Minggu, 03 Juni 2012

FILSAFAT REALISME DALAM PENDIDIKAN


BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang
Pengkajian filosofis  terhadap pendidikan mutlak diperlukan karena  membantu dalam memberikan informasi tentang hakekat manusia sebagai dirinya sendiri baik secara horisontal maupun secara vertikal. Sehingga kajian tentang realitas sangat  dibutuhkan dalam menentukan tujuan akhir pendidikan. Terdapat banyak alasan untuk mempelajari filsafat pendidikan, khususnya apabila ada pertanyaan rasional yang seyogyanya tidak dapat dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu pendidikan. Pakar dan praktisi pendidikan memandang filsafat yang membahas konsep dan praktik pendidikan secara komprehensif sebagai bagian yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Terlebih lagi, di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang melaju sangat pesat, pendidikan harus diberi inovasi agar tidak ketinggalan perkembangan serta memiliki arah tujuan yang jelas. Di sinilah perlunya konstruksi filosofis yang mampu melandasi teori dan praktek pendidikan untuk mencapai keberhasilan substantif.
Disisi lain, kajian filosofis  memberikan informasi  yang berkaitan dengan pengetahuan, sumber pengetahuan, nilai,  dan Seperti bagaimanakah pengetahuan itu diperoleh, bagaimana manusia dapat memperoleh nilai tersebut. Dengan nilai tersebut apakah pendidikan layak untuk diterapkan dan lebih jauh akan membantu untuk menentukan bagaimana seharusnya pendidikan itu dilaksanakan. Pendidikan disisi lain tidak bisa melepaskan tujuan untuk membentuk peserta didik yang memiliki nilai-nilai mulai spritual, agama, kepribadian dan kecerdasan.
Praktek pendidikan memerlukan teori pendidikan, karena teori pendi­dikan akan memberikan manfaat antara lain: (1) Sebagai pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai; (2) Mengurangi kesalahan-­kesalahan dalam praktek pendidikan karena dengan memahami teori dapat dipilih mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan; (3) Sebagai tolok ukur untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pendidikan.
Pendidikan kita tidak sekedar menempatkan manusia  sebagai alat produksi. Manusia harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. Pendidikan tidak boleh terjebak pada teori-teori neoklasik, suatu teori yang menempatkan manusia sebagai alat-alat produksi, dimana penguasaan IPTEK bertujuan menupang kekuasaan dan kepentingan kapitalis. pendidikan tidak memiliki  basis pengembangan budaya yang jelas. Lembaga pendidikan kita hanya  dikembangkan berdasarkan model ekonomik untuk menghasilkan/ membudaya manusia pekerja (abdi dalem) yang sudah disetel  menurut tata nilai ekonomi  yang berlatar (kapitalis) sehingga tidak mengherankan jika keluaran pendidikan  kita menjadi manusia pencari kerja dan tidak berdaya. Bukan manusia kreatif pencipta  keterkaitan kesejahteraan dalam siklus rangkaian manfaat yang seharusnya  menjadi hal yang paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.
Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pangalaman nyata.
Teori pendidikan yang berisikan konsep-konsep dapat dipelajari dengan menggunakan berbagai pendekatan, antara lain pendekatan filosofi yang akan melahirkan pemahaman tentang filsafat pendidikan. Pendekatan filosofis terhadap pendidikan merupakan suatu pende­katan untuk menelaah dan memecahkan masalah pendidikan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat, karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang terbatas pada pengalaman.
Dalam kegiatan pendidikan akan muncul masalah yang lebih luas, kompleks, dan mendalam serta tidak terbatas oleh pengalaman indrawi maupun fakta-fakta sehingga tidak dapat dijangkau oleh ilmu pendidikan (science of education). Masalah-masalah tersebut antara lain adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup manusia. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan suatu fakta, namun pembahasannya tidak dapat dikaji hanya dengan menggunakan pendekatan sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam melalui filsafat.
Sejarah filsafat menunjukkan bahwa tidak hanya satu filsafat yang berkembang, melainkan banyak jenis aliran atau mazhab filsafat. Dalam filsafat ditemukan adanya aliran seperti idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, eksistensialime, dan sebagainya. Dengan demikian, pendekatan filosofis dalam memaknai teori pendidikan akan didasari oleh berbagai aliran filsafat tersebut. Dalam mempelajari dan mengembangkan teori pendidikan perlu dipahami aliran-aliran filsafat yang melandasinya. Kiranya kegiatan pendidikan tidak sekedar dipandang sebagai gejala sosial yang bersifat rasional semata akan tetapi ada sesuatu yang mendasarinya. Peranan filsafat dalam mendasari teori ataupun praktek pendidikan merupakan salah satu sumbangan berharga bagi pengembangan pendidikan. Dengan memperhatikan uraian di atas, salah satu pertanyaan yang muncul adalah: “Bagaimana aliran-aliran filsafat melandasi teori pendidikan?” Pertanyaan tersebut akan dijawab dengan mengkaji pemikiran tentang teori pendidikan menurut aliran-aliran filsafat yang ada. Di antara sekian banyak aliran filsafat, kajian ini akan difokuskan untuk membahas pemikiran tentang teori pendidikan menurut aliran filsafat realisme.

1.2.   Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, ada beberapa rumusan masalah yang dideskripsikan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah tujuan filsafat dalam pendidikan?
2.      bagaimanakah latarbelakang munculnya filsafat realisme?
3.      bagaimanakan implikasi Filsafat realisme dalam pendidikan?

1.3.  Tujuan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang dan Rumusan masalah diatas, tujuan yang diharapkan dalam makalah ini adalah:
1.      Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tujuan filsafat dalam pendidikan;
2.      Untuk mendeskripsikan dan menganalisis latarbelakang munculnya filsafat realisme ; dan
3.      Untuk mendeskripsikan dan menganalisis implikasi Filsafat realisme dalam pendidikan.
1.4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam makalah ini adalah;
1.      Menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan tentang filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat realisme pada khususnya.
2.      Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bahwa Pendekatan filosofis terhadap pendidikan merupakan suatu pende­katan untuk menelaah dan memecahkan masalah pendidikan.



BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Filsafat Dalam Pendidikan
        Pada hakikatnya, pendidikan mencakup kegiatan  mendidik, mengajar dan melatih. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menstransformasi nilai-nilai yang dimaksud meliputi nilai-nilai religi, budaya sains dan teknologi, seni dan keterampilan. Namun, tanpa filsafat  pendidikan tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak tau apa yang harus dikerjakan (Wangsa Gandhi HW, Teguh. 2011: 67-72)
Filosofi pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik. Kerangka filosofis memberikan gambaran tentang cara pandang guru terhadap pendidikan itu sendiri (termasuk didalamnya kurikulum, tujuan pendidikan dan isi pendidikan), anak didik dan proses pembelajaran. Kerangka filosofis harus menjadi kerangka berpikir guru atau mind set guru dalam menyelenggarakan praksis pembelajaran. Adapun landasan pedagogis memberikan sejumlah pemahaman konseptual dan praktis tentang bagaimana proses pendidikan itu terjadi dalam berbagai lingkungan, termasuk didalamnya adalah pola pengasuhan anak, model pembelajaran, metode pembelajaran dan teknik pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar,
penyusunan langkah pembelajaran dan penilaian yang mendidik.Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir, namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Tegasnya, filsafat adalah karya akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu atau pendekatan yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Menurut Immanuel Kant (1724-1804) yang seringkali disebut sebagai raksasa pemikir Barat, filsafat adalah ilmu pokok yang merupakan pangkal dari segala pengetahuan.
Kerana luasnya lapangan filsafat, orang sepakat mempelajari filsafat dengan dua cara, yaitu mempelajari sejarah perkembangannya (metode historis) dan mempelajari isi atau pembahasannya dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis). Dalam metode historis orang mempelajari sejarah perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan. Dalam metode sistematis orang membahas isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan sejarahnya. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah. Dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan yang buruk dalam perbuatan manusia. Dalam metode sistematis ini para filsuf dikonfrontasikan tanpa mempersoalkan periodasi masing-masing.
Filsafat itu sangat luas cakupan pembahasannya, yang ditujunya adalah mencari hakihat kebenaran atas segala sesuatu yang meliputi kebenaran berpikir (logika), berperilaku (etika), serta mencari hakikat atau keaslian (metafisika). Sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini lapangan-lapangan yang paling utama dalam filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika, dan etika. Dengan memperhatikan sejarah serta perkembangannya, filsafat mempunyai beberapa cabang yaitu: (1) Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia; (2) Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah; (3) Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk; (4) Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek; (5) Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan; (6) Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
Filsafat akan memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, tentang kebenaran. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru serta membangun keyakinan atas dasar kematangan intelektual. Filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi dapat dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Filsafat akan memberikan dasar-dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk hidup secara baik, bagaimana hidup secara baik dan bahagia. Dengan kata lain, tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).
Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan banu, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964) berpendapat bahwa filsafat merupakan teon umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.
Setiap praktik pendidikan atau pembelajaran tidak terlepas dari sejumlah masalah dalam mencapai tujuannya. Upaya pemecahan masalah tersebut akan memerlukan landasan teoretis-filosofis mengenai apa hakikat pendidikan dan bagaimana proses pendidikan dilaksanakan. Henderson dalam Sadulloh (2004) mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan suatu sumbangan yang berharga dalam pengembangan pendidikan, baik pada tataran teoretis maupun praktis. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir dengan cabang-cabangnya (metafisika, epistemologi, dan aksiologi) dapat mendasari pemikiran tentang pendidikan.
Menurut Brubacher (1959), terdapat tiga prinsip filsafat yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: (1) persoalan etika atau teori nilai; (2) persoalan epistemologi atau teori pengetahuan; dan (3) persoalan metafisika atau teoni hakikat realitas. Untuk menentukan tujuan pendidikan, memotivasi belajar, mengukur hasil, pendidikan akan berhubungan dengan tata nilai. Persoalan kuriikulum akan berkaitan dengan epistemologi. Pembahasan tentang hakikat realitas, pandangan tentang hakikat dunia dan hakikat manusia khususnya, diperlukan untuk menentukan tujuan akhir pendidikan.
Metafisika memberikan sumbangan pemikiran dalam membahas hakikat manusia pada umumnya, khususnya yang berkaitan dengan hakikat anak, yang bermanfaat dalam menentiikan tujuan akhir pendidikan. Mempelajari metafisika perlu sekali untuk mengontrol tujuan pendidikan dan untuk mengetahui bagaimana dunia anak. Epistemologi sebagai teori pengetahuan, tidak hanya menentukan pengetahuan mana yang harus dipelajari tetapi juga menentukan bagaimana seharusnya siswa belajar dan bagaimana guru mengajar. Pendidikan perlu mengetahui persoalan belajar untuk mengembangkan kurikulum, proses dan metode belajar. Aksiologi akan menentukan nilai-nilai yang baik dan yang buruk yang turut menentukan perbuatan pendidikan. Aksiologi dibutuhkan dalam pendidikan, karena pendidikan harus menentukan nilai-nilai mana yang akan dicapai melalui proses pendidikan. Disadari atau tidak, pendidikan akan berhubungan dengan nilai, dan pendidikan harus menyadari kepentingan nilai-nilai tersebut.
Dalam arti luas filsafat pendidikan mencakup filsafat praktek pendidikan dan filsafat ilmu pendidikan (Mudyahardjo, 2001). Filsafat praktek pendidikan membahas tentang bagaimana seharusnya  pendi-dikan diselenggarakan dan dilaksanakan dalam kehidupan manusia mencakup filsafat praktek pendidikan dan filsafat sosial pendidikan. Filsafat ilmu pendidikan adalah analisis kritis komprehensif tentang pendidikan sebagai bentuk teori pendidikan. Aspek filsafat dalam ilmu pendidikan dapat dilihat berdasarkan empat kategori sebagai berikut: (1) Ontologi ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan; (2) Epistemologi ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat objek formal dan material ilmu pendidikan; (3) Metodologi ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan; (4) Aksiologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakekat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.
Kajian terhadap fisafat pendidikan akan memadukan keempat aspek tersebut di atas sebagai landasan dalam menjawab tiga masalah pokok, yaitu sebagai berikut: (1) Apakah sebenarnya pendidikan itu? (2) apakah tujuan pendidikan sebenarnya? dan (3) Dengan cara apa tujuan pendidikan itu dapat dicapai? (Henderson, 1959). Jawaban masalah pokok tersebut tertuang dalam: (1) Tujuan pendidikan: (2) Kurikulum, (3) Metode pendidikan, (4) Peranan peserta didik; dan (5)  Peran tenaga pendidik.
Dalam sejarah perkembangan filsafat telah lahir sejumlah aliran filsafat. Dengan adanya aliran-aliran filsafat, maka konsepsi mengenai filsafat pendidikan telah dipengaruhi oleh aliran-aliran tersebut. Dengan memperhatikan obyek filsafat dan masalah pokok pendidikan, selanjutnya akan dibahas aliran filsafat idealisme dan realisme dalam melandasi pengembangan teori pendidikan.

2.2  Latarbelakang Filsafat Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill
2.2.1        Realisme Klasik
a.      Aristoteles (384-322 SM)
Plato percaya bahwa materi tidak mempunyai akhir realitas dan bahwa kita seharusnya memperhatikan diri kita sendiri dengan ide-ide. Adalah seorang murid Plato yaitu Aristoteles, lebih lanjut, telah mengembangkan gagasan bahwa sementara gagasan-gagasan mungkin penting bagi diri mereka sendiri, pembelajaran yang utama tentang materi mengantarkan kita pada gagasan-gagasan yang jelas yang lebih baik. Aristoteles belajar dan mengajar di Akademi milik plato kurang lebih selama dua puluh tahun kemudian dia membuka sekolah sendiri, Lysium. Perbedaannya denga plato dikembangkan secara teratur dan dalam penghormatan yang tinggi dia tidak pernah keluar dari bawah pengaruh pemikiran Plato.
Menurut Aristoteles, gagasan-gagasan (atau bentuk-bentuk), seperti ide tentang Tuhan atau ide-ide tentang sebuah pohon bisa ada walaupun tanpa materi, tapi tidak ada materi yang ada tanpa bentuk. Setiap bagian dari materi memiliki baik sebuah sifat penting/tertentu yang menyuluruh. Sifat penting dari sebuah biji pohon, sebagai contoh, merupakan hal-hal yang penting bagi biji dan itulah perbedaan biji dari semua biji yang lain. Sifat-sifat ini termasuk ukuranya, bentuk, berat dan warna. Tidak ada biji  yang serupa sama sekali, jadi kita bisa mengatakan bahwa beberapa sifat penting dari suatu biji sebagaimana perbedaan yang mendasar dari hal hal pada semua biji yang lain. Hal ini bisa disebut dengan “bebijian” dan itu adalah hal yang universal dengan semua biji yang lain. Mungkin hal ini bisa dipahami lebih baik dengan mengembalikan pada manusia pada poin ini. Orang, juga, berbeda dalam sifat-sifat tertentu mereka. Mereka memiliki perbedaan bentuk dan ukuran, dan tak ada dua orangpun yang sama persis. Karena semua manusia sesungguhnya berpegang pada sesuatu yang universal, dan ini bisa disebut dengan “kemanusiaan” mereka. Baik kemanusiaan dan bebijian adalah realitas dan mereka ada secara bebas dan dihargai bagi satu jenis sifat manusia atau biji apapun.  Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa bentuk-bentuk (universal, gagasan, atau esensi) adalah aspek-aspek non-material dari masing-masing objek materi tertentu yang menghubungkan pada semua objek-objek penting lainnya dari kelas tersebut.  Berpikir pada non-material mungkin kita bisa sampai padanya dengan menguji objek-objek material yang ada dalam diri mereka sendiri, terbebas dari kita. Aristoteles berkeyakinan kita harus banyak terlibat dalam mempelajari dan memahami ralitas pada benda-benda itu semua. Memang, dia setuju dengan Plato dalam posisinya. Bagaimanapun juga mereka berbeda, dalam hal tadi Aristoteles merasa seseorang bisa mendapatkan suatu bentuk dari pembelajaran benda-benda materi tertentu, dan Plato yakin bentuk bisa dicapai hanya dengan melalui beberapa jenis alasan yang dialektis.
Aristoteles menentang bahwa bentuk adalah benda, sifat universal dari suatu objek (benda), berada tetap dan tidak pernah berubah padahal komponen-komponen penting sungguh (bisa) berubah. Sel dalam suatu biji mungkin tidak bisa dipadukan dan sebuah biji mungkin bisa dihancurkan, tapi bentuk dari semua biji-bijian atau bebijian tetap. Dalam istilah pada manusia lagi, meskipun person individu mati, kemanusiaannya tetap ada. Bahkan jika semua manusia harus mati, kemanusiaan akan tetap ada, sebagaimana halnya konsep perputaran akan ada bahkan jika keberadaan lingkaran materi dihancurkan. Jika kita melihat pada istilah ini pada perkembangan manusia, kita dapat  melihat bahwa seperti anak, masing-masing individu memiliki karakteristik tertentu dari kekanakan. Karena mereka tumbuh, lebih lanjut, badan mereka berubah dan mereka memasuki pada masa pertumbuhan yang disebut dengan masa adolesen (remaja); kemudian mereka menjadi dewasa. Sifat kemanusiaan tetap bahkan meskipun proses pertumbuhan pada individu tersebut berubah berapa kali.
Dengan demikian, bentuk tetap konstan sedangkan sifat materi berubah. Aristotels dan Plato menyetujui pada poin bahwa bentuk konstan dan materi selalu berubah. Tapi Aristoteles meyakini bentuk ada dalam materi tertentu dan bahkan motivasi kekutan pada materi tersebut. Dengan tanda yang sama, filosuf modern yaitu Henri Bergson berbicara tentang sebuah hal mendasar atau prinsip dasar bahwa setiap objek memilikit dan mengarahkanya pada istilah yang memenuhi/mengisi tujuanya. Ini bisa dilihat dalah perkembangan yang benar pada sebuah biji yang mengisi tujuannya dalam menjadi sebuah pohon. Ia harus mengambil sejumlah sinar matahari dan air yang cukup, ia harus membentuk akarnya semakin dalam dan ia harus menerima makanan denan cara yang pas/tepat. Masing-masing objek, Aristoteles berpikir, memiliki sebuah “jiwa” yang sempit yang mengarahkannya dalam jalan yang tepat.
Aristoteles adalah seorang ilmuan dan filosuf dan dia mempercayai bahwa meskipun kita boleh memisahkan sains dan filsafat sesuai dengan coraknya, masih ada sebuah hubungan antara mereka yang mana pembelajaran pada salah satunya membantu kita dalam mempelajari yang lain. Sebagai contoh, dengan mempelajari aspek-aspek materi dari sebuah biji- selnya, warnanya dan juga seterusnya- kita seharusnya dihantarkan lebih dalam memuju sebuah kontemplasi(pemikiran) tentang apa sesungguhnya biji itu sendiri, esensinya dan bentuknya. Tentu saja, sejumlah keputusan bergantung dalam mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang benar. Ada beberapa pertanyaan ilmiah dan pertanyaan filosofis dan mereka saling menyalip/mendahului. Jika kita pergi kepantai dan mengambil kerang, kita bisa mempertanyakan diri kita sendiri banyak pertanyaan ilmiah tentang kerang tersebut. Tersusun dari apakah ia? Berapa lamakah ia ada? Apa yang hidup di dalamnya? Berapa beratnya? Ada banyak pertanyaan semacam ini dan jawaban mereka cukup tentang kerang tersebut, tapi kita akan sedang mempertanyakan hanya tentang aspek-aspek sifat psikis. Kita juga bisa mempertanyaan jenis pertanyaan yang lain. Apa arti kerang? Siapa yang menciptakan nama itu? Apa tujuannya? Jenis-jenis pertanyaan ini berdasarkan filosofis, meskipun mereka bisa dibawa keluar dengan penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Hal ini telah ditunjukan, sebagai contoh, pada pada jurnal tahuna The Bulletin of Atomic Physicists yang menjadi lebih berorientasi filosofi. Ini akan mendorong klaim Aristoteles baha semakin dalam kita masuk ke dalam materi maka kita akan semakin dihantarkan pada filsafat.
Pertanyaan-pertanyaan yang paling penting kita bisa mempertanyakan tentang benda-benda yang menghubungkan pada tujuan-tujuan mereka. Aristoteles merasa bahwa setiap benda memiliki sebuah tujuan dan fungsi/kegunaan. Apakah fungsi/tujuan adanya ikan? Jika kita mengujinya secara hati-hati kita mungkin mengatakan bahwa tujuannya ialah untuk berenang. Fungsi dari burung adalah untuk terbang. Apa, pemikiran, yang menjadi tujuan kemanusiaan? Aristoteles meyakinin bahwa karena manusia adalah hanya ciptaan yang diberi kemampuan untuk berpikir, tujuan mereka adalah untuk mengguanakan kemampuan ini. Dengan demikian, kita mencapai tujuan kita yang benar ketika kita berpikir dan kita terus melawan ini ketika kita tidak berpikir atau ketika kita tidak berpikir secara cerdas.
Menurut Aristoteles, ada desain/rancangan dan perintah/atuarn dalam alam semesta ini, bagi setiap hal yang terjadi dalam sebuah cara yang teratur. Sebuah biji menjadi sebuah batang pohon dan bukan sejenis pohon. Seekor anak kucing menjadi kucing bukan anjing. Kita bisa memahami alam semesta dengan mempelajari istilah dari tujuan-tujuanya. Dengan demikian, apapun yang terjadi bisa dijelaskan menurut tujuannya. Biji mengikuti pada tujuannya dan seekor anak kucing memiliki tujuanyan pula. Dengan mengembalikan pada manusia, kita telah melihat bahwa tujuan kita ialah untuk berpikir, tapi kita mengakui kita bisa menolak untuk berpikir atau berpikir secara bodoh. Kita bisa menghindari pemikiran dengan tidak memperhatikan, dengan menyalah arahkan pemikiran kita, atau atau dengan selain pemikiran yang subversif. Aristoteles meyakini baha kita bisa menolak untuk berpikir dan oleh karena itu terus menentang desain pada alam semesta ini dan alasan bagi penciptaan kita; dengan demikian kita memiliki keinginan yang bebas. Ketika kita terus melawan tujuan ini, lebih lanjut lagi, kita mengalami sebuah konsekuensi dari gagasan-gagasan yang salah atau keliru, kesehatan yang lemah, dan sebuah ketidak-bahagiaan hidup diantara benda-benda yang lain.
Bagi Aristoteles, orang yang mengikuti sebuah tujuan yang benar mengantarkannya pada sebuah kehidupan rasional pada moderisasi(tdk berlebih-lebihan), menghindari keekstriman (kekerasan). Ada dua ekstrimis pengikut Aristoteles: ekstrem yang terlalu sedikit dan ekstrem terlalu banyak. Dalam istilah makan, jika seseorang makan terlalu banyak, seseorang akan dengan rakus dan mengalami obesitas, kurang energi, lemah dalam kesehatan secara keseluruhan atau mati dengan sendirinya. Orang yang tidak berlebih-lebihan atau wanita, orang yang berpikir, menghindari semacam exsesi. Menurut Aristoteles, perspektif utama ialah Arti yang Bermakana, sebuah jalan diantara ekstremis.
Konsep Aristoteles tentang Arti yang Bermakna diilustrasikan dengan pemikirannya tentang sebuah jiwa sebagai sebuah entitas untuk dijaga dalam sebuah keseimbangan. Dia berbicara tentang tiga aspek tentang jiwa vegetatif manusia, hewan, dan rasional. Kita boleh mengatakan bahwa ketika manusia tumbuh, mereka mengikuti ektsrim yang terlalu sedikit, ketika mereka marah dan bermusuhan dengan aspek-aspek harmonis, mereka mengikuti jalan yang bagi konsep Plato tentang keberadaan yang ideal dimana keberadaan kebaikan adalah sebuah kesatuan dimana semua kelas-kelas tersebut, yaitu, kuningan (vegetatif), perak (hewan) dan emas (rasional) adalah keseimbangan dan keserasian. Aristoteles yakin bahwa sebuah pendidikan yang baik membantu untuk mencapai Arti yang Bermakna dan dekat memajukan keserasian dan keseimbangan baik jiwa dan badan.
Menurut pandangan Aristoteles, keseimbangan adalah merupakan pusat. Dia melihat semua alam semesta dalam seimbang dan bergaya secara teratur. Sejauh yang diperhatikan pada diri manusia, dia tidak melihat badan dan pikiran dengan posisi yang menurut Plato; lebih, badan adalah sarana-sarana yang mana denganya data masuk kedalam kita melalui panca indera. Data yang masak pada panca indera diatur dengan pikiran yang masuk akal. Prinsip universal diciptakan oleh akal dari sebuah pengujian tertentu dengan menggunakan panca indera. Dengan demikian, badan dan pikiran bergerak bersama dalam sebuah keseimbangan meliputi seluruh konsistensi internal dalam diri mereka.
Aristoteles tidak memisahkan sebuah benda tertentu dari wujud universalnya. Materi dan bentuk bukanlah dua jenis hal yang berbeda dari sebuah wujud, melainkan sebagai aspek-aspek fundamental dari hal yang sama. Bentuk adalah sebuah materi, karena kebentukan materi merupakan sebuah pandangan yang keliru/salah, bukanlah sebuah realitas. Hal penting untuk dilihat ialah semua materi berada dalam tahapan-tahapan aktualisasi. Padahal Plato tertarik terutamanya dalam bidang dari bentuk-bentuk atau ide-ide. Aristoteles mencoba untuk menyatukan dunia tentang materi dengan dunia pada bentuk-bentuk. Sebagai sebuah contoh dari ini ialah pandanganya pada kebenaran dan potensialitas. Aktualitas merupakan suatu bentuk yang lengkap dan sempurna. Potensialitas merujuk kepada kapabilitas pada wujud yang terwujud atau peraihan kesempurnaan dan bentuk. Ini merupakan kesatuan bentuk dan materi yang memberikan realitas konkrit tentang benda-benda. Dengan kata lain, sebuah individu biji mengandung bentuk dan materi yang menyusun biji “nyata” dalam pengalaman dalam pengertian dunia yang biasa dikehidupan sehari-hari.
Hal ini lebih jauh diilustrasikan oleh konsepsi (pengertian) Aristoteles tentang empat sebab-sebab: (1) Sebab Material, materi yang darinya sesuatu dibentuk; (2) Sebab Formal, rancangan yang membentuk objek material; (3) Sebab Efisien, agen yang memproduksi objek; dan (4) Sebab Final, petunjuk yang mengarah kepada pendirian objek tersebut. Dalam pengertian bahasa yang biasa, ketika kita berbicara tentang sebuah rumah, material itu terbuat dari (kayu, bata, dan paku) yang merupakan Sebab Materialnya; sketsa atau perencanaan yang mengikuti konstruksinya adalah Sebab Formal; tukang kayu yang membangunya adalah Sebab Efisiennya; dan Sebab Finalnya ialah bahwa ia merupakan sebuah tempat untuk tinggal, sebuah rumah. Materi ada dalam proses, bergerak menuju akhir. Dalam pengertian ini, pemikiran Aristoteles sangat serupa dengan pemikiran modern tentang evolusi dan dugaan/ pemikiran pada alam yang terbuka-tak terbatas. Perbedaan antara Aristoteles dan pemiki pemikiran modern ini ialah bahwa Aristoteles melihat pergerakan ini mengarah pada sebuah akhir yang final, jadi menurutnya alam semesta adalah hanya semacam terbuka-tak terbatas. Kekuatan yang mengendalikan dan memproses secara bersamaan ialah Tuhan, yang mana denganya Aristoteles mengartikan kekuatan atau sumber petunjuk-petunjuk materi berada di luar matrei itu sendiri, sebuah asal Realitas; dengan demikiran, Tuhan merupakan Sebab Pertama, Tujuan Akhir, Penggerak Yang Tak-Bergerak, di luar semua materi dan bentuk. Dalam pandangan ini, kita mungkin mengamati bahwa Filosofi Aristoteles adalah Esoteris sama halnya dengan Filosofi Plato. Karena, bagi Aristoteles, Tuhan adalah sebuah keterangan yang logis bagi aturan alam semesta, keteraturanya dan prinsip-prinsip operasionalnya.
Memang, organisasi merupakan suatu yang esensial bagi filosofi Aristoteles. Segala sesuatu bisa diatur dalam sebuah hierarki. Sebagai contoh, manusia secara biologis adalah berasal dan berakar dalam alam. Bagaimanapun, mereka berusaha untuk sesuatu yang diluar mereka sendiri. Jika mereka dicirikan dengan badan, mereka juga dikarakteristikan dengan jiwa, atau sebuah aspek rasional, kapasitas untuk bergerak dari dalam. Jika badan dan jiwa seimbang mereka juga teratur dan jiwa merupakan sebuah susunan yang lebih tinggi dari badan(tubuh), leibh berkarakteristik dari manusia dibandingkan segala sesuatu apapun. Menurut Aristoteles, manusia adalah binatang yang rasional, paling lengkap penuh maskud mereka ketika mereka berpikir, karena berpikir merupakan ciri khas mereka yang paling tinggi, karena itulah, dengan Aristoteles, segala sesuatu wujud mampu diatur, karena realitas, pengetahuan dan nilai kebebasan pikiran ada, dengan konsistensi internal mereka dan keseimbangan kemampuan memahami wujud dengan pikiran.
Untuk mencapai struktur realitas yang independent (bebas), Aristoteles melakukan proses yang logis. Plato menggunakan dialektik untuk mempersatukan dugaan-dugaan yang benar tentang kebenaran. Aristoteles telah memperhatikan masalah kebenaran juga dan dia mencari aksesnya melalui usaja untuk menyaring dialektik. Metode yang logika yang dia kembangkan adalah Silogisme. Pada dasarnya, silogisme adalah sebuah metode untuk menguji pernyataan-pernyataan yang logis.
Silogisme disusun dari sebuah pemis (dasar pikiran) utama, premis minor dan kesimpulan. Aristoteles menggunakan silogisme untuk membantu kita berpikir secara lebih akurat dengan menyusun pernyataan-pernyataan tentang realitas dalam sebuah logika, bentuk yang sistematis yang sesuai dengan bukti dalam situasi tertentu dibawah pembelajaran.
Pada dasarnya, metode logika Aristoteles adalah deduktif; yaitu, itu berasal dari kebenaranya dari keumuman, seperti “semua manusia musnah”.  Satu permasalahan dengan metode ini ialah bahwa jika dasar pikiran/premis pokok adalah kesalahan maka kesimpulannya akan menjadi salah. Sebuah temuah yang berasal dari penentuan kebenaran pada pokok dasar pemikiran; Dengan metode apakah kita bisa mengujinya dengan akurat? Jika kita melanjutkan menggunakan silogisme, kita juga harus terus menyandarkan diri pada dasar pemikiran umum yang tak-terbukti. Metode logika Aristoteles menemui perbedaan dengan desakanya yang mana kita pahami lebih baik dari (prinsip umum) dengan mempelajari objek-objek materi ilmiah. Dalam contoh berikut ini, kebenaran Arisototeles adalah induktif; yaitu, kita menemukan kebenaran dengan cara-cara tertentu atau sebuah proses berasal dari hal-hal yang khusus ke yang lebih umum. Silogismenya, bagaimanapun berasal dari keumuman (semua manusia musnah) ke kesimpulan yang khusus (Socrates mati/musnah). Masalah metode logika ini merupakan kayu penghalang bagi para pemikir (ilmuan) selama berabad-abad. Pendekatan silogistis membimbing pada sejumlah kesalahan atau posisi yang tak dapat dipertahankan. Tidaklah hingga abad ke-16 tatkala Francis Bacon menemukan sebuah pendekatan induktif yang lebih cocok.
Pangkal kebaikan menurut Aristoteles adalah kebahagiaan; bagaimanapun, kebaikan itu terbebas dari jiwa yang teratur secara baik-berbudi luhur. Hal ini bisa terjadi hanya karena kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan atau budi luhur yang dibentuk melalui jenis pendidikan yang utama. Pendidikan mengharuskan perkembangan/ kemajuan dari kapasitas pemikiran kita oleh karena itu kita bisa membuat jenis-jenis pilihan yang benar. Seperti yang sudah ditandakan, ini adalah sarana langkah/jalan pada moderisasi. Sebuah penerimaan dan mengikuti sebuah prinsip semacam ini menjadi inti dari proposal-proposal edukasional Aristoteles. Meskipun, Aristoteles tidak mempelajari kejelasan ilmiah tentang gagasan-gagasan edukasional miliknya, dia merasa bahwa sifat utama akan terbentuk dengan mengikuti Arti Yang Bermakna. Ini akan menghasilkan perkembangan sosial yang diinginkan dan akan menolong Negara dalam menghasilkan dan memilahara warganya yang baik. Dalam bidang politik, Aristoteles lebih jauh mengembangkan pandanganya bahwa ada hubungan timbal-balik antara orang yang terdidik secara tepat dan warga Negara yang terdidik secara tepat.
Pengaruh faham Aristoteles adalah sebuah kepentingan luas dan mencakup semacam hal-hal seperti pengenalan kebutuhan untuk mempelajari alam secara sistematis menggunakan proses-proses logika dalam pikiran, menghasilkan kebenaran-kebenaran umum melalui sebuah pembelajaran keras pada particular-partikular tertentu, dan menekankan aspek-aspek rasional pada alam manusia.

b.      Thomas Aquinas (1225-1274)
Thomas Aquinas lahir dekat Napoli, Italia pada tahun 1225. pendidikan formalnya dimulai pada saat berumur lima tahun ketika dia dikirim ke kerajaan Benedictin di Monte Casino. Lalu, dia belajar di Universitas Napoli dan pada tahun 1244 dia menjadi seorang biarawan Dominican, mengabdikan kehidupannya untuk beribadah. Hidup dalam kemiskinan dan pekerja keras intelektual. Pada tahun 1245 dia dikirim ke Universitas di Paris, disana dia belajar dibawah bimbingan Albertus Magnus, seorang cendikiawan pengikut folosofi Aristoteles yang terkenal. Dia belajar dan mengajar pada Universitas di Paris hingga tahun 1259, ketika orang-orang Dominic mengirimnya kembali ke Italia untuk membantu mengatur kurikulum bagi sekolah-sekolah Dominic. Dia kembali lagi ke Paris pada tahun 1268 dan dia dikenal dan diingat dalam kehidupanya sebagai seorang Profesor teologi dan sebagai seorang pemimpin eduakatif bagi orang-orang Dominic. Dia meninggal pada tanggal 7 maret tahun 1274.
Gagasan-gagasan Aristoteles memiliki sejumlah dampak pemikiran orang Kristen, dan dalam banyak anggapan mereka memiliki niatan untuk menggali sekularisasi di Gereja, sebagai oposisi terhadap aliran biarawan/wati yang dilahirkan oleh tulisan-tulisan Agusitine. Secara bertahap, gagasan Aristoteles dikorporasikan kedalam agama Kristen dan disediakan sebuah dasar filosofis. Thomas Aquinas menjadi kekuasaan yang mengantarkan Aristoteles kedalam abad pertengahan dan tidak menemukan konflik yang besar antara gagasan-gagasan paganisme para filosuf dan gagasan-gagasan wahyu agama Kristen. Dia menentang bahwa karena Tuhan adalah sebab yang murni, kemudian alam adalah sebab dan dengan menggunakan alasan kita, sebgaimana yang ditegaskan oleh Aristoteles, kita bisa mengetahui hal-hal yang benar. Aquinas juga meletakan penekanan dalam menggunakan indera kita dalam rangka memperoleh pengetahuan tentang dunia, dan bukti-buktinya tentang existensi Tuhan, sebagai contoh, berdasarkan observasi sensoris yang sungguh-sungguh.
Aquinas meyakini Tuhan menciptakan materi bukan dari satu apapun dan Tuhan, sebagai mana yang telah Aristoteles tetapkan, adalah Penggerak Yang Tak-Bergerak yang memberikan arti dan tujuan kepada alam semesta. Dalam karya monumentlnya, Summa Theologica, dia mengumpulkan pendapat-pendapat yang setuju dengan agama Kristen. Dia menggunakan pendekatan rasional yang diusulkan/ditegaskan oleh Aristoteles dalam menganalisa dan mencocokan dengan pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang variatif. Sebagai buktinya, banyak pendapat-pendapat yang mendukung dalam agama Kristen adalah henar-benar berasal darinya, tanpa memperhatikan pada cabang apa dalam agama Kristen didasarkan. Katolik Roma menganggap pemikiran Thomas sebagai filosofi utama.
Thomas Aquinas adalah orang paling utama dari orang-orang gereja. Menurutnya semua kebenaran abadi pada Tuhan. Kebenaran telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia dengan wahyu keTuhanan, tapi tuhan juga telah memberkati manuisa dengea kemampuan akal untuk mencari kebenaran. Sebagai mana ia menjadi orang gereja, Aquinas tidak menjadikan alasan subordianat kewahyuan, tapi dia benar-benar ingin memberikan alasan pada sebuah tempat yang utama. Pada kepentingannya, dia mewacanakan teologi sebagai perhatian utama dan filosofi sebagai “teologi handmaiden”. Dengan demikian, dengan pengenalan supremasi teologi, dia mampu menjelajahi perkembangan filosofis pada pemikiran keagamaan secara lebih penuh.
Aquinas sepaham dengan Aristoteles bahwa kita datang ke alam semesta dengan sebuah pembelajaran tertentu. Dia menerima tesis kebebasan dan “bentuk” sebagai prinsip cirri dari semua wujud. Dia menjunjung tinggi “Prinsip Keberadaan” Yang sama dengan pandangan Aristoteles  pada setiap eksistensi yang bergerak menuju kesempurnaan dalam bentuk (isi). Sedangkan dia menyetujui bahwa jiwa adalah bentuk dari badan, dia berpegangan bahwa jiwa bukan berasal dari akar-akar biologis manusia. Cukup, jiwa dari sebagai ciptaan tuhan, musnah dan dari tuhan, Aquinas melambangkan pemikiran “skolastik” abad pertengahan, sebuah pendekatan yang menekakankan sebuah keabadian jiwa manusia dan keselamatan. Skolastik menggabungkan filosofi Aristoteles dengan pengajaran-pengajaran gereja, dan Aquinas mengisi sebuah aturan penting dalam latihan ini dengan menyusun hubungan antara akal dan iman.
Aquinas yang terkadang juga dengan Doktor Angelis “sangat tertarik padangan pendidikan, hal ini ditandai dengan kerja samanya bersama orang-orang dominic. Dalam sebuah cacatatan pada gagasan-gagasan edukasional dalam buku summa theological, dia juga menulis demagisto (seorang guru) yang mana menyetujuinya secara husus dengan filosofi pengajarannya. Sebagai contoh ia ia memunculkan pertanyaan tentang apakan seseorang dapat mengajar orang lain secara langsung, atau apakah aturan pengajaran adalah hanya milik tuhan. Bahwa hanya tuhan yang disebut gur karena keberadaannya yang mutlak. Jika seseorang mengajar bagaimanapun juga, itu hanyalah merupakan kepandaian (seperti yang ditunjukkan agustine pada waktu dulu) dan melalui sebuah simbol-simbol. Sebuah otak/akal manusia tidak dapat secara langsung berhubungan dengan akal yang lain, tapi itu bisa berhubungan secara tidak langsung. Itu sering dikatakan bahwa seorang dokter/tabib menyembuhkan badan, manakala hal yang sebenarnya itu merupakan penyembuhan alami yang datang dari dala, dan semua tabib/dokter bisa melakukan apa yang disebut sebagai praktek penyembuhan eksternal dan perangsang. Jadi begitu pula dengan pengajaran melakukan itu dengan berusaha memotifasi dan menunjukkan para pelajar melalui ayat-ayat, tanda-tanda, symbol dan tehnik penggalian diri. Dengan kata lain seorang guru hanya “menunjukkan” para pelajar pada pengetahuan dan pemahaman dengan tanda-tanda dan symbol. Namun pengajaran adalah sebuah cara untuk melayani manusia dan itu adalah bagian pekerjaan tuhan di dunia ini. Menghantarkan murid dalam ketidak pedulian dalam pencurahan adalah merupakan pengabdian yang terbesar seseorang yang bisa diberikan kepada orang lain.
Pusat pemikiran Aquinas adalah pemikiran Nasrani “bahwa setiap kita dilahirkan dengan jiwa yang abadi” meneruskan pemikiran idealisme Platonis sama baiknya dengan pemikiran relisme pengikut Aristoteles, dia berpendapat bahwa jiwa memiliki sebuah pengetahuan dalam yang hanya bisa dikeluarkan untuk menjelaskan kehidupan manusia lebih lengkap. Tujuan utama dari pendidikan, seperti Aquinas melihat itu, adalah kesempurnaan manusia dan reuni terakhir jiwa manusia dengan tuhan. Untuk mengembangkan ini, kita harus mengembangkan kapasitas akal dan melatih kesadaran (intelegen). Disinilah realisme Aquainas datang berdiri digaris terdepan, karena dia memegang realitas manusia bukan spiritual atau mental tapi juga psikal dan alami (kebiasaan). Dari sudut pandang tentang guru manusia, jalan bagi jiwa untuk bersandar melalui indera fisiknya, dan pendidikan harus menggunakan jalan ini untuk menyempurnakan pembelajaran. Petunjuk-petunjuk yang dapat menunjukkan pelajar pada pelajaran yang menghantarkan pada wujud yang benar dengan kemajuan dari yang rendah kebentuk yang lebih tinggi. Ini mengilustrasikan Aquinas sebagai aliran Aristoteles, karena pandangannya mencakup sebuah perkembangan kosmologi yang maju dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Atau pergerakan menuju kesempurnaan.
Pandangan/gagasan-gagasan Aquinas dalam pendidikan konsisten dengan posisi filosofisnya, demikian, pengetahuan dapat dicapai data indra dan itu bisa mengantarkan seseorang pada tuhan yang menyediakan/menyiapkan pelajar gagasan-gagasan dalam persepektif yang pokok/utama. Pada esensinya, gagasan-gagasannya ialah bahwa seseorang harus memulai dari pembelajaran materi ke pembelajaran bentuk (isi). Dia tidak setuju dengan Agustine yang mengatakan bahwa kita dapat mengetahui tuhan hanya melalui keimanan dan beberapa proses intuitif, lebih dari itu, Aquinas mempertahankan bahwa manusia dapat menggunakan akal mereka untuk mencapai tuhan melalui sebuah pembelajaran pada materi dunia. Dengan demikian, dia melihat ketidak konsistenan antara kebebaran-kebenaran wahyu yang diterima dalam iman dan kebenaran-kebenaran yang didapatkan melalui observasi dan pembelajaran yang rasional yang hati-hati. Aquinas percaya bahwa pendidikan yang pokok adalah seseorang bisa mengenal spiritual dan materi alamiyah pada individu-individu secara penuh, karena dia berfikir bahwa sisi spiritual lebih penting dan lebih tinggi, Aquinas dengan kuat menekankan pendidikan pada jiwa memberikan dukungan utama.
Dalam pandangan Aquinas pentara utama dalam pendidikan adalah keluarga, gereja, sedangkan Negara atau masyarakat yang diatur memerankan pihak ketiga yang lemah. Keluarga dan gereja mempunyai sebuah kewajiban untuk mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan prinsip moral yang baik dan hukum ketuhanan. Ibu adalah guru pertama sang anak karena anak mudah dicetak dan dibentuk. Itu adalah tugas ibu dalam membentuk moral anak. Gereja berdiri sebagai sumber pengetahuan pada ketuhanan, dan harus membentuk lahan untuk memmahami hukum-hukum tuhan. Negara harus merumuskan dan menyelenggarakan undang-undang dalam pendidikan, tapi itu tidak seharusnya membatasi keutamaan pendidikan di rumah dan di gereja.baik Ariestoteles dan Acquinas berpegangan pada doktrin realitas dualistik ini bisa dilihat dalam gagasan Ariestoteles  tentagn materi dan bentuk dan pandangan Aquinas pada sisi material dan sisi spiritual pada manusia,dualisme ini kemudian berlanjut dalam konflik yang besar antara sebuah pandangan ilmiah dan religious tentang realitas.

2.2.2        Perkembangan Realisme Modern
Salah satu pokok masalah pada realisme klasik ialah kegagalannya dalam mengembangkan sebuah metode yang cukup dalam pemikiran induktif.Sementara orang –orang klasik telah mampu mengembangkan tesis bahwa realitas pengetahuan dan nilai bisa/boleh diketahui dengan mempelajari sifat-sifat, mereka  masih terbelenggu dalam gaya berpikir deduktif yang esensial,mereka sering  memiliki kebenaran-kebenaran mereka saat memulai,tidak pernah meragukan bahwa itu adalah sebuah sebab utama atau sebuah penggerak yagn tak bisa digerakkan,realisme modern mengembangkan keluar percobaan-percobaan untuk mengoreksi beberapa kesalahan-kesalahan, dan itu bisa dikatakan usaha/percobaan-percobaan korektif  sebagaimana pada inti hari ini yang kita namai “revolusi ilmiah” yang menjalar dibudaya barat,semua filisuf sebuk berbicara denga usaha-usaha ini, mungkin dua pemikir realis yang termuka yaitu francis Bacon dan Jhon locke, terlibat dalam pengembangan metode-metode berpikir yang sistematis dan cara-cara meningkatkan pemahaman manusia.

a.      Francic Bacon (1561-1626)
Frncic Bacon bukan hanya seorang filosuf tapi juga politisi di istana Elizabet I dan Jamel I sejarah menunjukkan Francic Bacon tidak hanya berhasil dalam usaha-usaha politisnya ( dia dipindhakan dari kantornya karena tingkah lakunya yang memalukan),karena catatannya dalam perkembangan filosofis agak lebih impresif (mengesankan ),latihan-latihan filosofis Bacon adalah ambisius meskipun tidak ada kecondongan dalam bidangnya,dia mengklaim untuk mengambil semua pengetahuan seperti lapangan penyelidikannya yang hampir dia mencapai kesaksian bagi kejeniusannya.Barangkali,karyanya yang paling  terkenal adalah Novum Organum, yang mana didalamnya dia menentang logika pengikut Ariestoteles.    
Bacon menyerang  pengikut Aristoteles untuk memberi masukan terhadap perkembangan sains yang lesu, permasalan  dengan teologi adalah yang diawali dogmatis dan sebuah asumsi pendahuluan dan kemudian menarik keimpulan bagaimana juga, bacon menuduh  bahwa sains(ilmu) tidak dapat meneruskan cara/ jalan ini,karena sains harus memperhatikan inguiri( penyelidikan) yang murni dan sederhana,inguiri tidak dibatasi dengan dugaan-dugaan yang  dipertimbangkan,bacon berpedoman bahwa sains harus mulai dengan gaya ini dan harus mengembangkan metode-metode penyelidikan yang bisa diterima/ dipercaya,kita bisa bebas dari ketergantungan dengan kejadian pada bakat-bakat yang jarang dan mampu mengenmbangkan melalui kegunaan metode tersebut. Bacon meyakini “pengetahuan adalah kekuatan ” dan itu melalui pengakuan pengetahuan yang kita bisa sesuaikan secara kebih efektif dengan masalah-masalah dan kekuatan yang menyerang disetiap sisi untuk mernyempurnakan hal-hal ini, dia menemukan apa yang dia sebut metode induktif.
Bacon menentang  logika pengikut Aristoteles utamanya karena dia berfikir itu menghasilkan banyak kesalahan, utamnya mengenai fenomena sebagai contoh pemikiran regelius seperti Thomas Aquinas dan scholastic(orang-orang skolastik )yang menerima axiomatis(hal yang sudah jelas kebenarannya) mempercai tenteng Tuhan,bahwa dia ada,apa adanya,semua kegiatan dan sebagainya-dan kemudian mereka menyimpulkan semua macam hal tentang kagunaan kekuatan Tuhan, intervensinya dalam urusan-urusan manusia dan sebagainya. Pendekatan induktif bacon,yang mempertanyakan bahwa kita memulai dengan bagian yang bisa diamati dan kemudian memberikan alasan untuk pernyataan-pernyataan atau hokum-hukum yang general, menyerang balik  pendekatan skolastik, karena hal itu menuntut verifikasi(pembaharuan) bagian khusus sebelum pembenaran(pemberian hukum) dibuat sebagai contoh,setelah pengamatan bagian pada air yang membeku pada suhu 32 fahrenheit, kita mungkin kemudiaan menetapkan sebuah hukum umum bahwa air membeku pada suhu 32 fahrenheit. Hukum ini valid, bagaimanapun,hanya sepanjang air itu berlanjut membeku pada suhu ini. Jika, karena sebuah perubahan dalam keadaan atmosfir atau keadaan bumi, air tidak lebih lama membeku pada suhu 32 fahrenheit, kemudian kita akan diwajibkan untuk mengubah atau mengganti hukum kita melalui deduksi, seseorang mungkin juga mengubah keyakinan-keyakinan tapi ketika seseorang memulai dengan kebenaran-kebenaran yang mutlak, dia  sedikit perlu untuk mengubah mereka dari pada  ketika dia memulai dengan data yang netral.
Sebuah contoh historis melibatkan percekcokan antara Galileo dan gereja katolik mengenai posisi bumi dalam system tata surya. Gereja mempertahankan teori ptoleonik. Bahwa bumi merupakan pusat dari alam semesta. Sedangkan planet-plsnet yang lain, termasuk matahari, berputar mengelilinginya. Posisi ini didukung oleh diduksi untuk mengawali karena tuhan menciptakan bumi, adalah masuk akal.untuk menempatkannya di pusat, juga karena tuhan memilih menempatkan manusia di bumi. Bumi harus telah memiliki sebuah tempat  penting dalam rencana penciptaan. Dan ini memberikan berat yang bertambah akan pentingnya bumi menjadi tempa sentral. Cerita dalam bible(injil) tentang jesus melawan sebuah pertempuran yang sulit dan meminta tuhan untuk membuat matahari masih tampak untuk memberikan lebih dari dukungan pada posisi ini. Tapi Galileo menentang karena teori Copernicus yang mengatakan mata hari, bukan bumi sebagai pusat dari alam semesta. Posisi dari necolas Copernicus(seperti berikutnya dalam buku the revolution of the heavenly bodies) ditetang oleh gereja karena itu meremehkan bumi dan rencana tuhan. Dan itu menentang kejujuran pada wahyu.galelio menggunakan sebuah teleskop untuk memberikan bukti empiris terhadap posisi Copernicus. Dan ini meningkatkan kemerahan gereja. Hal ini di laporkan bahwa seorang Jesuit yang telah diundang dalam pembelajaran Galileo untuk melihat melalui  teleskop sebagai bukti menganggap  bahwa setan meletakkan benda-benda tersebut disana baginya untuk dilihat,ofisial gereja menuntut Galileo untuk menyangkal posisinya karena karyanya selanjutnya diperkuat oleh seluruh atau bagian oleh para ilmuan seperti Johanner Kepler,Tycho Brahe,dan Sir Isaac Newton.
Karena pendekatan induktif atau ilmiah tak bisa menutupi banyak kesalahan,Bacon mendesak/mendorong kita menguji ulang/kembali penerimaan pikiran-pikiran kita pada jenis-jenis “berhala-berhala”  yang mana sebelum kita membungkuk  dan menutupi pikiran kita,berhala ini, kata Bacon,utamanya ada 4.Ada dewa den,untuk hal-hal yang kita percaya karena pengalaman kita yang terbatas,jika,sebagai contoh,seorang individu memiliki beberapa pengalaman-pengalaman buruk dengan/yang memiliki kumis adalah jelek,sebuah kasus yang jelas pada generalisasi yang salah.Berhala yang lain adalah berhala rumpun untuk kita yang  berniat untuk mempercayai hal-hal yang karena kebanyakan orang mempercayai mereka,ada sejumlah penyelidikan-penyelidikan untuk menunjukkan bahwa banyak orang akan mengubah pendapat mereka untuk mencocokkan dengan mereka yang mayoritas.berhala yang lain bahwa Bacon mempercayai gangguan dengan pikiran kita yaitu apa yang kita namakan berhala market place. Berhala ini berkaitan bahasa,karena Bacon meyakini bahwa kata-kata sering dipakai dalam cara-cara yang melindungi/mencegah pemahaman.contohnya kata-kata seperti “liberal” dan “konservatif”bisa memiliki sedikit pengertian ketika diaplikasikan untuk orang  Karena seseorang dapat menjadi liberal dalam sebuah isu,konservatif pada hal yang lain.Bacon mendasarkan berhala yang terakhir sebagai berhala teater.Ini adalah berhala pada agama-agama kita dan filosofi-filosofi yang bisa mencegah kita dari melihat dunia secara obyektif.Dia menghendaki agar sebuah rumah tangga pada pikiran dimana kita melepaskan diri gagasan-gagasan yang mati di masa lalu dan melalui lagi dengan menggunakan metode induksi.
Esensinya,induksi merupakan logika untuk sampai pada generalisasi dalam landasan  observasi sifat-sifat yang sistematis.kebenaran umum pada gagasan ini bisa ditemukan dalam karya Ariestoteles tidak pernah mengembangkannya kedalam sebuah system yang lengkap.Menurut Bacon,Induksi melibatkan kumpulan data tentang sifat, tapi itu bukanlah hanya sebuah katalog  nomor dat,.data harus diuji,dan dimana perbedaan-perbedaan didapat, beberapa darinya harus dibuang dengan catatan,bukti-bukti  harus diproses atau ditafsirkan pada waktu yang bersamaan,jika metode induksi bisa berkembang dengan baik dan diaplikasikan secara teliti,itu akan menguntungkan kita ke tingkat yang mana itu akan memberikan kita control yang banyak terhadap dunia luar dengan rahasia-rahasia alam yang tidak tertutup.

b.      JHON LOCKE (1632-1704)
Mengikuti apa-apa yagn jadi pijakan Bacon,Jhon locke  berusaha menerangkan bagaimana kitra mengembangkan  pengetahuan,"dia berusaha untuk membebaskan tanah dari berbagai sampah kotoran”sebagai latihan bentuk filosofis,yang mengganggu pencapaian pengetahuan manusia, dia mengusahakan untuk memberikan pemikiran pada apa yang Bacon aggap sebagai “berhala”.
Locke dilahirkan di Inggris,anak seorang pengacara kota dia di didik  di sekolah west minister dan Christ churh college di oxfard,dimana dia kemudian menjadi pengikutnya pendidikannya adalah klasikal dan skolastik.nantinya,dia berpaling dari tradisinya,menyerang akar-akar pemikiran Ariestoteles dan ajaran skolasrtiknya yagn bertengger pada perselisihan-perselisihan yang mana menurutnya agak mempertengkarkan dan menyombongkan.
Masukan-masukan Locke ke dalam realisme berupa  penyelidikan-penyeledikanya terhadap keberdan dan kepastian pengetahuan manusia,dia menemukan keaslian gagasan objek pemikiran,dan apapun yang akan punya akal,saat lahir,akal/otak adalah bagai sebuah kertas putih kosong,yang diperoleh dari sumber-sumber yang bebas pada akal(otak) atau diperoleh sebagai sebuah refleksi dari pemgalaman dengan melalui cara refleksi dan sensasi.
Locke tidak sepenuhnya mengingatkan dirinya dengan  kealamian akan itu sendiri  tapi lebih memfokuskan pada bagaimana gagasan-gagasan atau pengetahuan dapat diperoleh oleh akal,objek ekternal yang ada,dia berpendapat dan mencirikannya dengan dua jenis kualitas: kualitas primer,seperti kesolidan,ukuran dan gerakan;dan kualitas sekunder,seperti warna,rasa,bau,suara,dan kualitas “indera” yang lain,kita bisa menyebut kualitas primer sebaik subyektif(tergantung langsung penglaman kita tentang mereka).
Locke seorang pemikir emperis,dia memperhatikan hal nyata dan praktis tapi dia tidak membenarkan idealisme yang abstrak pada akhirnya,apa yang kita tahu adalah apa  yang kita alami kita mengenal sifat-sifat pada benda,apakah itu sebagai materi sifat tambahan data yang ada dalam otak/akal  menjalankan  data pengalaman,dank arena mereka datang tanpanya,akal dapat menggabungkan dan menyusun pengalaman dan bisa menjadikan kesadaran pada gerakan-gerakannya.Dengan demikian,pengetahuan tergantung pada sensasi dan refleksi.
Mengenai kealamiahan  dunia eksternal yang obyektif, Locke hanya sedikit berbicara pada dasarnya,dia menerima keberadaannya,dan dia menerangkan keberadaan ini dengan “Ajaran substansil”,yaitu substansial atau realitas eksternal merupakan pendukung penting untuk pengalaman. Dengan demikian dia menduga sebuah realitas yang bebas merupakan sebuah perkembangan pada kesadaran akut tentang pengalaman. Berbeda dengan perkiraan tentang ide/gagasan atau esensi-esensi atau sebuah realitas materi yang bebas, lapangan penyelidikannya adalah pengalaman dan pengetahuan manusia.
Pandangan Locke dalam pendidikan, seperti yang diekspresikan dalam buku Beberapa Pemikiran Mengenai Pendidikan tidaklah teoritis sebagaimana halnya spekulasinya dalam epistomologi. Mereka merupakan gagasan praktis tentang kelakuan, kemalasan, penghargaan dan hukuman, dan keumuman yang lain dalam proses pendidikan. Pemikiran Locke mengantarkan kepada jenis pendidikan “kesopanan” yang dicatat kuat dalam pendidikan orang-orang Inggris. Seseorang mungkin berpendapat bahwa penolakan filosofi Locke bertengger diatas demokrasi, gagasan-gagasan edukatifnya mengatarkan mereka sendiri untuk menjadi seorang kaum atas (bangsawan)

2.2.3        Realisme Kontemporer
Untuk bagian yang paling penting, realisme kontemporer telah memelihara perkembangan hal-hal yang paling kuat sekitar tentang sain dan permasalahan sain pada sebuah alam filosofis. Pergerakan ini terjadi paling banyak pada abad ke 20 dan telah dihubungkan dengan perkembangan sekolah-sekolah baru tentang pemikiran seperti  positivisme logis, dan analisis linguistic. Karean, dengan perkembangan ini telah menjadi sebuah kelanjutan pada dasar tesis kebebasan.
Dua figure yang terkenal dalam realisme kontemporer adalah Alfred North Withehead dna Bertrand Russel. Kedua orang ini mempunyai banyak kesamaan, termasuk keduanya sama-sama orang inggris dan berkolaborasi dalam tulisan matematis. Pada dasarnya, keduanya dating untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi terkenal di Amerika, dan mereka tertarik untuk menulis tentang pendidikan. Dengan semua persamaan ini, mereka masuk ke dalam keunikan petunjuk-petunjuk filosofis bgai mereka masing-masing. Arah petunjuk Whitehead adalah hamper seluruhnya platonis, dalam pencariannya tentang bentuk-bentuk universal. Russel mengarah pada hitungan dan pembuktian matematis, sebagai dasar generalisasi filosofis.

a.      Alfred North Whitehead (1861-1947)
Mungkin, satu hal yang paling bermakna bagi filosofis yang kreatif lakukan adalah membawa rekonsialisasi cara-cara yang menentang pemikiran. Aquinas melakukan ini ketika dia mendamaikan aristotelianisme dan Kristen. Kant melakukan ini dalam mencoba mendamaikan sain dan nilai-nilai tradisional. Alfred North Whitehead berusaha menemukan ini degan usaha memadukan beberapa aspek-aspek idelaisme dengan realisme yang dekat dengan pendidikan dasar-dasar filosofis pada sain modern.
 Whitehead masuk kedalam filsafat melalui matematika. Dia mengarang bersama Bertrand Russel sebuah karya yang berjudul Principia Mathematica. Dia sudah berumur lebih dari 60th ketika dia beralih ke filsafat dengan sebuah basis masa yang penuh dengan filsafat di Universitas Harvard. Sebuah risalah filsafatnya yang paling mengemuka adalah sain dan dunia modern dan beberpa pernyataan pokoknya tentang pendidikan yang bisa ditemukan dalam filsafat Whitehead. Kareana dia berpedoman bahwa realitas adalah proses, apa yang seorang temukan dalam proses ini adalah entitas actual (wujud nyata) atau “kejadian” (hal atau obyek yang nyata), “prehensi” (hubungan rasional antara orang yang berpengalaman dan obyek-obyek yang dialami) dan “nexus” (memperluas urutan waktu “kejadian” dan “prehensi” yang mana bisa cocok satu sama lain denga keberadaanya yang terus menerus).
                Dalam banyak pengertian, whitehead berusaha untuk menyatukan pertentangan filsosofis sperti tinjauan subyektif dan obyektif dan dia percaya bahwa kita harus mengenali kedua aspek itu. Dia menolak sebuah realitas yang dibagi dalam dua cabang, karena mengenai sebuah individualitas pada sebuah benda dan hubungan atau aspek-aspek universal hal-hal itu sendiri. Apa yang dia tolak ialah terlalu jauhnya petunjuk pada kerusakan terhadap yang lainnya. Dia menolak pemisahan mental kedalam sebuah bidang itu sendiri. Karena kegiatan mental harus di pandang dlaam konteks pengalman. Dia lebih memilih realisme sebagai filsafat karena dia berpikiran itu membantu orang memperbaiki kelebihan pemikiran yang subyektif.
                Itu menampakan bahwa Whitehead menolak tesis yang bebas. Ini benar untuk mengukur bahwa dia tidak melihat realitas obyektif dan akal yang subyektif sebagai sesuatu yang benar-benar terpisah. Mereka ada bersama dalam sebuah kesatuan atau bentuk yang teratur. Karena, pada saat yang sama, kesatuan organic itu sendiri bisa dilihat sebgai sebuah system yang aktif, sebuah realitas yang mutlak untuk berbicara, yang menggerkakan menurut prinsip miliknya dalam sebuah proses. Filsafat sederhanaynya ialah sebuah pencarian bentuk di alam semesta. Seseorang tidak akan pernah mampu meraik bentuk dalam sebuah pandangan yang lengkap, meskipun dia mendapatkan aspek-aspek darinya secara mutlak, alam semesta benar-benar memiliki rasionalitas untuk itu dan bukanlah sebuah kewenangan.
                Kita mungkin mengatakan bahwa Whitehead mengikuti langkah-langkah aristoteles secara mantap, karena itu berhubungan bahwa bentuk(pattern) dalam istilah Whitehead sama dengan bentuk (form). Dia juga mengikuti aristoteles dalam memasukkan sifat-sifat ke dalam bentuk yang tajam, maka dia diperselisihkan karena dia berpedoman bahwa sifat dari kejadian-kejadian yang harus digambarkan dalam istilah-istilah pada proses yang tak berawal dan berakhir.
                Ini membawa kita pada sebuah pertimbangan tentang pandangan Whitehead dalam pendidikan. Menurutnya, hal yang penting yang harus dipelajari, dalam pengertian ini, kita bisa mengatakan dia seorang platonis. Bagaiamanapun dia tidak mau menyerah dalam mendorong bahwa pendidikan diperhatikan dengan “gagasan” yang hidup, gagasan menghubungkan dengan pengalaman dari yang belajar (pelajar), ide yang berguna dan tepat pada wujud yang tersambung. Dia mengingatkan untuk menentang ide-ide yang lamban, sederhananya karena itu berasal dari masa lalu. Ini menunjukkan orientasi organisnya bahwa pendidikan harus menampakkan kita untuk memasuki aliran pada existensi, yaitu proses bentuk-bentuk pada realitas.
b.      Bertrand Russell (1872-1970)
Lahir di Wales dalam lingkungan keluarga yang ekonominya mapan. Dia memperoleh gelar sarjananya di Universitas Cambridge dalam jurusan filsafat dan matematika. Salah seorang yang memiliki otak diatas rata-rata pada abad ke 20, Russell mempunyai pengaruh baik sebagai penulis dan guru. Beberapa dari bukunya adalah Our Knowledge Of External World, Religion and Science, dan karya terkenalnya yang dikarang bersama Whitehead yaitu Principia Mathematica (1910-1913). Dalam pendidikan dia menulis Education and The Social Order dan Education and Modern World. Dia mengajar di Cambridge, University of Chicago dan University of California.
                Russell adalah seorang tokoh yang controversial. Selama perang dunia ke 1, dia dipenjarakan karena kegiatan-kegiatan perdamaian. Kebenciannya atas moralitas para juara, khususnya pandangannya dalam seks dan pernikahan, sering mengantarkannya kedalam konflik dengan teman sebayanya yang berwarga Inggris. Pada tahun 1960an dia ada di pusat pergerakan “Larang Bom” dan menentang perang anti Vietnam di inggris dan eropa.
                Dalam banyak pandangan Russell adalah seorang maverick (organisasi yang tidak konvensional). Dimana Whitehead menyimpulkan bahwa alam semesta dicirikan dengan bentuk, begitu juga Russell. Tapi Russell merasa bahwa bentuk atau pola ini bisa dibuktikan dengan penelitian analisa matematis. Ada sebuah keharusan yang dipegang bahwa untuk menggabungkan logika dan matematika dengan begitu bentuk bisa dilihat baik secara verbal dan matematis.
                Pada dasarnya, dia berpedoman bahwa aturan filsafat baik analitis dan sintetits; yaitu itu harus bisa di kritik dalam tahap analisisnya dengan mennunjukkan buah pikiran logika yang keliru dan kesalahan-kesalahan dalam sistem-sistem terdahulu, dan itu seharusnya bisa membangun dalam tahap sintetisnya dengan menawarkan hiphotesis tentang alam yang ada di alam semesta yang dianalisis secara penuh. Itu sebabnya berdasar atas sain itu sendiri, karena hanya sain yang bisa mempunyai klaim atas pengetahuan yang asli. Dari sudut lain, ktia bisa melihat ketaatan Russell terhadap ralisme dan apa yang kita sebut dengan tesis independen. Tidaklah banyak hasil dari sain-sain yang dia terima sebagai metodenya. Dengan menggunakan metode-metode ini dia berharap mampu sampai pada bangunan filsofisnya yang valid, bukan bangunan pada generalisasi yang luas, tapi cukup satu demi satu, detail dan bangunan yang bisa dibuktikan/tunjukan.
                Seorang bisa memperoleh dua bentuk data yang penting dalam ralitas yang bebas; data keras (hard ware) dan data yang lunak (soft ware). Data keras/ kasar berdasar pada bukti-bukti keadaan, bukti yang dapat menahan penelitian yang cermat pada refleksi dan tertinggal secara lengkap. Data yang lembut adalah semacam keyakinan-keyakinan, hal hal baik yang bisa dibuktikan atau ditolak dengan tingkatan-tingkatan kepastian. Tujuan yang ditetapkan Russell adalah untuk melandasi bangunan filosofisnya sebanyak mungkin pada sis keras yang bisa dibuktikan, sisi sain, tapi dia juga mengakui sis yang lunak. Dengan pedomannya ini, seharunya membuat kita lebih teliti untuk melampaui keumuman dan bahaya-bahaya kedekatannya dari pencapaian ketentuan-ketentuan yang salah.
                Dengan menggunakan sebuah pendekatan yang hati-hati dan tenang atau lebih terhadap sain, Russell mengharap kita mampu mulai memecahkan semacam masalah yang membingungkan seperti kemiskinan dan kesehatan. Dia berpikir pendidikan sebagai kunci ke dunia yang lebih baik. Jika kita hendak menggunakan pengetahuan yang ada dan metode-metode yang mampu diuji, maka melalui pendidikan kita mampu memberantas masalah-masalah seperti kemiskinan dna dengan demikian mengubah dunia. Russell bahkan berspekulasi bahwa andai saja itu dikerjakan dengan sebuah skala kecil, perubahan tersebut secara logis dapat diselesaikan dalam satu generasi.
                Untuk beberapa saat, Russell mencoba meletakkan beberapa ide/gagasan pendidikannya dengan bekerja pada sebuah sekolah yang dia danai yang di sebut dengan Bacon Hill, bagaimanapun juga, Radikalismenya menemui perlawanan, dan keingintahuanya sendiri pada akhirnya membawanya pada sebab-sebab dan perubahan yang lain. Meskipun usaha-usahanya dalam pendidikan di Bacon Hill bertermu dengan kesusksesan yang terbatas. Russell meneruskan hingga akhir khayatnya untuk mencoba membawa perubahan melalui pendidikan yang dianggap menguntungkan untuk kebaikan kemanusiaan.

2.2 Implikasi Filsafat Realisme dalam Pendidikan
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran realisme adalah:
1.      Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah  kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai  kenyataan (pluralisme);
2.      Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir
3.      Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta;            dan
4.      Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang.
Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.
Pendidikan dalam realisme memiliki keterkaitan erat  dengan pandangan John locke bahwa akan pikiran jiwa manusia tidak lain adalah tabula rasa, ruang kosong tak ubahnya kertas putih kemudian menerima impresi dari lingkungan. Oleh karena itu pendidikan  dipandang dibutuhkan  karena untuk membentuk  setiap individu agar  mereka menjadi sesuai  dengan apa yang dipandang baik. Dengan demikian, pendidikan dalam realisme kerap indentikkan sebagai upaya pelaksanaan psikologi behavioristik kedalam ruang pengajaran. (Wangsa Gandhi HW, Teguh. 2011: 143).
Behaviorisme dari kata behave yang berarti berperilaku dan isme berarti aliran. Behavorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi (gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah. Dalam melakukan penelitian, behavioris tidak mempelajari keadaan mental.
Jadi, karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap kejadian-kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilak seseorang, bukan pikiran, perasaan, ataupun kejadian internal lain dalam diri  orangtersebut. Fokus behaviorisme adalah respons terhadap berbagai tipe stimulus. Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah Ivan Pavlov dengan teorinya yang disebut classical conditioning, John B. Watson yang dijuluki behavioris S-R (Stimulus-Respons), Edward Thorndike (dengan teorinya Law of Efect), dan B.F. Skinner dengan teorinya yang disebut operant conditioning.
Dalam kaitannya dengan hakikat nilai, realisme menyatakan bahwa standar tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebijaksanaan yang telah teruji dalam kehidupan Pendidikan dalam pandangan realisme adalah proses perkembangan intelegensi, daya kraetif dan sosial individu yang mendorong pada terciptanya kesejahteraan umum. Pendidikan yang berdasarkan realisme konsisten dengan teori belajar S-R. Dengan demikian pendidikan juga dapat diartikan sebagai upaya pembentukan tingkah laku oleh lingkungan
Menurut alairan realisme  murid adalah yang mengalami inferiorisasi  berlebih sebab dia dipandang sama sekali tidak mengetahui apapun  kecuali apa-apa yang telah pendidikan berikan. Disini dalam pengajaran  setiap siswa akan subjek tidik tak berbeda dengan robot, ia mesti tunduk dan patuh setunduk-tunduknya untuk diprogram dan mengerti  materi-materi yang telah  di tetapkan sedemikian rupa.
Pada ujung pendidikan, realisme memiliki proyeksi  ketika manusia akan dibentuk  untuk hidup dalam nilai-nilai yang telah menjadi common sense  sehingga mereka mampu beradaptasi  dengan lingkungan-lingkungan yang ada. Sisi buruk model pendidikan dalam hal ini  cenderung banyak dikendalaikan.
Corak lain pendidikan realisme adalah tekanan-tekanan hidup yang terarah dalam pengaturan-pengaturan serta keteraturan yang bersifat mekanistik. Meskipun tidak semua pengaturan  yang bersifat mekanistik buruk, apa yang diterapkan oleh realisme  dalam ruang pendidikan  melahirkan berbagai hal kemudian menuai banyak kecaman sebab dinilai telah menjadi penyebab dehumanisasi (Wangsa Gandhi HW, Teguh. 2011: 143-144).
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut: (1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial; (2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan; (4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin,  peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; (5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.

Bab 3. KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Pada hakikatnya, pendidikan mencakup kegiatan  mendidik, mengajar dan melatih. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menstransformasi nilai-nilai yang dimaksud meliputi nilai-nilai religi, budaya sains dan teknologi, seni dan keterampilan. Namun, tanpa filsafat  pendidikan tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak tau apa yang harus dikerjakan.
Pendidikan dalam realisme memiliki keterkaitan erat  dengan pandangan John locke bahwa akan pikiran jiwa manusia tidak lain adalah tabula rasa, ruang kosong tak ubahnya kertas putih kemudian menerima impresi dari lingkungan. Oleh karena itu pendidikan  dipandang dibutuhkan  karena untuk membentuk  setiap individu agar  mereka menjadi sesuai  dengan apa yang dipandang baik. Dengan demikian, pendidikan dalam realisme kerap indentikkan sebagai upaya pelaksanaan psikologi behavioristik kedalam ruang pengajaran.
Tujuan pendidikan : penyesuaian hidup dan tanggung jawab social.  Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis;. Metode: Stimulua-Respon adalah metode pokok yang digunakan;. Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin,  peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; dan Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.

3.2 Saran
Seorang pendidik harus mempunyai bekal filsafat  dan memperkaya dengan teori-teori pembelajaran. Pendidikan dalam realisme kerap indentikkan sebagai upaya pelaksanaan psikologi behavioristik kedalam ruang pengajaran dan tekanan-tekanan hidup yang terarah dalam pengaturan-pengaturan serta keteraturan yang bersifat mekanistik. Sehingga diperlukan Paradigma baru pendidikan yang menarik dan memanfaatkan potensi siswa berdasarkan pengalaman adalah pembelajaran kontruktivisme.





DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. Asmoro. 2009. Filsafat umum. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.
Bernadib, Imam. 1976. Filsafat pendidikan. Yogyakarta. Karang Malang
Dewey. J (1964). Democracy in Education. Newyork: The Mc Millan Company.

Drijarkasa. 2011. Filsafat manusia.Yogyakarta. kanisius.

Gandhi HW, TW. 2011. Filsafat pendidikan mazhab-mazhab Filsafat pendidikan. Jojakarta. Ar-ruzzmedia.
Henderson, Stella  van Petten, 1959. Introduction to Philosophy of Education. Chicago: The University of Chicago Press.

J. Waluyo. 2007. Pengantar filsafat ilmu (buku Panduan mahasiswa). Salatiga. Widya Sari.
Mudyahardjo, R., (2001). Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Power, E. J. (1982). Philosophy of Education. NewJersey: Prentice Hall Inc.

Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat pendidikan. Bandung: Alfabeta.
----------------- (2004). Pengantar Pilsafat Pendidikan. Bandung: Alpabeta.


Bacaan Pendukung yang lain:

Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Bertens, K. 2001. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Bertens, K. 2001. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwidjono, Harun. 1998. Sari Sejarah Filsafat Barat  1. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Sumber-sumber internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar