Minggu, 03 Juni 2012

Roda Pintal Dan Konsep Perjuangan Gandhi (Sebuah Telaah Filsafat Politik)


 
“Membantu si miskin adalah dambaan hatiku yang terbesar,dan hal ini selalu membawa saya ke tengah orang-orang melarat sehingga memungkinkan saya mengidentifikasi diri saya dengan mereka.”
Mahatma Gandhi
Pendahuluan
Suatu pagi 25 Oktober 1925, suatu hari di musim gugur yang hangat di selatan Prancis, Madeline Slade, seorang wanita 33 tahun berkebangsaan Inggris berlayar menuju Bombay, India (Sudhir Kakar, Gandhi Cintaku , 2004;21). Jauh-jauh dia pergi meninggalkan tanah kelahirannya beserta seluruh keluarganya demi satu tujuan, bertemu sekaligus bergabung dengan tokoh yang diidolakannya : Mohandas Karanchand Gandhi. Bagi dia, seorang Gandhi bukanlah sekadar idola, melainkan lebih sebagai panutan hidup dan bahkan lentera yang menuntunnya pada sebuah kesejatian hidup. Gandhi adalah guru yang menjadi acuan ke mana hidupnya akan digulirkan.
Pada belahan bumi Barat, kita telah mengenal banyak tokoh berpengaruh dalam hal perjuangan dan perlawanan. Kita mengenal Fidel Castro dengan revolusi Kubanya. Kita mengenal Che Guevara dengan kepemimpinannya yang kharismatik di hadapan massa aksi. Kita mengenal Marx dan kaum Marxisnya dengan perlawanannya menentang kesenjangan antar kelas akibat Kapitalisme dan Neoliberal. Begitupun yang belahan Timur. Kita mengenal nama-nama Mao Tse Tum, Soekarno dan lain-lain. Dari sekian nama tokoh berpengaruh di Timur, satu nama yang tak bisa kita loewatkan adalah Mohandas Karamchand Gandhi atau yang lebih dikenal dengan jnama Mahatma Gandhi.
Menyebut nama Gandhi adalah menyebut satu sosok pribadi ‘pejuang' yang unik. Kita tahu, dari sekian banyak kisah perjuangan dan revolusi yang ada dalam catatan sejarah, hampir sebagian besar adalah merupakan aksi massa. Aksi massa di sini dalam arti aksi yang melibatkan kumpulan massa dalam satu tindakan fisik sebagai satu bargaining position dengan pihak lawan. Aksi yang ada sebagian besar adalah aksi-aksi massa yang turun ke jalan sebagai bentuk show of force dalam satu tahapan perjuangan. Namun tidak dengan konsep perjuangan yang digagas oleh Gandhi. Ide-ide yang digagas oleh Gandhi semacam seruan tentang Ahimsa (nir-kekerasan), Satyagraha (keteguhan berpegang pada kebenaran) atau swadeshi (gerakan cinta produksi dalam negeri) misalnya, adalah seruan perjuangan yang bisa dikatakan sangat jauh dengan konsep perjuangan aksi massa sebagaimana lazimnya. Dalam satu pandangan politiknya, Gandhi justru merumuskan satu konsep yang, mungkin, bagi banyak orang justru tidak populis dan tidak sesuai dengan tujuan perjuangan yaitu tercapainya swaraj (kemerdekaan). Saat itu Gandhi merumuskan tiga hal dalam perjuangan politiknya, yaitu :
•  Bersatunya penganut agama Hindu dan agama Islam sebagai dua komunitas agama terbesar di India, dalam satu kerukunan, kebersamaan dan ikatan sesama warga India.
•  Dihapuskannya kasta pariah dalam tatanan kehidupan masyarakat India. Yaitu kasta ‘orang-orang terbuang' atau golongan orang yang tidak termasuk dalam empat kasta yang ada ( brahmana , ksatrya , waisya , sudra )
•  Dibudayakannya kegiatan pemintalan benang dalam setiap keluarga masyarakat India.
Satu pilihan politis yang diambil Gandhi dengan konsekuensi berkurangnya pendukung setia dia lebih dari setengah jumlah sebelumnya. Apa yang sejatinya menjadi dasar pertimbangan Gandhi dalam merumuskan konsep tersebut, sehingga seorang Gandhi rela mengambil konsekuensi yang sedemikian besarnya?
Bahasan
Memulai perjuangannya semenjak persentuhannya dengan rakyat India di Afrika Selatan, secara perlahan Gandhi mengokohkan diri sebagai salah satu tokoh perjuangan India yang cukup besar. Saat itu dia melihat segala bentuk penindasan yang dialami oleh warga India di Afrika Selatan. Datang sebagai seorang pengacara, seorang Gandhi melakukan berbagai hal yang semakin memposisikan Gandhi sebagai tokoh sentral perjuangan. Begitupun saat dia telah kembali tinggal di India. Mulai penolakannya terhadap serangkaian UU ataupun RUU buatan Inggris yang merugikan dan bahkan menindas warga India, perlawanannya membela kaum petani miskin India yang dieksploitasi habis-habisan oleh para tuan tanah dan sederet kasus-kasus lainnya, semakin memposisikan Gandhi sebagai salah satu tokoh sentral India.
Tahun 1920, tercatat bahwa ketokohan Gandhi di bidang politik sangat dominan. Sebelumnya, belum pernah ada pemimpin politik India yang memiliki pengaruh sebesar Gandhi. Bernagai pembaruan dilakukannya antara lain mengubah Kongres Nasional India (India National Congress) yang tadinya sebuah partai kaum elit dan eksklusif kini menjadi partai massa. Dukungan pada Gandhi dalam wadah ini mengakar sampai ke pelosok desa dan seluruh penjuru perkotaan India. Gandhi dengan lugas dan sederhana berpesan : “Bukanlah kekuatan senjata Bangsa Inggris, tetapi ketundukan tanpa syarat bangsa India-lah yang menyebabkan tanah air ini tetap berada dalam erbudakan bangsa asing.” (Francis Alappatt, Mahatma Gandhi : Prinsip Hidup, Pemikiran Politik Dan Konsep Ekonomi , 2005:19).
Gandhi memimpin gerakan non-koperatif dan nir-kekerasan melawan Pemerintah Inggris dengan aksi boikot terhadap segala sesuatu yang menyangkut dengan Inggris.Hal ini menyangkut segala hal, misalnya, boikot segala barang dan jasa produksi Inggris, termasuk pemboikotan terhadap kinerja seluruh institusi yang beroperasi dan diperuntukkan bagi orang-orang Inggris. Gerakan ini benar-benar menggugah semangat baru dan berhasil menggedor rasa ketakutan India pada penguasa asing. Hal ini berbuah dengan ditangkapnya sebagian besar satyagrahis ( para penngikut setia ajaran Satyagraha ) dan dijebloskannya ke penjara. Hal ini semakin mengukuhkan tekad perjuangan rakyat India. Namun Gandhi juga yakin bahwa ekses gerakan ini juga merambat pada upaya kekerasan, satu hal yang bertentangan pada konsep Gandhi tentang Ahimsa, yaitu konsep perjuangan nir-kekerasan. Oleh karena itu, Gandhi senantiasa bersiap untuk berpuasa sebagai upaya penebusan dosa atas segala kekerasan yang terjadi. Kekerasan mencapai puncak saat pada tanggal 5 Februari 1922, saat terjadi pembunuhan massal 23 orang polisi dalam sebuah kerusuhan massadi Chauri Chaura, sebah desa terpencil di India Selatan. Ini kemudian yang memicu Gandhi untuk menghentikan program pembangkangan sipilnya. 10 Maret 1922, Gandhi resmi dipenjara. Dan selepas dia dari penjara dua tahun sesudahnya, kondisi India semakin parah dengan timbulnya konflik dan sentimen antar dua pemeluk agama terbesar di India : Hindu dan Islam.
•  Ajaran-Ajaran Gandhi
Tidak ada literatur-literatur atau referensi-referensi yang khusus memuat pokok-pokok ajaran Gandhi dalam satu kumpulan yang sistematis dan terstruktur. Sebagaimana semangat perjuangannya, ajaran-ajaran Gandhi mengalir bersama kebersamaannya dalam kehidupan sosial rakyat India. Pokok-pokok pikiran Gandhi terangkum dalam satu rentang sejarah dan riwayat hidupnya di tengah perjuangan rakyat India. Telah banyak yang telah ditulis Gandhi dalam kehidupan publiknya. Beberapa tulisan itu diantaranya The Autobiography (namun buku ini tidak pernah selesai sampai akhir hayat Gandhi), Satyagraha in South Africa, Hind Swaraj dan General Knowledge About Health.
Namun secara umum, beberapa hal utama yang selalu diserukan oleh Gandhi dalam banyak kesempatan yaitu, diantaranya :
•  Ahimsa
Ajaran ini berasal dari kata himsa (kekerasan). Sesuai dengan asal katanya, ajaran ini menyerukan kepada seluruh umat manusia untuk menjunjung tinggi semangat nir-kekerasan (non-violence) dalam setiap laku kehidupannya. Secara harfiah, ahimsa memiliki makna tidak menyerang, tidak melukai atau tidak membunuh. Ajaran ini sebenarnya merupakan ajaran klasik dari agama Hindu yang mengajarkan prinsip-prinsip etis dalam kehidupan. Ajaran ini yang kemudian dimaknai secara lebih mendalam dan dikembangkan lebih lanjut oleh Gandhi. Gandhi menekankan bahwa makna ahimsa sebagai nir-kekerasan tidak semata-mata berkonotasi negatif (nir/a = tidak), namun juga berkonotasi positif sebagai sebuah semangat dan pedoman hidup.
Dari pemaknaan di atas dapat terlihat bahwa makna ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai. Dalam kerangka pemikiran positif, ahimsa adalah cinta, karena hanya cinta yang bisa muncul secara spontan dan memungkinkan seseorang bertindak selaras dengan hati dan pikirannya. Gandhi berpendapat, “ Nir-kekerasan (non-violence) adalah cinta. Nir-kekerasan itu bertindak menyatu dalam diam, nyaris terselubung dalam kerahasiaan sebagaimana yang dilakukan cinta.” (2005:60-61)
•  Satyagraha
Ajaran ini berarti “keteguhan berpegang pada kebenaran”. Ajaran ini menyerukan untuk tidak ada sedikitpun toleransi atau sikap kompromin dalam menegakkan nilai kebenaran. Cikal bakal ajaran ini adalah peristiwa di Afrika Selatan yang melibatkan warga India di sana. Tanggal 22 Agustus 1906, Pemerintah Tansvaal, Afrika Selatan dalam UUnya mewajibkan seluruh warga India untuk melapor pada pemerintah setempat, membubuhkan sidik jari dan akan menerima sertifikat. Sertifikat itu harus dibawa kemanapun yang bersangkutan bepergian, dengan ancaman pelanggaran adalah dipenjara dan bahkan sampai deportasi. Ini tentu menyulut protes dari para warga India. Namun peerintah tetap bersikukuh dan memenjarakan setiap warga yang membangkang. Tanggal 11 September 1906 Gandhi memimpin seluruh warga India untuk memprotes kebijakan tersebut. Mereka bersumpah untuk tetap berpegang pada pendirian dan bersedia menanggung segala konsekuensinya. Mereka menganggap bahwa sua pilihan antara membayar dena atau deportasi adalah pilihan yang tidak layak untuk dipilih. Ketika seorang India memilih salah satu pilihan itu maka sejatinya yang ada adalah kekalahan dan itu berarti warga India tidak lagi bisa menjaga kehormatan dirinya.
•  Swadeshi
Menurut Gandhi, konsep swasedhi erat kaitannya dengan semangat swaraj sebagai cita-cita bersama seluruh warga India, bahkan seluruh manusia. Dalam bahasa sederhana, Gandhi mengartikannya sebagai “menggunakan apa yang dihasilkan oleh negeri sendiri”. Konsep swadeshi mengarah pada swaraj dalam arti pemerintah oleh negeri sendiri (self-rule) yang senyatanya bertumpu pada kekuatan sendiri (self-reliance). Gandhi menuliskan “Satu negara yang rakyatnya tidak mampu memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan sandang dan pangannya, tiidak akan bisa menikmati swaraj yang sesungguhnya.” (2005:112)
Sejatinya tidak hanya tiga poin tersebut yang menjadi inti ajaran Gandhi. Namun dari tiga semangat yang digaungkan tersebut kita bisa setidaknya meraba-raba untuk mencari tahu landasan-landasan pemikiran dalam setiap gerakan politik Gandhi.
•  Gerakan Politik Roda Pintal
Jauh hari setelah Gandhi bebas dari penjara, melihat kondisi warga India yang semakin mengenaskan, Gandhi menyimpulkan bahwa warga India belum benar-benar terdidik dan paham akan semangat Satyagraha yang sesungguhnya. Sebagai solusinya, dia mencoba tetap mengumandangkan semangat tindakan non-koopertif dengan tetap menekankan aspek nir-kekerasan yang menjadi pijakn dasar dalam perjuangan. Gandhi memulai gerakannya dengan gerakan yang sekaligus menjadi momen paling dramatis dalam sejarah perjuangan Gandhi. Sebagai upaya perlawanan terhadap pajak garam yang diberlakukan Inggris, setelah segala upaya telag ditempuh dan gagal, Gandhi mencanangkan gerakan mengambil garam dari tangannya sendiri. Seruan ini disambut secara besar-besaran oleh segenap rakyat India. Pada 12 Maret 1930 di pagi buta Gandhi bersama 78 sukarelawan mulai perjalanannya dari Sabarmati menuju wilayah pantai Dandi dengan jarak tempuh sekitar 241 mil dan membutuhkan waktu sekitar 24 hari perjalanannya. Sesampai di tujuan, mereka melakukan perlawanan terhadap UU tentang Pajak garam dengan memproduksi sendiri garam dari air laut.
Pasca gerakan perlawanan pajak garam tersebut, secara lebih jauh, Gandhi menggagas tiga konsep dasar sebagai satu tahapan mencapai swaraj (kemerdekaan). Tiga gagasan yang dianggap tidak populis oleh banyak pihak, yang mengakibatkan Gandhi ditinggalkan lebih dari separuh pengikut setianya dan sebagian besar rakyat India. Dalam pandangan mereka, perjuangan dan semangat Gandhi telah banyak merosot seiring termakannya usia. Dalam pandangan mereka, Gandhi telah sangat melunak dan tak dapat diharapkan lagi dalam upaya mencapai swaraj . Tiga konsep tersebut yaitu :
•  Bersatunya penganut agama Hindu dan agama Islam sebagai dua komunitas agama terbesar di India, dalam satu kerukunan, kebersamaan dan ikatan sesama warga India.
•  Dihapuskannya kasta pariah dalam tatanan kehidupan masyarakat India. Yaitu kasta ‘orang-orang terbuang' atau golongan orang yang tidak termasuk dalam empat kasta yang ada ( brahmana , ksatrya , waisya , sudra )
•  Dibudayakannya kegiatan pemintalan benang dalam setiap keluarga masyarakat India.
1. Bersatunya Umat Hindu-Islam, Terwujudnya Daulat Rakyat India
Gandhi meyakini bahwa metode yang diterapkan dalam satu tahapan perjuangan erat kaitannya dengan dan bahkan tidak bisa terpisah secara parsial dengan tujuan yang ingin dicapai. Swaraj (kemerdekaan) sebagai tujuan bersama warga India dalam hal ini mengandung makna sebagai Truth (kebenaran), yaitu suatu kebenaran obyektif, kebenaran kolektif yang akan dicapai sebagai cita-cita bersama. Hal ini tentu tidak akan pernah terwujud dan tercapai melalui metode-metode yang senyatanya bertentangan dengan semangat Truth tersebut, yaitu perpecahan antara umat Hindu dan umat Islam sebagai sesama waga India yang terikat dalam satu kesatuan bangsa. Perpecahan ini dimaknai Gandhi sebagai bentuk non-Truth (ketidakbenaran) yang tentu saja bertentangan samangat Truth dalam swaraj , yang secara otomatis membuat swaraj sebagai cita-cita bersama tidak akan pernah terwujud.
Pembacaan masalah ini dilandasi oleh pemikiran Gandhi yang menempatkan makna swaraj bukan sekadar kemerdekaan India dari kolonial Inggris, namun lebih daripda itu yaitu kemerdekaan setiap individu warga India baik secara personal ataupun dalam satu kesatuan warga India untuk mencapai kesejatian dalam hidupnya. Gandhi memaknai pencapaian kemerdekaan dari kolonial Inggris ‘hanya' merupakan pijakan untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya yaitu kesejatian hidup. Ini tidak akan pernah terwujud melalui metode-metode yang ternyata masih menyandang semangat non-truth .
2. Dihapuskannya Kasta Pariah , Satu Bentuk Pengakuan Kesetaraan
Sebagaimana penghargaan masyarakat India terhadap Gandhi dengan menyebutnya dengan panggilan Mahatma yang berarti Jiwa Yang Agung (sekalipun Gandhi selalu kurang begitu suka dipanggil dengan sebutan tersebut), dalam upaya penghormatannya terhadap Kaum Pariah , Gandhi menyebut kaum ini dengan sebutan Harijan (ank-anak Tuhan). Gandhi mengungkapkan :
“ Apa yang saya dambakan, apa yang membuat saya tetap bersemangat hidup, dan apa yang harus saya perjuangkan hingga ke titikdarah penghabisan, adalah penghapusan ketidakadilan atas kaum yang dianggap sangat rendah hingga tidak boleh disentuh oleh sesama manusia-karenanya mereka tidak berkasta (untouchability atau di-pariah-kan atau dinajiskan). Saya ingin menghapusnya hingga ke akar-akarnya, ke cabang-cabangnya... Perjuangan saya menentang keadilan ini adalah perjuangan menentang kekejian atas kemanusiaan. Teriakan saya akan terus bergema hingga mencapai Singgasana Yang Maha Kuasa” (2005;24-25)
Dengan kerangka pikir yang sama terhadap sinergitas antara metode dan tujuan seperti tertera di atas, Gandhi menegaskan bahwa segala bentuk ketidakadilan semacam yang telah diterima dan dirasakan oleh Kaum Pariah ini hanya akan semakin menjauhkan warga India dari apa yang telah bersama-sama mereka cita-citakan : Swaraj! .Gandhi berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang baik tidak akan pernah terwujud dengan cara yang buruk. Segala tujuan yang baik tidak akan pernah tercapai melalui satu metode yang buruk. Segala sesuatunya, baik tujuan maupun metode harus berjalan beriringan, tak terpisahkan satu sama lain dan berfungsi secara sinergis.
3. Gerakan Roda Pintal, Gerakan Kemandirian Masyarakat
Dalam satu konsep gagasan Gandhi dalam tercapainya swaraj adalah terciptanya satu masyarakat yang mandiri dan berkompetensi diri yang mumpuni dalam hal upayanya meraih satu kesejahteraan integral. Terkait dengan lalah satu pokok ajarannya yaitu swadeshi, Gandhi mencita-citakan terciptanya desa-desa swasembada dalam bingkai desentralisasi ekonomi. Gandhi menghimbau terhadap seluruh masyarakat India untuk selalu mempergunakan dan mengkonsumsi segala sesuatu dari produksi industri rumah tangga dalam satu semangat penanaman tradisi ‘cinta produksi dalam negeri'. Gandhi membanyangkan dimana satu desa yang mempunyai kemampuan sendiri dalam mengupayakan kesejahteraan integral bagi warga desanya sendiri.
Di balik gagasan Gandhi tentang pembudayaan roda pintal dalam setiap rumah tangga warga India pada dasarnya tersirat banyak aspek. Dalam perspektif pembangunan infrastruktur ekonomi, misalnya, Gandhi ingin mengajarkan satu kemandirian ekonomi. Hal ini dirasa sangat dibutuhkan sebagai satu komponen utama dalam terciptanya swaraj. Secara lebih jauh, gerakan ini bahkan diharapkan sebagai cikal bakal berdirinya satu tatanan Negara Kesejahteraan (Welfare State) di India. Dalam ranah politik, hal ini bisa dimaknai sebagai kemandirian warga India sebagai tolok ukur kemampuannya dalam menjalankan pemerintahan mandiri yang benar-benar lepas dari intervensi pihak manapun. Ini kemudian menjadi (bargaining position) India di mata internasional dalam upaya penggalian dukungan terhadap kemerdekaan India.
Dalam sisi sosial, gerakan ini juga dimaknai oleh Gandhi sebagai upaya pendisiplinan dan pembentukan mental warga India dalam menyongsong cita-cita swaraj. Setiap individu dalam masyarakat India, oleh Gandhi, sebisa mungkin dikondisikan sebagai individu yang berkemampuan dan berkompetensi untuk (minimal) menyokong kebutuhan dirinya sendiri. Dari kompetensi itu diharapkan sebuah kemandirian masyarakat bisa tercipta dan dalam konteks lebih besar, Negara Kesejahteraan ( Welfare State ) bisa terwujud. Gandhi juga menyerukan adanya sumpah warga India untuk “hanya akan menggunakan pakaian terbuat dari kapas, wol atau sutera yang diproduksi India, baik hasil tenunan maupun pemintalan dengan tangan”. Ini tidak dimaknai sebagai upaya nasionalisme sempit yang mengarah pada semangat eksklusifisme India, namun semata sebagai wujud dukungan solidaritas dan kebersamaan demi perbaikan dan kemajuan industri dalam negeri. Gandhi menulis, “Swadeshi adalah semangat di mata kita harus membatasi diri untuk hanya menggunakan barang dan jasa yang dihasilkan oleh lingkungan terdekat kita dan menghindari produksi yang dihasilkan jauh dari lingkungan kita... Dalam perspektif ekonomi, saya hanya akan memakai barang-barang yang dihasilkan oleh tetangga dekat dan melindungi industri-industri tersebut dengan menjadikan mereka lebih efisien dan sempurna, jika mereka belum bisa mencapainya.” Mental inilah yang kemudian diharapkan sebagai landasan awal sekaligus andalan guna mencapai cita-cita bersama : swaraj
Simpulan
Sampai sekarang, kita tahu telah teramat banyak konsep pemikiran yang lahir dan menghiasi kehidupan sosial, politik maupun perekonomian dunia. Dalam konteks kekinian, mainstream Neo-Liberal atau bahkan Kapitalisme juga telah banyak melahirkan kritik, otokritik bakan sampai teori yang merefisi atau melengkapinya. Bingkai materialisme dalam budaya pemikiran Barat yang akhir-akhir ini tampak mendominasi juga telah terpetakan kelemahan dan kritiknya. Ini yang kemudian pemikiran Gandhi sebagai sebuah varian dalam khazanah pemikiran Timur, menjadi layak dan bahkan menarik untuk dikaji dan dibincangkan. Budaya pemikiran Timur yang secara garis besar dapat dilekatkan dalam persamaannya mengenai konsep spiritual, kiranya menjadi jawaban sekaligus otokritik terhadap kelemahan-kelemahan pemikiran Barat yang dirasa terlalu phisicly namun hampa dalam isi (jiwa). Kerinduan manusia modern pada nilai-nilai yang hakiki dalam balutan spiritualitas menjadikan Pemikiran Timur menemukan eksistensinya.
Mohandas Karamchand Gandhi sebagai salah satu tokoh besar dari belahan bumi Timur, juga menawarkan hal serupa dalam ajaran-ajarannya : spiritualitas dan kesejatian jiwa. Kita bisa lihat bagaimana Gandhi bisa mentautkan dan membumikan ajaran agama yang (terkesan) sangat spiritualis menjadi konkret dalam realitas kehidupan keseharian, bahkan dalam konteks kenegaraan sekalipun. Ajaran Ahimsa yang seringkali dimaknai secara individual dengan cara pengasingan diri dan penarikan diri dari kehidupan sosial, oleh Gandhi digubah menjadi satu semangat dari gerakan politis kemasyarakatan. Ajaran Ahimsa kemudian menjadi sangat membumi dan kontekstual dalam realitas kekinian kita. Bahkan kehadiran roda pintal dalam ranah budaya keseharian masyarakat yang awalnya an-sich menjadi sangat kompleks dengan pembacaan strategi politis yang mendalam. Gandhi bisa menuturkan pada kita bahwa dari hal yang terkesan sangat sepele sekalipun (memintal benang), bisa berimplikasi secara luar biasa dalam satu tatanan kenegaraan suatu bangsa.
Pun, sosok seorang Mohandas Karamchand Gandhi tetaplah manusia biasa yang tak luput dari satu atau beberapa kelemahan dalam laku pemikirannya. Sebut saja kelemahan dalam hal cara dia mem publish pola pikir dia dalam lingkup masyarakat India sendiri. Terbukti, pemikiran yang dia tawarkan tentang konsep Ahimsa, Swadeshi dan sebagainya awalnya justru kurang populis dalam keseharian masyarakat India. Pikiran yang baik tetap saja tidak bisa dianggap baik selama penerimaan masyarakat atasnya menjadi tidak baik. Kiranya postulat tersebut cukup menjadi pegangan untuk mengevaluasi ‘jalan perjuangan' Gandhi. Bukan bermaksud menisbikan apa yang telah dihasilkan Gandhi, adalah tugas generasi selanjutnya untuk menjaga yang telah tercipta dan melanjutkan apa yang belum tercapai. Begitu, bukan?
“Bawa pergi apa yang bisa kaubawa, ambillah dariku haya hal-hal yang, setelah kau rnungkan, juga benar menurutmu.”
Mahatma Gandhi
 
Daftar Pustaka
Alappatt, Francis. Mahatma Gandhi Prinsip Hidup, Pemikiran Politik dan Konsep Ekonomi , Terjemahan Dari : Francis Alappatt, Welfare” ini The Gandhian Economics ang in The Welfare State, Terj : S. Farida, 2005, Nusamedia-Nuansa : Bandung
Kakar, Sudhir. Gandhi Cintaku, Terjemahan Dari : Mira & The Mahatma, Terj : Esti A. Budihabsari, 2005, Qanita : Bandung
Takwin, Bagus. Filsafat Timur Sebuah Pengantar Ke Pemikiran-Pemikiran Timur, Jalasutra : Jogjakarta


 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar