waktu Confucius berusia 24 tahun ibunya meninggal; dalam hal ini ia mengikuti adat kebiasaan bangsa cina yaitu dengan cara meninggalkan kehidupan duniawi dalam suasana berduka-cita selama tiga tahun (Lasiyo, 1983 : 7).
Confucius pernah diangkat menjadi pejabat negara, tetapi ia merasa demikian kecewa, karena mengetahui maksud pengangkatannya adalah agar Confucius tidak berbuat macam-macam dan tetap diam bila mengerti sesuatu yang menyimpang dari kebenaran, kemudian setelah Confucius mengerti hal tersebut maka ia segera melepaskan jabatannya dan kembali lagi menjadi seorang guru yang benar-benar dicintai oleh murid-muridnya. Confucius berusaha dengan tekun mengajar kepada murid-muridnya tentang kesempurnaan dalam kehidupan individu dan masyarakat, yaitu berdasarkan pada keteguhan, kejujuran, dan adanya rasa tanggung jawab (Confucius, 1991 : 14).
Pribadi Confucius yang menarik adalah mempunyai sikap low profile , ia tidak mempunyai rasa khawatir menjalani hidup dan kehidupan yang selalu diliputi dengan tantangan, cobaan yang selalu menghadang di setiap saat, baik pada waktu sehat maupun sakit. Ia selalu tenang dan berbuat baik kepada siapa saja baik kepada anak-anak muda maupun orang-orang tua. Sifat yang melekat pada dirinya adalah kesederhanaan, lemah, lembut, tekun, suka memberi contoh yang baik, ramah tamah, berbicara mantap dan cermat dalam bertindak. (Lasiyo, 1983 : 9-10).
•  Konsep Manusia Ideal Menurut Confucius
Konsep manusia ideal yang ditawarkan oleh Confucius adalah Chun Tzu yang agung atau dalam istilah bahasa inggris disebut (gentlemen), seseorang dapat menjadi pimpinan bukan karena keturunan tetapi karena keagungan watak dan tingkah laku yang baik. Menurut Confucius bahwa setiap manusia berpotensi menjadi chu-tzu , dan di dalam naluri manusia terkandung benih-benih kebaikan yang terdiri dari jen (perikemanusiaan), yi (kelayakan), li (sopan santun), dan chi (kebijaksanan); karena secara keseluruhan masih berwujud suatu potensi, maka proses selanjutnya secara lengkap merupakan tanggung jawab manusia, hal ini berkaitan dengan kemauan dan kemampuan seseorang di dalam upaya menumbuh kembangkan benih-benih tersebut bagi diri pribadinya. Dengan demikian berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar manusia mempunyai peran yang demikian besar terutama dalam perwujudan jati diri manusia, maka cara yang paling tepat dan baik adalah hendaknya senantiasa berpedoman kepada agama, kepercayaan, dan norma-norma yang masih berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia dewasa ini (Lasiyo, 1998 : 8-9).
Beberapa pengertian Chun-tzu menurut Confucius :
Chun-tzu adalah seoarang pemberani yang dapat menyelaraskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas moral kepribadiannya (Dawson, 1981 : 54). Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang chu-tzu adalah :
•  Setia dan selalu berbuat baik serta berusaha untuk mawas diri.
•  Mencintai sesuatu yang benar dan tidak mementingkan dirinya sendiri.
•  Mengutamakan masalah moral (Dawson, 1981 : 55).
Oleh karena itu seorang chun-tzu selalu berusaha untuk dapat hidup dan bekerja sama dengan masyarakat dimana ia berada, agar dengan demikian ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi mau beramal apa saja demi untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negaranya.
Confucius dalam membahas masalah chun-tzu lebih banyak berbicara tentang masalah moral, karena moral merupakan dasar dari keberhasilan pembangunan suatu bangsa, tanpa landasan pada moral suatu bangsa akan segera mengalami keruntuhan (Ya'qub, 1978 : 26).
•  Konsep Manusia Ideal Relevan Dengan Konsep Manusia
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa Confucius berupaya untuk membentuk manusia dari benih-benih dan potensi yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang kemudian dikembangkan. Confucius mempunyai asumsi bahwa di dalam diri manusia pada awalnya mempunyai benih-benih dan potensi, dan inilah yang merupakan dasar dari pembentukan manusia ideal. Potensi ini akan berkembang atau berfungsi dengan maksimal jikalau manusia itu sendiri yang menyadarinya dan berupaya untuk melaksanakannya. Kita ketahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, menurut penulis potensi dan kemauan ini ada dalam jiwa manusia, dan fungsi badan disini ialah untuk menunjang agar terbentuknya potensi itu. Jadi hubungan keduanya cukup menunjang dan saling berkaitan. Menjawab pertanyaan mengenai apakah konsep manusia ideal sudah cukup relevan dengan konsep manusia itu sendiri, kita dapat melihat dari dasar pembentukan manusia ideal terdapat hubungan antara raga dan jiwa manusia, sebagaimana diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu raga (jasmani) dan jiwa (rohani), keduanya merupakan satu kesatuan (dwi tunggal) yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, maka manusia dapat dikatakan manusia jika ia memiliki jasmani dan rohani ; hal tersebut yang menyebabkan manusia dapat bergerak, bersikap dan mempunyai suatu potensi serta kemauan. Manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakan subjek yang mandiri dan mengubah dirinya sendiri agar memperoleh kemajuan dan perkembangan terutama potensi yang terdapat di dalam dirinya. Jadi konsep manusia ideal menurut Confucius bisa dikatakan relevan karena mencakup suatu konsep dasar dari manusia yaitu hubungan antara jiwa (rohani) dan raga (jasmani).
•  Unsur Dasar Manusia Biasa Dikatakan Ideal
Dari konsep manusia ideal menurut Confucius maka kita akan melihat atas dasar apakah manusia sudah bisa dikatakan ideal. Dasar dikatakan manusia itu ideal jika ia sudah menjadi Chun-tzu . Chun-tz u adalah seorang yang berusaha memelihara kepribadiannya, terutama moral dan bertujuan untuk membuat situasi menjadi tenang bagi seluruh umat manusia, Chun-tzu berarti seorang pemberani yang dapat menyelaraskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas moral. Confucius berkata: “Seorang manusia yang bijaksana adalah seorang yang mempunyai harga diri dan memelihara kepemimpinan dengan membina kepribadiannya pada dua prinsip kebajikan yaitu kesetiaan dan kejujuran serta keberanian untuk menyatakan mana yang benar dan mana yang salah” (Confucius, 1991 : 31). Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang Chun-tzu diantaranya : setia dan selalu berbuat baik serta berusaha untuk mawas diri, mencintai sesuatu yang benar dan tidak mementingkan dirinya sendiri, mengutamakan masalah moral. (Dawson, 1981 : 55). Jadi ada suatu kriteria untuk menjadi manusia ideal yaitu setiap manusia harus menjadi seorang Chun-tzu dan tahapan-tahapan untuk mencapainya ialah pertama-tama manusia harus menyadari potensi dalam dirinya sendiri seperti yang dikatakan Confucius bahwa di dalam naluri manusia terkandung benih-benih kebaikan yang terdiri dari jen (perikemanusiaan), yi (kelayakan), li (sopan santun), dan chi (kebijaksanan) dari sinilah terbentuk potensi untuk menjadi seorang Chun-tzu , jika sudah menjadi Chun-tzu maka ia harus mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh Chun-tzu seperti yang sudah dijelaskan diatas, jika kriteria tersebut sudah terpenuhi sampai akhirnya manusia itu sudah biasa dikatakan sebagai manusia ideal.
•  Relevansi Konsep Manusia Ideal dengan Kondisi Kekinian
Confucius dalam membahas tentang manusia mengatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial, maka hendaknya dapat menjalin kerjasama dengan masyarakat, maksudnya jika di dalam masyarakat berlaku hal-hal yang tidak baik, maka seyogyanya dapat merubah ke hal-hal yang baik, dapat diterima oleh siapa saja. Manusia dianggap bijak apabila selalu mengutamakan masalah moral. Konsep manusia ideal menurut Confucius pembahasannya lebih banyak berkisar tentang masalah moral. Maka moral bagi Confucius memiliki cakupan yang demikian luas dan kompleks yang dapat dijumpai dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kearifan untuk mendapatkan ketentraman, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dari pemikiran ini kita dapat melihat bahwa Confucius mengedepankan nilai-nilai moral dalam pembentukan manusia ideal yang pada akhirnya membentuk suatu masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Sumbangan pemikiran ini sangat berguna dan sangat signifikan jika diterapkan pada kondisi kekinian. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini nilai-nilai moral selalu dikesampingkan membuat manusia tidak dapat menjadi manusia yang ideal dan memebntuk suatu masyarakat yang ideal, tertib, dan teratur. Mengenai kodrat manusia itu sendiri pada kondisi kekinian dapat dijadikan suatu dasar untuk menjalin suatu nilai kebersaman atau kerjasama diantara setiap individu (manusia), dikarenakan saat sekarang ini semangat kebersaman sudah mulai hilang, lebih dominan rasa individual yang sangat ditonjolkan. Oleh karena itu alangkah baiknya jika keduanya seimbang itu akan menjadikan suatu sosialitas lebih harmoni dan dinamis. Cara hidup Confucius yang sedemikian sederhana, menyukai kejujuran, senang menasehati orang lain, dan senantiasa berpegang kepada kesucian, dari cara hidupnya akan menjadikan suatu panutan dan keteladanan bagi masyarakat dewasa ini.
•  KESIMPULAN
Konsep pembentukan manusia ideal menurut Confucius terpadu dalam konsep dasar manusia itu sendiri, dan cukup relevan. Terlihat dari pembentukan manusia ideal tersebut terdapat hubungan antara raga dan jiwa manusia, sebagaimana diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu raga (jasmani) dan jiwa (rohani), keduanya merupakan satu kesatuan (dwi tunggal) yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, maka manusia dapat dikatakan manusia jika ia memiliki jasmani dan rohani ; hal tersebut yang menyebabkan manusia dapat bergerak, bersikap dan mempunyai suatu potensi serta kemauan. . Kita ketahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, potensi dan kemauan ini ada dalam jiwa manusia, dan fungsi badan disini ialah untuk menunjang agar terbentuknya potensi itu. Jadi hubungan keduanya cukup menunjang dan saling berkaitan. Masalah mengenai dasar manusia dikatakan ideal jika ia sudah menjadi seorang Chun-tzu, dan untuk mencapainya terdapat tahapan-tahapan dan suatu kriteria.
Konsep manusia ideal menurut Confucius pembahasannya lebih banyak berkiasar tentang masalah moral, moral bagi Confucius memiliki cakupan yang demikian luas dan kompleks yang dapat dijumpai dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kearifan untuk mendapatkan ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi semua orang.
Confucius di dalam pandangan tentang konsep manusia lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat pragmatis, sehingga segala sesuatu diukur dengan nilai kegunaan praktis yang mengandung unsur-unsur idealis unuk mendapatkan tujuan yang dicita-citakan serta bersifat realis yang mempunyai arti selalu berpedoman pada hal-hal yang nyata ( realita) : maka ruang lingkup pragmatisme, idealisme dan realisme dalam dimensi filsafat manusia.
Konsep manusia ideal jika direlevansikan pada kondisi kekinian sangat berguna dan bermanfaat dalam membentuk suatu sosialitas yang harmoni dan dimanis. Disamping itu konsep manusia ideal yang ditawarkan Confucius juga cukup relevan dengan konsep manusia indonesia yang berkecenderungan ke arah monodualisme nyaitu suatu aliran yang berpandangan bahwa manusia mempunyai keseimbangan jasmaniah dan rohaniah atau keseimbangan lahiriah dan batiniah yang berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945.
DAFTAR PUSTAKA
Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto, Melbourne
Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta
_____, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Faklutas Filsafat UGM, Yogyakarta
______, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta
Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali , Penerbit Paradigma, Yogyakarta
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar