Sabtu, 16 Juni 2012

Penggunaan Sejarah Lisan dalam Historiografi Indonesia



[1]

Oleh Erwiza Erman

(Peneliti di Pusat Penelitian Regional, LIPI)



1. Pendahuluan

Ketika penulis mengikuti sebuah workshop dan peluncuran buku sejarah lisan di Leiden pada bulan April 2002, seorang Indolog Belanda menyambut sengit penerbitan buku tersebut. Ia berkomentar bahwa proyek sejarah lisan yang dirancang oleh KITLV di Leiden adalah sia-sia, tak ada manfaat dan menghamburkan dana yang begitu besar. Tentu saja semua peserta workshop terhenyak. Alasannya adalah bahwa informasi yang diperoleh khususnya dari kesaksian Indo Belanda sudah diterbitkan dalam berbagai buku, sehingga tak ada tersisa lagi informasi yang akan digali mengenai masyarakat Indo-Belanda. Di tengah keterhenyakan peserta workshop, sebagai peserta Indonesia, penulis memberikan penjelasan khususnya sebagai pengguna pertama --meskipun masih illegal—hasil wawancara mereka terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan hubungan sosial  mandor yang Indo dengan para penambang Indonesia. Kritik peserta workshop ini nampaknya tidak membuahkan hasil nyata, karena Buku yang berjudul ‘Mondeling geshiedenis’ terbitan KITLV, Leiden tersebut kemudian kembali bermanfaat ketika proyek penelitian mengenai sejarah pembantu yang sedang dilakukan kini oleh salah seorang kolega penulis. Banyak informasi mengenai pandangan, sikap dan cara-cara di mana majikan yang Belanda totok atau Indo-Belanda memperlakukan para pembantunya, ditemukan bermanfaat untuk menganalisa hubungan pembantu dan majikan dalam dunia domestik yang sangat personal.

Paper ini akan melihat masalah penggunaan sejarah lisan dalam historiografi Indonesia. Kapan, dan sejauhmana penggunaan sejarah lisan sebagai sumber penulisan sejarah Indonesia digunakan, untuk apa dan mengapa diperlukan. Informasi jenis apa yang diharapkan dalam penggunaan sejarah lisan dan masalah-masalah apa saja yang muncul dalam pelaksanaan wawancara, bagaimana hubungan pewawancara dan yang diwawancarai, dan bagaimana cara-cara memberdayakan yang diwawancarai, sehingga muncul informasi-informasi yang lebih dalam dan rinci mengenai persoalan yang ditanyakan. Lalu bagaimana pula cara sejarawan membaca informasi yang diproduksi sumber-sumber lisan ini? Sebelum masuk ke persoalan-persoalan metodologis dan teknis mengenai penggunaan sumber-sumber lisan dan masalah-masalah yang muncul darinya, bagian pertama paper ini akan melihat perkembangan historiografi Indonesia dan masalah penggunaan sumber. Bagian kedua akan melihat historiografi sejarah lisan baik dalam konteks yang lebih umum dan lalu mencoba melihat perkembangannya di Indonesia. Bagian ketiga akan melihat penggunaan sumber-sumber lisan, dan masalah-masalah yang muncul.


2. Perkembangan Historiografi Indonesia dan Problematika Sumber

Arah baru perkembangan historiografi Indonesia sejak tahun 1970an dan 1980an bermula. Tema-tema bergeser dari sejarah orang-orang besar, tradisi besar ke sejarah orang-orang kecil atau rakyat biasa. Disertasi Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan Banten tahun 1888 dengan perspektif yang Indonesia sentris selain membawa perubahan dramatis terhadap pendekatan dan sumber-sumber yang digunakan, juga telah  memperoleh banyak pengikut, terutama dari para muridnya di universitas Gajahmada dan para sejarawan Indonesia yang dididik di Belanda dalam program kerjasama Indonesia Belanda.  Sejarah pedesaan dengan berbagai tema bermunculan, seperti gerakan petani, gerakan mesianis, peranan para bekel, tanam paksa, dan studi berbagai komoditi pertanian seperti lada, tembakau, kopi, untuk menyebut beberapa di antaranya, cukup memberikan variasi dan diversifikasi yang kaya mengenai sejarah pedesaan Indonesia, Jawa dan luar Jawa. Walaupun demikian, periodesasi yang dipilih cendrung periodesasi kolonial dengan penggunaan sumber-sumber Belanda yang cukup dominan, tetapi dengan pendekatan Indonesia sentris.

Kecendrungan menjadikan pedesaan sebagai objek penelitian juga dilakukan oleh para Indonesianis baik yang ada di Belanda, Australia, Amerika dan Jepang sendiri. Baik dalam rangka memberikan respon terhadap teori involusinya Geertz mengenai petani Jawa maupun reaksi terhadap pendekatan yang lebih sosiologis dari Jan Breman mengenai desa-desa di Jawa yang statis, yang jelas tema-tema seperti kehidupan masyarakat petani di perkebunan tebu oleh Robert Elson, kaitan pemetaan geografis Jawa, lingkungan, dengan produksi pertanian, dan penduduk, oleh van der Eng, konjunktur produksi tanaman pokok, perkembangan demografis dan ekonomi pedesaan, diversifikasi ekonomi pedesaan Jawa oleh Boomgaard, kaitan antara kemunculan elit dengan komersialisasi pertanian kopi di Sumatera Barat oleh Elizabeth Graves, kontrol dan mobilisasi petani masa pendudukan Jepang oleh Aiko Kurasawa, patut diakui sebagai arah baru yang kaya dalam perkembangan historiografi Indonesia di era tahun 1980an. Apa yang patut dicatat dari hasil-hasil penelitian mereka ini adalah tidak berlakunya involusi bagi seluruh petani Jawa, dan melumpuhkan generalisasi yang dibuat sosiolog Belanda mengenai masyarakat pedesaan Jawa yang tertutup dan statis sebelum kedatangan pemerintah kolonial Belanda.

Tema-tema lain seperti sejarah intelektual Islam dan perubahan sosial oleh Taufik Abdullah di Sumatera Barat tahun 1930an, juga menandai diversifikasi historiografi Indonesia di era tahun 1970an. Pengikutnya kalau boleh dikatakan demikian, sebagian besar juga telah melakukan berbagai studi perkembangan intelektual Islam di berbagai daerah. Disertasi Azumardi Azra mengenai jaringan  tokoh-tokoh gerakan modernis Islam di Sumatera Barat dengan dunia Arab, dan gerakan modernis Islam di Palembang oleh Jeroen Peter (Belanda) misalnya cukup memberikan pengayaan mengenai tema sejarah intelektual Islam Indonesia.
   
Dipelopori oleh A.B. Lapian, sejarah maritim mulai dikembangkan. Sejarah mengenai bajak laut, raja laut dan seterusnya kini sudah mengalami pergeseran yang lebih bervariatif dari sudut permasalahan dan wilayah. Studi tentang bajak laut kini sudah mulai mencakup kawasan Asia Tenggara dengan diterbitkannya buku Piracy in South East Asia Tenggara tahun 2005 oleh Institut Asia Tenggara di Singapura. Tema-tema juga mengalami variasi. Misalnya tema organisasi produksi nelayan di Jawa oleh Masyhuri, di Pekalongan oleh Pudjo Semedi, dan sekelompok sejarawan Semarang yang meneliti mengenai berbagai pelabuhan seperti perdagangan di pelabuhan Makassar oleh Edward Polinggomang, buruh pelabuhan Makassar oleh M.Rasyid A, pelabuhan Cilacap oleh Susanto Zuhdi, dan oleh sekelompok sejarawan dari Universitas Diponegoro, Semarang (Singgih, Agus Supriyono, Endang Susilowati dan Indrianto) telah dan sedang mempelajari peranan  Laut Jawa, pelabuhan Semarang, Banjarmasin, dan Surabaya. Dilihat dari tema, wilayah dan periodesasi, pergeseran sudah mulai terjadi, meskipun masih kecil, tidak hanya berfokus pada periode kolonial, akan tetapi juga melampaui batas regim. Sebuah studi longue duree masyarakat maritim, masyarakat nelayan dan masyarakat pelabuhan, sudah muncul.

Tema-tema lain seperti sejarah perburuhan baik buruh di sektor pertambangan[2], perkebunan, buruh perkotaan, dan buruh di perusahaan-perusahaan lain, studi tentang gender untuk menyebut beberapa di antaranya, mulai dikembangkan di Indonesia. Misalnya  proyek penelitian Urban Workers: Change and Continuity in Indonesia (1930-1965) yang sedang dalam proses penyelesaian akhir, kerjasama dengan Nederlands Instituut  voor Oorlog Documentatie (NIOD), Belanda. Fokus perhatian tidak hanya pada buruh di sektor formal, akan tetapi juga pada orang-orang yang bekerja di sektor informal seperti pembantu, dan tukang becak.[3] (Saptari 2005; Erwiza Erman 2005). Sayangnya dalam paper yang terbatas ini penulis tidak akan memetakan seluruh perkembangan historiografi Indonesia mutakhir secara rinci berdasarkan tema-tema, periodesasi, pendekatan yang digunakan serta sumber-sumber yang dipakai.

Persoalannya kemudian tidak hanya pada masalah bagaimana memperoleh sumber informasi baik tertulis maupun lisan, akan tetapi juga terletak pada bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan. Nampaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terhadap sumber informasi atau terhadap karya-karya sejarah yang sudah diterbitkan masih konvensional. Persoalan merumuskan pertanyaan juga menyangkut persoalan pendekatan atau metodologis. Pertanyaan-pertanyaan baru akan bisa muncul, jika para sejarawan juga berdialog dengan ilmuwan sosial yang lain. Sayangnya, kondisi seperti itu jarang terjadi di kalangan sejarawan, tidak hanya di Indonesia, akan tetapi juga di negeri Belanda. Dialog antar disiplin kurang berkembang. [4] Di dalam komunitas ilmuwan Belanda yang lebih luas –khususnya ilmuwan sosial—tetap ada pikiran bahwa sejarah terdiri dari pekerjaan meluruskan fakta, sejenis pekerjaan jurutulis tingkat tinggi. Kini di Indonesia, diskusi-diskusi mengenai ‘meluruskan sejarah’ sedang berkembang, khususnya sejak jatuhnya rezim Orde Baru dan bermulanya era reformasi. Meluruskan sejarah terutama dari kelompok yang kalah dan dirugikan pada masa peralihan politik Orde Lama ke Orde Baru, kini sedang berlangsung oleh kelompok tersebut dan juga menjadi debat-debat di kalangan sejarawan profesional sendiri yang ikut sebagai jurutulis tingkat tinggi dan yang tidak.

Terlepas dari problem meluruskan fakta sejarah atau semacam  pekerjaan jurutulis tingkat tinggi, tema-tema baru yang nampak dalam perkembangan historiografi Indonesia sejak akhir tahun 1980an dan 1990an menuntut informasi yang lebih bervariasi yang belum tentu dapat ditemukan dalam sumber-sumber tertulis. Penggunaan sumber-sumber lisan merupakan alternatif penting. Sebelum menjelaskan penggunaan sumber-sumber lisan dalam historiografi Indonesia umumnya dan problem yang dihadapi, uraian di bawah ini akan memfokuskan perhatian pada perkembangan historiografi sejarah lisan baik di luar dan di Indonesia sendiri.

2. Perkembangan Historiografi Sejarah Lisan
Perkembangan historiografi sejarah lisan tidak memperlihatkan sebuah garis yang linear. Di Eropa sampai abad ke 19, boleh dikatakan historiografi sejarah lisan, marginal. Para sejarawan profesional mendasarkan informasi pada arsip-arsip primer dan sumber-sumber dokumenter lainnya. Penggunaan dan validitas pembuktian informasi lisan baru muncul setelah abad ke-19 dan kemudian meningkat sejak Perang Dunia Kedua, seiring dengan meningkatnya teknologi rekaman melalui tape recorder. Waktu dan pola kebangkitan sejarah lisan ini tentu saja berbeda dari suatu negara dengan negara lain. Di Amerika Serikat, pada tahun 1948 kegiatan sejarah lisan dipelopori oleh Universitas Colombia, yang memfokuskan perhatian pada elite, sementara di Inggris dalam tahun 1950an dan 1960an, lebih tertarik merekam pengalaman ‘ordinary working people’. Pilihan subjek semacam ini tidak bisa dilepaskan dari komitmen politik negara itu. Proyek sejarah lisan di negara ini dipelopori oleh para sejarawan sosial yang melihat ‘history from below’. [5]

Meskipun kemunculan sejarah lisan dan pola-pola perkembangannya bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi ide-ide dan debat-debat tentangnya terbukti sangat kritis dalam membentuk pendekatan kontemporer untuk sejarah lisan dan terbukti juga sangat mempengaruhi para sejarawan sejarah lisan di berbagai belahan dunia. Di era 1970an, muncul kritik terhadap sejarah lisan mengenai keakuratan pembuktian sumber-sumber lisan. Mereka beragumen bahwa memori tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah yang akurat. Kritik-kritik semacam ini ditangkis oleh Paul Thompson dengan menerbitkan buku yang berjudul The Voice of the Past: Oral History yang menjadi buku standar untuk para sejarawan lisan di berbagai belahan dunia. Buku ini diterbitkan pada tahun 1978. Ia beragumen bahwa sejarah lisan telah membawa pergeseran dalam fokus dan membuka areal penelitian baru, dan juga menemukan informasi baru yang tak ada dalam sumber-sumber lisan. Sebagai seorang sejarawan sosialis Inggris, Thompson menghasilkan sebuah buku ‘The making of English Working Class’,[6] yang membahas tidak hanya masalah disiplin kerja, akan tetapi juga pengalaman-pengalaman buruh Inggris dan budaya mereka dengan informasi yang diperoleh dari wawancara. Buku ini kemudian menjadi buku pegangan bagi para peneliti sejarah buruh, karena membuka tabir mengenai pengalaman-pengalaman budaya yang memberikan referensi terhadap politik buruh di tempat kerja.

Di Amerika Serikat, beberapa sejarawan yang mendasarkan penelitiannya pada sumber-sumber lisan, menemukan bahwa sejarah lisan menjadi ‘alat yang kuat untuk  menganalisa dan mengevaluasi sifat dari proses memori sejarah. Artinya bagaimana orang mengartikan masa lalunya, bagaimana mereka menghubungkan pengalaman individu dan konteks sosialnya, bagaimana masa lalu menjadi bagian dari masa kini, dan bagaimana orang menggunakan sumber-sumber lisan untuk menginterpretasikan kehidupan mereka dan dunia yang mengitarinya.[7] Pendekatan-pendekatan baru dalam sejarah lisan ini disampaikan dalam sebuah seminar internasional pertama yang diadakan di Essex, Inggris pada tahun 1979, dan diterbitkannya sebuah jurnal internasional mengenai sejarah lisan pada tahun 1980. Sejarah sebagaimana selalu disitir oleh para sejarawan konvensional sebagai ‘sesuatu yang sebenarnya terjadi’ di sini mengalami transformasi. Penulisan sejarah dan pendekatan terhadap sejarah lisan bukan lagi semata-mata sebagai pekerjaan mencari keakuratan data, seperti tanggal, tempat dan sebagainya, akan tetapi yang penting juga adalah mencari peranan subjektivitas dalam sejarah, seperti pengertian-pengertian yang sadar dan tidak sadar mengenai pengalaman sebagaimana dihidupkan, dan diingat. Sejarah lisan juga memperlihatkan bagaimana pengaruh budaya publik dan ideologi atas memori individu atau memori kolektif yang bisa saja diungkapkan dalam bentuk diam dalam wawancara. Pendekatan-pendekatan semacam ini menandai perkembangan baru dalam sejarah lisan yang digagas oleh sejarawan Itali, Luisa Passerini.[8]  Alessandro Portelli yang juga sejarawan Itali memberikan argumentasi terhadap eksistensi penggunaan sejarah lisan yang tetap dikritik keakuratannya. Apa yang membuat sejarah lisan berbeda menurutnya adalah pada ‘orality, narrative form, subjectivity, the different credibility of memory’, dan juga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai yang semuanya itu lebih merupakan kekuatan, sumber informasi daripada memperlihatkan kelemahan dan problematikanya.[9]

Perkembangan historiografi sejarah lisan pada tahap berikutnya juga mengalami kritik dari segi pendekatan. Memori dari kelas buruh Turin di Italy yang direkam oleh Passerini juga mendapat kritik, terutama dari kelompok sejarawan yang bekerja di Centre for Contemporary Cultural Studies’ di Birmingham, Inggris. Meskipun Passerini mampu menganalisa pengalaman subjektif dari kelas buruh untuk ‘mengungkapkan dirinya’, tetapi ia tidak melihat bagaimana memori kelas buruh yang tertekan ini dipengaruhi oleh sejarah-sejarah dominan. Karena itu informasi yang diperoleh dari sumber-sumber lisan kelas buruh ini memerlukan intrepretasi yang kritis.[10] Memori-memori perorangan itu semestinya ditempatkan dalam proses yang lebih luas dari ‘produksi sosial dari memory’ atau memori perorangan juga harus ditempatkan dalam konteks ‘popular memory’. Karena itu ada kaitan erat antara kesaksian-kesaksian lisan yang diperoleh dari memori perorangan dan memori sosial.

Dilihat dari sudut pendekatan, perkembangan historiografi sejarah lisan kemudian menjadi semakin kompleks, karena dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan metodologis dan teoritis ilmu sosial seperti pendekatan post-strukturalis dan post-modernis. Perkembangan-perkembangan ini membawa perubahan dalam pendekatan sejarah lisan. Isu-isu di seputar hubungan-hubungan sejarah lisan dan interkoneksi antara ‘language, power and meaning’ didiskusikan.  Joan Sangster, sejarawan Kanada telah menjelaskan misalnya debat-debat feminis mengenai konstruksi sosial dari memori, dilema-dilema etik sejarah lisan, dilema-dilema teoritis yang dilakukan dengan pendekatan post-strukturalis dan post-modernis.[11] Tanpa dasar yang kuat, katanya, narasi-narasi lisan dalam konteks sosial dan materialnya, pemahaman mengenai bentuk narasi dan tentang representasi bisa jadi tak ada kaitan dengan kritik terhadap penindasan dan ketidaksamaan, misalnya di kalangan buruh dan antara buruh perempuan dan laki-laki. Disadari atau tidak, pendeknya semakin banyak kritik dan pendekatan-pendekatan baru dalam penggarapan sejarah lisan pada gilirannya semakin memerlukan pendekatan yang kompleks pula, interdisiplin. Pendekatan-pendekatan untuk melakukan wawancara dan menginterpretasikan hasil wawancara membutuhkan alat dari berbagai disiplin ilmu sosial lain, apakah itu dari studi-studi budaya, bahasa, antropologi dan studi-studi komunikasi atau karya-karya yang berkaitan, misalnya dalam mencari informasi dan menginterpretasikan hasil informasi lewat sejarah lisan, misalnya mengenai identitas, memori dan narasi perorangan.

Pertanyaannya kini adalah sejauhmana perkembangan historiografi sejarah lisan di Indonesia? Di Indonesia, proyek sejarah lisan baru dikembangkan di bawah koordinasi Arsip Nasional pada tahun 1970an. Mengikuti perkembangannya di Amerika, fokus perhatian sejarah lisan ini lebih pada kelompok elit; bekas menteri, para pemimpin partai politik, militer, dan para pemimpin PRRI/Permesta. Selain itu, periode pendudukan Jepang pada tahun 1980an, juga menjadi fokus perhatian. Persoalan-persoalan seperti Tonarigumi, Keibodan, Seinendan, Fujinkai dan Gyugun, menjadi fokus perhatian para peneliti sejarah lisan.[12] Ada usaha-usaha untuk melebarkan sayap sejarah lisan ke daerah-daerah, akan tetapi sejauhmana usaha-usaha itu dicapai, kurang diketahui. Sayangnya, penulis tidak memiliki informasi yang memadai sejak tahun 1988, ketika tidak lagi berkecimpung dalam proyek sejarah lisan ARNAS-RI, untuk mengetahui seberapa jauh pemilihan tema dan pendekatan-pendekatan metodologis terhadap sejarah lisan.

Perkembangan sejarah lisan akhir-akhir ini agaknya cukup menggembirakan, karena selain Arsip Nasional, ada berbagai organisasi sosial atau institusi yang mencoba mengembangkan sejarah lisan untuk berbagai tema. Tema yang kini banyak diminati misalnya tentang sejarah lisan kelompok korban PKI, dan mengenai romusha yang dilakukan oleh periset dari Yale University bekerja sama dengan beberapa peneliti di Yogyakarta, dan kelompok sejarawan di Makassar mengenai periode masa pendudukan Jepang. Selain itu ada lagi kelompok sejarawan yang tergabung dalam proyek Indonesian Across Orders yang didanai oleh Institut Perang dan Dokumentasi Belanda dengan berbagai tema, seperti simbolisme kota, buruh perkotaan, prostitusi, pembantu, dan tukang becak, penenun Yogyakarta, untuk menyebut beberapa di antaranya, yang pada dasarnya  memperlihatkan keberagaman tema dan kelompok dan kelas sosial.

Dilihat dari perkembangan historiografi Indonesia dan sekaligus historiografi sejarah lisan Indonesia, nampak ada pergeseran tema dari yang berfokus pada elit ke kelompok sosial kelas bawah. Dengan begitu, manusia tanpa sejarah atau “people without history” seperti diistilahkan oleh Eric Wolf [13] akan memiliki sejarahnya sendiri dan bukan lagi sebagai sebuah kelompok sosial yang memiliki ‘hidden history’. Sudah tidak diragukan lagi bahwa keberagaman tema dan fokus perhatian pada berbagai kelompok sosial tidak saja menandai arah baru dalam perkembangan historiografi Indonesia, juga menandai perubahan radikal dalam penggunaan sumber-sumber lisan. Sejauhmana kajian subaltern history atau sejarah kelompok bawah dari perspektif orang bawah diungkapkan dalam penulisan sejarah Indonesia, nampaknya masih jauh dari harapan, apalagi dibandingkan dengan tetangga sesama Asia, India.[14]   

Pertanyaan kini dapat diajukan adalah seberapa jauh pendekatan metodologis memberikan dasar terhadap pelaksanaan dan penggunaan sejarah lisan tersebut, belumlah diketahui. Bagian di bawah ini akan melihat penggunaan sejarah lisan.

3. Penggunaan Sejarah Lisan: Antara Objek dan Konteks
Sejarah lisan adalah salah satu sumber informasi bagi para sejarawan atau bagi para ilmuwan sosial lain yang menggunakan pendekatan sejarah untuk objek studinya. Pada saat ini sumber-sumber informasi lain selain sumber-sumber tertulis semakin beragam, seperti foto, film, peninggalan budaya materi (material culture), dapat dijadikan sumber informasi yang dapat melengkapi gambaran masa lalu lebih komprehensif. Foto dan film juga akan membantu menggali sejarah lisan lebih kaya, karena dapat membangkitkan memori individu, keluarga maupun komunitas dan mungkin sekali memori mengenai tempat, peristiwa dan sebagainya.

Sebagaimana dijelaskan dalam uraian terdahulu, bahwa perkembangan historiografi sejarah lisan pada skala internasional dan nasional telah memungkinkan kita tidak lagi semata-mata bergantung pada sumber-sumber tertulis.  dapat mengungkapkan pengalaman orang-orang yang disembunyikan dari sejarah. Pengalaman-pengalaman pribadi baik secara individu maupun keluarga dan komunitas mereka. Perkembangan historiografi Indonesia dan sekaligus perkembangan sejarah lisannya memang sudah mulai menyintuh pengalaman orang-orang yang tanpa sejarah ini. Yang penting juga adalah bahwa ada hubungan yang interaktif, tatap muka antara pewawancara dengan yang diwawancarai, suatu kesempatan yang jarang dan susah dicari.  

Kemajuan-kemajuan teknologi telah memungkinkan orang merekam sejarah dari komunitas, dan kelompok sosial manapun, baik kelompok elit maupun kalangan kelas bawah. Oleh karena sumber-sumber sejarah kelompok sosial kelas bawah ini tersembunyi dari sejarah ataupun kurang memiliki sumber-sumber tertulis, maka dengan sejarah lisan, pengalaman-pengalaman mereka dapat direkam. Karena itu, dalam beberapa kasus sejarah lisan bisa menjadi tulang punggung dari apa yang kita miliki sebagai bahan sumber. Dari pengalaman penulis meneliti sejarah sektor informal, tukang becak sekarang ini memperlihatkan bahwa sejarah lisan digunakan sebagai bahan pokok untuk menulis sejarah becak. Hal yang sama misalnya juga terjadi dengan kasus sejarah pembantu rumahtangga di Indonesia. Ranah domestik dalam sebuah rumahtangga apakah itu keluarga Belanda, Belanda Indo, Cina, Arab dan Indonesia baik periode kolonial, masa pendudukan Jepang dan kemerdekaan adalah ranah yang rahasia.

Sejumlah pertanyaan bisa diajukan, tidak hanya kepada pembantu atau tukang becak, akan tetapi juga kepada majikan atau tauke mereka. Bagaimana pembantu atau tukang becak direkrut, diatur ke dalam sebuah organisasi kerja, dan bagaimana pula disiplin kerja mereka, hubungan antara penarik dan pemilik becak, antara pembantu dengan majikan atau di kalangan pembantu atau penarik becak sendiri. Bagaimana pandangan tukang becak terhadap tauke atau sebaliknya, dan bagaimana pula pandangan mereka terhadap dirinya sendiri. Pendek kata, sejarawan bisa mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil mengenai pengalaman, sikap dan pandangan kelompok kelas bawah ini. Sebuah gambaran yang lebih rinci mengenai kelompok kelas bawah ini akan bisa diperoleh. Interaksi tatap muka semacam itu betul-betul tidak ada dari sumber-sumber tertulis. Karena itu, interaksi itu menawarkan kemungkinan untuk sejarawan lebih selektif dalam pengumpulan sumber-sumber informasi.

Sekurang-kurangnya ada dua hal yang nampak perlu dipertimbangkan sejarawan yang menggunakan sumber-sumber lisan ini. Pertama adalah sikap kritis, seperti halnya juga menghadapi sumber-sumber tertulis. Dalam beberapa kasus penggunaan sejarah lisan, nampak penyerapan informasi tanpa hati-hati dari sumber-sumber lisan. Sejarawan semestinya harus kritis menggunakan sumber-sumber lisan, mencek kebenaran sumber-sumber informasi yang diterima dengan sumber-sumber lain, termasuk dengan informan lain.  Selanjutnyam sejarawan juga tahu latar belakang pengkisah, fungsinya, atau tempatnya dalam sebuah famili, keluarga, komunitas, etnisitas, agama, laki-laki-perempuan, status di tempat kerja, organisasi sosial, organisasi politik, pemerintahan dan seterusnya, karena reproduksi memori yang disampaikan tidak bisa lepas dari latarbelakangnya.

Memori yang dituangkan ke dalam rekaman adalah sebuah proses yang kompleks dan selektif. Memori bukanlah sebuah proses tindakan mental yang sederhana dan bahkan kata-kata yang digunakan untuk menguraikan tindakan (mengakui, mengingat, dan mengucapkan kembali dan menjelaskan) memperlihatkan bahwa ‘memori’ dapat memasukkan apa saja mulai dari yang bersifat pribadi (private life) sampai ke yang bersifat publik. [15] Memori yang selektif bisa dilihat dari apa yang dikatakan dan yang tidak dikatakan, apa yang senang diungkapkan dan apa yang tidak senang diungkapkan atau disembunyikan, apa yang bisa diungkapkan hari ini, dan apa yang bisa diungkapkan pada hari lain. Penyeleksian dalam pengungkapan memori masa lalu itu juga memiliki politiknya sendiri, seperti dielaskan oleh Joanne Rappaport.[16] Kondisi semacam ini akan terlihat selama wawancara berlangsung. Sejarawan semestinya dapat membaca dengan kritis tentang hal ini. Biasanya tanda-tanda pengungkapan senang dan tidak senang misalnya dibantu dengan bahasa tubuh, dengan berbagai gerakan atau mimik dan tanda-tanda lain yang memperlihatkan sikap yang diwawancarai. Karena itu rekaman video yang berlangsung selama wawancara amat membantu menangkap suasana itu. Atau cara lain adalah dengan memberikan laporan keadaan respon yang diwawancarai baik pada waktu kontak-kontak pertama ataupun juga selama wawancara berlangsung, suasana rumah, keluarga dan lain-lain. Boleh jadi hal ini akan mempengaruhi yang diwawancarai untuk mengungkapkan pengalamannya dan pandangannya tentang sesuatu yang dialami.

, yakni menempatkan objek dalam konteks yang lebih luas. Kedua, adalah masalah pendekatan Ini juga merupakan permasalahan yang dihadapi sejarawan yang menggunakan sumber-sumber lisan dalam kasus tim penelitian kami. Informasi rinci yang diperoleh sejarawan bisa jadi merupakan kelemahan dan kekuatan. Kekuatannya memang terletak pada informasi yang detil. Kelemahannya adalah bahwa sejarawan akan terpuruk pada pengalaman individu yang detil, akan tetapi lupa pada konteks. Kondisi ini diibaratkan seperti mengetahui dengan rinci pohon-pohon dengan ranting, daun, bunga, buah dan seterusnya, akan tetapi lupa di hutan mana pohon itu tumbuh, berkembang dan mati. Agar tidak hilang di hutan belantara, maka jenis hutan harus diketahui. Interelasi dan interkoneksi antara objek, orang yang diwawancarai dengan konteks sosial-politik dan ekonomi yang lebih luas, baik dalam skop keluarga, tetangga, komunitas, lokal dan nasional, sepatutnya diperhatikan. Dengan begitu makna penulisan sejarah dari sumber-sumber lisan bisa dipetik.

4. Beberapa Catatan
Historiografi Indonesia mengalami perkembangan dari segi tema, wilayah dan periodesasi dan pendekatan. Mulai dari tema petani, pedesaan, lalu berkembang sejarah intelektual, masyarakat maritim, perkotaan, hubungan kerja di berbagai sektor ekonomi formal dan informal. Periodesasi tidak lagi semata-mata menitikberatkan pada sejarah kolonial, akan tetapi mulai melakukan pendekatan studi yang longue duree ala Braudel, dari periode kolonial sampai ke periode Orde Baru, dengan wilayah yang tidak lagi terkonsentrasi pada Jawa, akan tetapi sudah mulai merambah daerah luar Jawa.

Sementara itu, historiografi sejarah lisan juga mulai mengalami perkembangan, mula-mula dianggap marginal, kemudian setelah menerima berbagai kritik dari para sejarawan konvensional, masuk ke dalam arena yang penting sambil memperbaiki pendekatan dan sistem metodenya. Dalam kasus Indonesia, perkembangan historiografi sejarah lisan secara institusional dimulai dari Arsip Nasional, mula-mula dengan tema yang lebih elitis, dan kemudian tumbuh pusat-pusat kajian di luar instansi resmi dengan tema yang lebih bervariasi. Sejarah lisan dapat dianggap sebagai sejarah alternatif.

Penggunaan sejarah lisan nampaknya berjalan sejajar dengan perkembangan historiografi Indonesia dan historiografi sejarah lisan. Walaupun demikian, cara-cara di dalam mana sejarawan menggunakan sumber-sumber lisan, membaca memori yang sampai kepadanya masih menjadi problematis. Sikap kritis dan menempatkan objek (memori) dalam konteks yang lebih luas semestinya dipertimbangkan, agar sejarawan tidak terperosok ke dalam detil-detil yang tak bermakna.










[1] Paper disampaikan dalam workshop Sejarah Sejarah, Makassar, …(nanti Ibu cek lagi tgl dan tempatnya).
[2] Untuk sektor pertambangan, lihat Erwiza Erman, Pengusaha, koelie dan Penguasa; Sejarah Tambang Timah di Belitung, 185-1942. Jakarta: Sinar Harapan, 1995; Idem, Membaranya batubara; Konflik Kelas dan Etnik di tambang Batubara Ombilin, Sawahlunto, 1892-1996, Jakarta:Desantara, 2005.

[3] Ratna Saptari, “Sejarah Pembantu di Tiga Kota Indonesia 1930-1965”, Erwiza Erman, ‘Dinamika Politik Ekonomi Tukang Becak, 1930-1965”,  paper-paper ini dipresentasikan dalam workshop “Urban Workers, Change and Continuity in Indonesian History”,  Jakarta, Hotel Bumi Karsa, 23-24 Agustus 2005.

[4] Heather A, Sutherland, “Writing Indonesian History in the Netherlands; Rethinking the Past”, dalam BKI, 150-IV (1994).

[5] Uraian yang rinci mengenai perkembangan sejarah lisan dan debat-debat yang menyertainya, lihat Robert Perks and Alistair Thomson, The Oral History Reader, London and New York: Routledge, 1998:1-8.
[6] The Making of the English Working Class. London: Pelican Books/Penguin, 1963.

[7] M. Frisch, A Shared Authority; Essays on the Craft and Meaning of Oral and Public History, Albany, State University of New York Press, 1990: 188; Mengenai hubungan antara memori dan sejarah lihat misalnya A. Thompson, M.Frisch and P. Hamilton, ‘The memory and history debates: Some international Perspectives’ dalam Oral History, 1994, vol. 22 no.2, pp.33-43.

[8] Luisa Passerini, Fascism in Popular Memory: The Cultural Experience of the Turin Working Class, Cambridge: Cambridge University Press, 1987; ‘Work ideology and consensus under Italian fascism’ dalam Robert Perks and Alistair Thomson, The Oral History Reader,  London and New York: Routledge, 1998:53-62.

[9] A. Portelli, The Death of Luigi Trastulli and Other Stories: Form and Meaning in Oral History. Albany: State University of New York Press, 1991; ‘What makes oral history different’ dalam Robert Perks and Alistair Thomson, The Oral History Reader,  London and New York: Routledge, 1998: 63-75.
[10] Robert Perks and Alistair Thomson, The Oral History Reader,  London and New York: Routledge, 1998:4.
[11] Robert Perks and Alistair Thomson, The Oral History….p.4.
[12] JR. Chaniago (ed.), Di bawah Pendudukan Jepang, Jakarta: ARNAS-RI. 1985.

[13] E.R.Wolf, Europe and the People without History. Berkeley/Los Angeles/London: University of California Press, 1982.

[14] Subaltern history pada awalnya dikembangkan oleh sejarawan India pada penghujung tahun 1980an. Melalui fusi pendekatan Sejarah dan Antropologi, disebut juga sebagai sejarah alternatif, sebagai reaksi terhadap sejarah nasional India yang standard an ‘neo-imperialis’Ada sebelas jilid buku sejarah subaltern yang telah diterbitkan. Terlepas dari kritik yang diajukan terhadap pendekatan ini, yang jelas bahwa pengaruh sejarah subaltern juga sudah meluas, misalnya ke Amerika Latin. Untuk melihat uraian rinci mengenai fusi sejarah dan antropologi dalam proyek studi subaltern. Esei di bawah ini menjajaki perubahan-perubahan mertode, asumsi dan proposisi dalam studi Subaltern untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan kemungkinan dari sejarah antropologi ketika mode analisis digunakan untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai kolonialisme, resistensi dan kekuasaan. Lihat K Sivaramakrishnan, “Schools and Scholars: Situating the subaltern: History and Antropology in the Subaltern Studies Project”, dalam jurnal Historical Sociology vol. 8 no.4, December 1995: 395-429.
[15] James Fenress and Chris Wickham, Social Memory: New Perspectives on the Past,  Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1992: X-XI.
[16] Joanne Rappaport, The Politics of Memory; Native Historical Interpretation in the Colombian Andes, Durham dan London: Duke University Press, 1998.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar